Ekonomi Kreatif Mesin Pertumbuhan Baru
Saya selalu percaya bahwa ekonomi kreatif Indonesia bukan sedang kekurangan talenta. Yang sering kali kurang adalah cara kita melihatnya.
Kita ini sudah lama tahu bahwa kreativitas orang Indonesia luar biasa. Di berbagai daerah, dalam berbagai bentuk, dari kerajinan, fesyen, musik, film, game, animasi, sampai produk digital, semuanya ada. Tetapi kita sering berhenti di kalimat, “Potensinya besar.” Kita memuji potensinya, kita bangga pada kreativitasnya, tetapi terlalu sering tidak sungguh-sungguh membangunnya menjadi kekuatan ekonomi yang terstruktur.
Padahal, buat saya, ekonomi kreatif justru adalah salah satu untapped potential terbesar Indonesia.
Kalau saya sederhanakan, kita sudah terlalu lama bertumpu pada sumber daya alam sebagai kekayaan utama. Padahal sumber daya alam itu terbatas. Lalu kita bicara sumber daya manusia, dan benar jumlah kita besar. Tetapi ada satu sumber daya lain yang nyaris tidak berbatas selama manusianya masih ada dan kreativitasnya terus hidup, yaitu sumber daya kreativitas.
Dan Indonesia punya itu.
Karena itu saya melihat ekonomi kreatif bukan pelengkap, bukan sektor pinggiran, bukan tambahan kosmetik untuk ekonomi nasional. Ekonomi kreatif bisa menjadi new engine of growth. Thailand sudah melihat itu. Mereka sudah berani menempatkan ekonomi kreatif sebagai salah satu kontributor penting pertumbuhan ekonomi mereka. Maka pertanyaan saya sederhana: kalau Thailand bisa melihat itu, kenapa Indonesia tidak?
Bagi saya, jawaban besarnya adalah karena kita belum cukup serius membangun fondasinya.
Yang pertama adalah data. Kita harus tahu persis siapa pemainnya, ada di mana, bergerak di subsektor apa, dan kebutuhan nyatanya apa. Yang kedua adalah pemetaan peluang dan masalah. Yang ketiga adalah memaksa kerja sama lintas subsektor supaya ego sektoral hilang. Karena ekonomi kreatif tidak akan maju kalau masing-masing berjalan sendiri-sendiri.
Saya melihat salah satu masalah paling nyata di ekonomi kreatif kita adalah matchmaking yang belum terjadi secara sehat. Banyak sekali orang kreatif yang punya karya, tapi tidak tahu harus bertemu dengan siapa. Banyak sekali pihak yang butuh karya, butuh performer, butuh produk, butuh kolaborator, tetapi tidak tahu harus mencari ke mana. Jadi masalahnya kadang bukan talenta tidak ada. Talenta ada. Yang belum ada adalah jembatannya.
Saya kasih contoh yang sederhana. Ada pusat perbelanjaan atau pemilik properti yang ingin menghidupkan ruangnya dengan performer lokal. Mereka tidak mungkin terus-terusan membayar artis yang sudah besar karena secara biaya akan berat. Tapi ketika mereka mau mencari talenta lokal yang bagus dengan tarif yang lebih masuk akal, mereka tidak tahu harus ke mana. Di sisi lain, ada seniman atau musisi lokal yang siap tampil, tapi tidak tahu pintu masuknya. Bahkan ketika dua pihak ini bertemu pun, sering kali bahasa mereka berbeda. Sama-sama bicara bahasa Indonesia, tetapi bahasa korporat dan bahasa kreatif itu sering tidak nyambung.
Karena itu saya percaya negara harus hadir untuk menjodohkan. Harus ada basis data, harus ada platform, harus ada sistem yang mempertemukan kebutuhan dan pasokan secara lebih cerdas. Karena banyak sekali potensi ekonomi kreatif yang tidak tumbuh bukan karena kualitasnya buruk, tetapi karena tidak pernah dipertemukan dengan pasar yang tepat.
Hal yang sama juga berlaku ketika kita bicara tentang produk lokal. Saya sering mendengar pertanyaan: kenapa kita sulit menembus pasar internasional? Buat saya, pertanyaannya harus diluruskan dulu. Banyak kok produk dan kreator Indonesia yang sudah menembus pasar internasional. Bahkan banyak yang omzet terbesarnya justru datang dari luar negeri, bukan dari pasar domestik. Di sektor art toys, misalnya, ada kreator dari Bandung yang produknya diperebutkan di luar negeri. Di gaming, ada pengembang game Indonesia yang pasarnya justru global. Di collectibles, di aset digital, di berbagai sektor, pemain kita sudah ada.
Masalahnya sering bukan karena kita tidak bisa menembus luar negeri. Masalahnya adalah kita sendiri kadang belum cukup mengenali, belum cukup mengapresiasi, dan belum cukup membangun ekosistemnya di dalam negeri.
Saya sering bilang, cobalah sekali saja memakai produk lokal, lalu nilai dengan jujur. Jangan beli lokal hanya karena merasa wajib, tetapi lihat kualitasnya dengan fair. Karena banyak produk kita sesungguhnya sudah mencapai standar internasional. Sneakers, parfum, fesyen, aksesori, banyak yang kualitasnya sudah sangat baik. Indonesia bahkan sudah lama menjadi basis produksi merek-merek global. Artinya, know-how-nya ada. Keterampilannya ada. Yang sekarang mulai lahir adalah keberanian untuk mengeluarkan merek sendiri.
Di titik ini saya sangat sepakat dengan gagasan hilirisasi. Tapi hilirisasi jangan dipahami sempit hanya untuk sumber daya alam berat. Di ekonomi kreatif pun hilirisasi sangat relevan. Kuncinya adalah memahami value chain. Dari bahan baku sampai menjadi produk akhir, setiap tahap harus dipetakan. Di mana nilai tambah paling besar tercipta? Di titik mana kita selama ini justru melepas keuntungan? Di mana kita harus masuk? Dan di mana kita harus belajar dulu?
Saya tidak percaya bahwa hanya karena kita punya bahan baku, lalu kita harus memaksakan diri langsung lompat ke tahap paling ujung. Semua hal ada fase merangkaknya. Tetapi saya juga tidak setuju kalau kita terus berhenti di bahan mentah atau barang setengah jadi, sementara nilai tambah yang besar kita biarkan dinikmati pihak lain.
Dalam ekonomi kreatif, itu terlihat sangat jelas di soal IP.
Banyak orang bilang, “Saya mau bikin IP.” Tetapi IP bukan sekadar sesuatu yang dibuat lalu didaftarkan. IP tidak akan bernilai kalau tidak punya storytelling dan tidak punya komunitas. Nilai ekonomi terbesar dari IP justru lahir ketika publik merasa punya keterikatan emosional dengannya. Ketika ia relatable, ketika ada kebanggaan, ketika ada fanbase, ketika ada cerita yang hidup.
Karena itu saya melihat fenomena seperti Jumbo sangat penting. Buat saya, Jumbo bukan sekadar film animasi yang sukses. Ia adalah contoh bagaimana sebuah IP Indonesia mulai menunjukkan bentuk kekuatan ekonominya. Orang mungkin melihatnya hanya dari tiket bioskop. Padahal justru yang menarik adalah turunannya: komik, film, short series, merchandising, licensing, dan segala potensi ekonomi lain yang bisa lahir dari satu IP yang kuat.
Saya sangat mengapresiasi Jumbo karena ia berhasil membangun dua hal sekaligus: kebanggaan sebagai karya Indonesia dan kedekatan emosional dengan audiens, terutama anak-anak. Itu kombinasi yang luar biasa. Dan ketika saya melihat Jumbo hadir di Korea, rasa bangganya benar-benar terasa. Di situ saya merasa, ini bukan sekadar produk hiburan. Ini adalah bukti bahwa Indonesia bisa membangun IP yang punya kemungkinan menjadi evergreen.
Tetapi saya juga melihat bahwa kita belum maksimal. Kita belum melihat seluruh turunannya tumbuh secara konsisten. Belum semua official merchandise-nya hadir. Belum semua peluang ekonominya digarap. Dan itu tidak apa-apa, selama kita belajar. Karena yang penting adalah kita sekarang mulai melihat apa yang sebenarnya mungkin.
Hal yang sama saya lihat pada karya-karya lain. Ada film anak dan remaja, ada karya berbasis buku, ada science fiction, ada penggunaan teknologi seperti Unreal Engine yang bahkan membuat pihak luar penasaran dengan proses produksinya. Buat saya, ini semua menunjukkan bahwa kualitas dan keberanian eksperimen kita sudah ada. Yang perlu diperkuat adalah ekosistem yang membuat mereka tidak berhenti pada satu karya, tetapi tumbuh menjadi industri.
Bicara soal industri, saya juga selalu menekankan bahwa kita tidak boleh anti terhadap produk luar, merek luar, atau investasi luar. Kita justru harus belajar. Saya percaya membeli produk luar pun bisa menjadi pelajaran kalau kita melakukannya dengan sadar: kita belajar kualitasnya, storytelling-nya, desainnya, distribusinya, cara mereka membangun merek. Menutup diri tidak akan membuat kita maju. Tetapi membiarkan diri hanya menjadi pasar, itu juga bukan pilihan.
Karena itu posisi saya jelas: kalau ada merek besar mau masuk ke Indonesia, saya tidak otomatis melihat itu sebagai ancaman. Saya melihat itu sebagai peluang, asalkan kita cerdas mengaturnya. Silakan masuk, tetapi jangan hanya menjadikan Indonesia pasar. Kalau mau masuk, tunjukkan peta jalan untuk melatih talenta Indonesia, membuka akses pengetahuan, memberi transfer keterampilan, dan memungkinkan anak-anak kita naik kelas sampai suatu hari memimpin. Kalau hanya menjual dan mengambil pasar, itu tidak cukup.
Saya justru ingin Indonesia memakai pasar besar yang kita miliki sebagai alat tawar. Karena ketika banyak pihak datang ke sini, itu berarti kita punya daya tarik. Dan daya tarik itu harus dipakai untuk membangun kapasitas nasional, bukan sekadar membuka pintu lalu puas menjadi konsumen.
Hal lain yang penting bagi saya adalah soal skala dan konsistensi. Dalam banyak produk kreatif, terutama handicraft, kita sering berhasil memikat pasar luar negeri. Orang terkagum-kagum pada karya kita. Tetapi ketika pesanan besar datang, kita sering belum siap memenuhi volume dan menjaga kualitas secara konsisten. Ini masalah yang nyata, tetapi bukan sesuatu yang unik Indonesia. Negara lain juga pernah mengalaminya. Artinya, ini bukan alasan untuk menyerah. Ini justru alasan untuk beres-beres.
Karena itu saya melihat gagasan seperti koperasi menjadi penting. Bukan dalam arti romantik semata, tetapi sebagai instrumen untuk mengumpulkan produsen kecil agar punya kekuatan produksi yang lebih stabil. Kalau satu perajin tidak sanggup sendiri, maka beberapa harus dikonsolidasikan. Kalau satu desa punya kekuatan kerajinan tertentu, maka harus ada sistem yang bisa mengangkatnya bersama-sama. Karena di ekonomi kreatif, banyak sekali nilai tambah lahir dari produk yang personal, khas, dan tidak massal seperti barang pabrik biasa. Tetapi tetap, kualitas dan kapasitas harus dikelola dengan serius.
Saya juga belajar banyak ketika masuk ke pemerintahan. Terus terang, saya tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa saya akan masuk ke birokrasi. Bahkan ketika tawaran itu datang, reaksi pertama saya adalah: ini serius atau tidak? Tetapi saya mengambilnya karena saya merasa negara tidak selalu memanggil. Dan ketika negara memanggil untuk membantu, maka saya merasa harus menjawab.
Tentu saja, masuk ke birokrasi tidak mudah. Sangat tidak mudah. Banyak orang dari luar melihat birokrasi seolah hanya lambat, kaku, dan membuat frustrasi. Saya mengerti itu, dan saya juga mengalaminya. Tetapi saya memegang satu prinsip: kita tidak bisa membenci atau menolak sebuah sistem kalau kita tidak memahami alasan mengapa sistem itu terbentuk seperti sekarang. Saya selalu mencoba mencari reason behind it. Ketika kita paham alasannya, kita bisa mulai memperbaikinya.
Buat saya, salah satu tantangan terbesar justru adalah menjadi penerjemah. Dunia swasta tidak sepenuhnya memahami cara berpikir birokrasi. Birokrasi juga tidak sepenuhnya memahami logika swasta. Dua-duanya sebenarnya ingin Indonesia maju, tetapi bahasa, ritme, dan refleks mereka berbeda. Jadi, saya sering merasa pekerjaan saya bukan hanya membuat program, tetapi menerjemahkan dua dunia yang sama-sama baik niatnya agar bisa bergerak bersama.
Saya sering melihat ada kebiasaan-kebiasaan lama yang dijalankan hanya karena “memang dari dulu begitu”, padahal ketika dicari dasar aturannya, ternyata tidak ada. Di situ saya belajar bahwa banyak hal yang harus ditantang dengan pertanyaan sederhana: kenapa? Kenapa ini dilakukan? Apa dasar aturannya? Masih relevan atau tidak? Kalau tidak relevan, ayo kita ubah. Karena peraturan dibuat oleh manusia. Ia bukan sesuatu yang sakral sampai tidak boleh disentuh.
Bagi saya, perubahan memang melelahkan. Mengubah manusia lebih sulit daripada mengubah mesin. Tapi justru karena yang kita hadapi manusia, maka ketika satu perubahan kecil berhasil, kepuasannya jauh lebih besar. Saya percaya banyak orang di dalam birokrasi, terutama yang muda, sebenarnya sangat ingin membuat perbedaan. Mereka hanya butuh kesempatan, butuh panggung, dan butuh seseorang yang mau bilang: ayo kita coba.
Saya juga percaya bahwa 5 tahun itu sangat singkat. Karena itu yang paling penting adalah meletakkan fondasi yang benar. Fondasi cara berpikir, fondasi cara kerja, fondasi kolaborasi, fondasi keberanian untuk mencoba. Kalau fondasinya kuat, orang-orang setelah kita bisa berlari lebih cepat.
Dan kepada anak-anak muda atau para pelaku ekonomi kreatif, pesan saya sederhana. Pertama, jangan menyerah. Jangan kalah sebelum berperang hanya karena sibuk mencari alasan kenapa orang lain bisa dan kita tidak. Kedua, jangan berusaha menjadi orang lain. Orang lain bisa menjadi inspirasi, tetapi senjata paling kuat kita tetaplah keaslian kita sendiri. Ketiga, jangan menjadi manusia yang transaksional. Bangun relasi yang nyata dengan pelanggan, dengan komunitas, dengan orang-orang yang merasakan manfaat dari karya kita. Karena ikatan emosional itulah yang menjadi nilai paling besar.
Saya percaya orang Indonesia itu pintar-pintar. Mata kita sebenarnya sudah terbuka. Yang kita butuhkan sekarang adalah keberanian untuk melihat bahwa peluang itu benar-benar ada, lalu bersedia membangunnya dengan serius. Ekonomi kreatif Indonesia bukan soal mimpi kosong. Ia sudah ada di depan mata. Tinggal apakah kita mau berhenti memujinya sebagai potensi, lalu mulai mengerjakannya sebagai masa depan.
Disarikan dari wawancara eksklusive