Bangsa Ini Tidak Kekurangan Orang Baik
Ada satu hal yang selalu membuat saya percaya pada masa depan Indonesia: bangsa ini tidak kehabisan orang baik.
Saya melihatnya bukan dari teori, bukan dari slogan, dan bukan dari kalimat-kalimat besar. Saya melihatnya setiap hari, dari orang-orang yang mungkin tidak pernah tampil di layar televisi, tidak pernah diwawancarai, bahkan tidak dikenal siapa pun. Mereka hanya membuka aplikasi, menyumbang Rp1.000, Rp2.000, Rp5.000, lalu menyisipkan doa. Ada yang mendoakan pasien yang sedang berjuang sembuh, ada yang mendoakan keluarganya, ada yang mendoakan rezeki, pendidikan, jodoh, atau agar utangnya lunas. Buat saya, itu bukan sekadar transaksi. Itu adalah denyut harapan.
Bahkan salah satu fakta yang paling indah yang kami lihat di Kitabisa adalah ini: jumlah transaksi dan traffic paling tinggi justru terjadi setelah subuh. Seolah-olah banyak orang ingin memulai harinya bukan dengan marah-marah, bukan dengan kebisingan, tetapi dengan berbuat baik. Buat saya, itu sangat menyentuh. Karena artinya, ketika hari baru dimulai, masih banyak orang Indonesia yang memilih untuk membuka hidupnya dengan kepedulian kepada sesama.
Itulah mengapa saya selalu merasa bahwa jika ingin memahami Indonesia, jangan hanya lihat headline. Lihat juga doa-doa orang Indonesia. Lihat bagaimana orang yang sedang berjuang pun masih mau membantu orang lain. Lihat bagaimana mereka tetap peduli meski hidupnya sendiri mungkin tidak mudah. Di situlah saya percaya bahwa aset sosial terbesar bangsa ini bukan hanya sumber daya alam, bukan hanya pasar, bukan hanya bonus demografi. Aset terbesarnya adalah manusia-manusia yang ringan tangan, yang masih punya rasa gotong royong, dan yang belum kehilangan nurani.
Selama tujuh tahun berturut-turut, Indonesia disebut sebagai negara paling dermawan di dunia dalam World Giving Index. Buat saya, itu bukan kebetulan. Itu adalah cermin bahwa spirit kebaikan, kedermawanan, dan gotong royong masih hidup di tengah masyarakat kita. Kita masih menjunjung tinggi nilai-nilai itu melalui donasi, relawan, dan kepedulian pada orang yang bahkan tidak kita kenal.
Tentu, kita tidak boleh berhenti pada rasa bangga. Karena kedermawanan juga harus terus dinaikkan kelasnya. Saya percaya, masyarakat Indonesia bukan hanya mau membantu, tetapi juga ingin membantu dengan cara yang tepat, terukur, dan berdampak. Di situlah peran platform seperti Kitabisa menjadi penting: bukan sekadar menjadi tempat orang memberi, tetapi menjadi jembatan agar niat baik itu sampai ke pihak yang benar-benar membutuhkan, terverifikasi, transparan, dan bisa dipertanggungjawabkan.
Ketika memulai Kitabisa pada 2013, saya tidak membayangkan akan tumbuh seperti sekarang. Waktu itu saya masih 22 tahun. Saya dan tim bahkan tidak memulai dengan bayangan bahwa platform ini akan identik dengan isu sosial dan medis seperti sekarang. Awalnya, kami justru membayangkan crowdfunding untuk proyek-proyek kreatif, seperti film, produk, atau inovasi. Tetapi kami mendapat reality check dari masyarakat. Yang datang justru kebutuhan-kebutuhan sosial, terutama kebutuhan medis.
Lalu kami belajar. Kami belajar bahwa kebutuhan itu nyata. Kami belajar bahwa kami tidak boleh malas memverifikasi. Kami belajar bahwa kalau banyak keluarga datang dengan harapan yang sama, berarti ada panggilan yang harus dijawab. Dari situ, Kitabisa pelan-pelan bertransformasi menjadi platform yang akrab dengan rumah sakit, pasien, keluarga prasejahtera, dan berbagai perjuangan hidup yang sangat nyata.
Dan saya harus jujur, pengalaman-pengalaman itulah yang mengubah cara saya memandang hidup. Ada banyak kisah yang sangat membekas. Salah satunya adalah ketika melihat orang tua yang sedang berjuang untuk anaknya, lalu menyadari bahwa ternyata ada orang-orang yang tidak mereka kenal yang mau membantu. Bagi saya, momen itu sangat spiritual. Perjuangan untuk sembuh mungkin banyak. Tapi kesadaran bahwa kita tidak sendirian dalam hidup, bahwa ada tangan-tangan tak dikenal yang mau ikut menolong, itu punya arti yang jauh lebih dalam.
Karena itu saya selalu merasa bahwa pekerjaan ini bukan soal angka semata. Memang, kalau dihitung, sudah ada lebih dari 500.000 penggalangan dana yang terdanai lewat Kitabisa. Tapi yang paling penting bukan hanya jumlahnya. Yang penting adalah dampaknya. Dan yang lebih penting lagi: apa yang cerita-cerita itu katakan tentang siapa diri kita sebagai bangsa.
Saya percaya, identitas Indonesia yang paling kuat sesungguhnya ada di sana: pada kebiasaan saling menjaga, saling membantu, dan saling menguatkan. Kita pernah melihat itu sangat jelas saat menghadapi berbagai krisis, termasuk COVID-19. Kita bisa melewati masa yang berat karena gotong royong. Orang membeli makanan untuk temannya, saling bantu tetangga, saling jaga keluarga lain. Hal-hal yang mungkin tampak kecil, tetapi justru itulah yang menahan bangsa ini agar tidak runtuh.
Namun saya juga merasa bahwa semangat baik ini tidak boleh hanya berhenti sebagai kebiasaan spontan. Ia harus dirawat. Ia harus dijaga. Ia harus diubah menjadi kekuatan yang lebih strategis. Saya sering mengatakan, jangan anggap remeh donasi kecil. Karena yang kita rawat sebenarnya bukan cuma nominal, tetapi partisipasi. Ketika seseorang menyumbang Rp2.000 setiap pagi, yang sedang ia bangun bukan hanya bantuan untuk orang lain, tetapi juga budaya kepedulian. Dan budaya seperti ini, kalau dijaga terus, bisa menjadi kekuatan bangsa yang luar biasa.
Tantangan berikutnya adalah memastikan semangat itu tidak hanya hidup di awal. Dalam banyak situasi, terutama bencana, masyarakat kita sangat cepat bergerak pada fase awal. Ketika suatu peristiwa menjadi headline, semua orang datang membantu. Itu baik, dan itu indah. Tapi persoalannya, ketika sebuah bencana masuk ke fase pemulihan, perhatian sering mulai hilang. Orang menganggap masalah sudah selesai, padahal justru di masa-masa senyap itulah kebutuhan paling panjang sedang berlangsung.
Saya melihat ini dengan jelas dalam berbagai bencana, termasuk yang kami kawal di Sumatera. Pada masa respon, orang tidak berpikir dua kali untuk membantu. Tapi ketika masuk masa recovery, terjadi pergeseran cara pandang. Banyak yang merasa ini sepenuhnya sudah menjadi tanggung jawab pemerintah. Secara faktual mungkin memang ada peran pemerintah yang besar. Tapi kita juga tahu, filantropi dan peran warga bisa mempercepat proses pemulihan. Kalau kita bisa membantu saudara-saudara kita bangkit lebih cepat, kenapa tidak?
Karena itu, bagi saya, tanggung jawab kita bukan hanya menjadi ramai di awal, tetapi tetap hadir di masa-masa silent. Masa ketika kamera sudah pergi, headline sudah berganti, dan publik sudah sibuk dengan isu lain. Justru di situlah komitmen benar-benar diuji. Kita ingin memastikan bahwa solidaritas tidak berhenti saat sorotan padam.
Pada saat yang sama, saya juga percaya harapan bangsa ini tidak hanya hidup dalam cerita-cerita kemanusiaan. Ia juga hidup dalam mimpi-mimpi besar. Dalam sejarah Kitabisa, kami pernah melihat betapa kuatnya energi kolektif itu ketika publik mendukung Rio Haryanto sebagai pebalap Formula 1 pertama dari Indonesia. Kami juga pernah melihat bagaimana publik ikut mengawal mimpi pesawat R80 yang dicita-citakan almarhum B.J. Habibie. Mungkin bukan soal apakah dananya langsung menyelesaikan semuanya, tetapi tentang rasa memiliki, tentang doa bersama, tentang keyakinan bahwa Indonesia juga bisa punya mimpi besar.
Itulah yang ingin terus kami rawat di Kitabisa: harapan dan optimisme. Yang ingin kami lawan adalah hopelessness. Keputusasaan. Perasaan bahwa tidak ada gunanya berharap, tidak ada gunanya bergerak, tidak ada gunanya peduli. Buat saya, itu jauh lebih berbahaya daripada keterbatasan apa pun. Karena selama harapan masih ada, orang akan terus mencari jalan.
Saya sering ditanya tentang anak muda hari ini, terutama ketika banyak yang sedang gelisah karena pasar kerja sulit, lapangan pekerjaan menantang, dan masa depan terasa tidak menentu. Saya sangat berempati pada situasi itu. Setiap zaman memang punya tantangannya sendiri. Dan zaman hari ini memang tidak mudah. Tapi saya tetap percaya, di tengah kesulitan selalu ada peluang, selalu ada ruang untuk harapan, selama kita mau menjaganya.
Saya percaya bangsa ini punya sila-sila yang sangat kuat dalam Pancasila. Tantangannya bukan pada hafalannya, tetapi pada bagaimana kita memanifestasikannya. Kita bangsa yang percaya kepada sesuatu yang lebih besar. Kita percaya ada skenario yang lebih besar dari hidup kita yang sedang sempit saat ini. Maka jangan lelah menjadi orang baik. Jangan lelah peduli. Jangan lelah menggunakan kreativitas yang kita punya untuk mencari jalan-jalan baru.
Saya juga berharap semua pihak ikut mengambil peran. Pemerintah, sektor riil, industri, media, platform, dan masyarakat sipil harus sama-sama bergerak. Kita tidak bisa menyelesaikan tantangan bangsa ini sendirian. Kita juga harus terus merawat kepercayaan antarpihak. Mungkin hari ini ada jarak, ada kecurigaan, ada komunikasi yang belum ideal. Tapi demokrasi memang indah justru karena memberi ruang untuk saling mengisi dan saling berdialog.
Pada akhirnya, saya ingin mengatakan ini dengan sederhana: kita boleh kritis, kita boleh kecewa, kita boleh gelisah. Itu bagian dari rasa sayang kepada negeri ini. Tapi jangan sampai kita kehilangan harapan.
Salah satu kekuatan terbesar Indonesia adalah bahwa bangsa ini masih punya kemampuan untuk peduli. Dan selama kemampuan itu masih hidup, kita masih punya modal besar untuk bangkit, untuk memperbaiki, dan untuk melangkah lebih jauh.
Jadi, mari kita rawat harapan itu. Bukan sebagai kata-kata manis, tetapi sebagai energi hidup. Karena bangsa yang kehilangan harapan akan sulit bergerak. Tetapi bangsa yang masih percaya pada gotong royong, pada doa, pada kepedulian, dan pada kemungkinan untuk menjadi lebih baik, akan selalu punya masa depan.
Disarikan dari wawancara eksklusive