Dari Command Center ke Travoy, Jalan Tol Kini Harus Lebih Cerdas
Saya selalu melihat jalan tol bukan sekadar urusan beton, aspal, gerbang, atau tarif. Jalan tol adalah ruang pelayanan publik. Karena itu, ketika saya diberi amanah memimpin Jasa Marga, saya merasa yang harus dibangun bukan hanya infrastructure, tetapi juga infraculture.
Yang saya maksud dengan infraculture adalah budaya mengelola infrastruktur dengan kesadaran bahwa setiap kendaraan yang masuk ke jalan tol membawa manusia, keluarga, harapan, dan tujuan yang harus dijaga. Karena itu, ukuran keberhasilan kami bukan hanya kelancaran arus, tetapi keselamatan. Setiap yang masuk ke jalan tol berarti harus dijaga agar tetap bisa masuk dan keluar dengan selamat.
Saya datang ke Jasa Marga dengan latar belakang yang mungkin tidak sepenuhnya lazim untuk dunia jalan tol. Saya lama bekerja di perbankan, belajar manajemen, tata kelola keuangan, dan hukum. Tetapi justru dari situlah saya melihat bahwa tidak ada satu perusahaan pun yang lepas dari dua hal itu: hukum dan keuangan. Di mana pun korporasi berdiri, dua fondasi itu selalu ada. Ketika saya masuk ke Jasa Marga, saya memang harus belajar banyak hal baru, terutama soal konstruksi dan teknik jalan. Tetapi saya percaya tidak ada hal yang tidak bisa dipelajari.
Yang paling penting adalah bagaimana semua pengetahuan itu akhirnya dipakai untuk membangun sistem yang bekerja lebih baik.
Dalam konteks mudik, tantangan kami sangat jelas. Kita berhadapan dengan volume kendaraan yang sangat besar, pergerakan yang terpusat dalam waktu tertentu, perubahan kondisi lalu lintas yang sangat cepat, dan kebutuhan masyarakat yang tidak bisa ditunda. Karena itu, pengelolaan mudik tidak bisa lagi hanya mengandalkan kebiasaan lama. Ia harus berbasis data, teknologi, koordinasi, dan keputusan yang cepat.
Hari ini kami berusaha membangun itu. Kami menggunakan command center yang benar-benar menjadi pusat pembacaan situasi secara real time. Kamera, radar, traffic counting, hingga analisis lalu lintas kami pakai untuk memastikan bahwa keputusan di lapangan tidak dibuat berdasarkan perkiraan kasar, tetapi berdasarkan data yang terus bergerak. Semakin banyak sumber data yang kami gunakan, semakin baik pula kualitas keputusan yang bisa diambil.
Karena itu, saya melihat arus mudik tahun ini semestinya bisa dikelola dengan lebih nyaman dan lebih efektif dibanding tahun-tahun sebelumnya. Salah satu pelajaran penting dari pengalaman beberapa tahun terakhir adalah bahwa rekayasa lalu lintas tidak bisa dilakukan dengan pola yang terlalu kaku. Dulu kita mengenal one way nasional yang panjang. Sekarang pendekatannya lebih lentur, lebih bertahap, lebih berbasis kondisi aktual. Kalau kapasitas mulai padat, ada contraflow satu lajur. Kalau naik lagi, dua lajur. Setelah itu baru masuk ke one way, dan one way pun bisa sepenggal, tidak harus langsung sangat panjang.
Bagi saya, pendekatan seperti ini lebih efektif. Karena lalu lintas tidak selalu harus diperlakukan dengan satu resep untuk semua titik. Setiap ruas punya karakter, setiap volume punya pola, dan setiap simpul punya kebutuhan rekayasanya sendiri. Karena itu pengambilan keputusan harus terus membaca dinamika, bukan sekadar mengikuti kebiasaan masa lalu.
Hal lain yang menurut saya sangat penting dalam mudik adalah rest area. Banyak orang memandang rest area hanya sebagai tempat singgah. Padahal dalam situasi arus mudik, rest area adalah elemen vital dari keselamatan perjalanan. Orang berhenti di sana untuk ke toilet, beristirahat, mengisi BBM, mengisi daya kendaraan listrik, atau sekadar memulihkan diri sebelum melanjutkan perjalanan. Kalau pengelolaannya buruk, rest area justru bisa menjadi sumber kepadatan baru.
Karena itu kami memantau kapasitas rest area secara serius. Kami ingin masyarakat tahu apakah satu titik penuh atau masih tersedia. Kami siapkan juga alternatif di luar gerbang tol yang tetap bisa digunakan tanpa mengubah tarif perjalanan. Jadi orang tidak perlu panik atau memaksa masuk ke satu lokasi yang sudah padat. Buat saya, ini penting: informasi harus sampai lebih dulu sebelum orang mengambil keputusan yang salah.
Itulah salah satu alasan kami mendorong penggunaan aplikasi Travoy. Saya ingin pengguna jalan tidak lagi mengandalkan kabar simpang siur, potongan video lama, atau informasi yang tidak jelas sumbernya. Dengan Travoy, mereka bisa melihat kamera, kepadatan, kondisi ruas, bahkan memantau situasi secara lebih akurat. Saya ingin masyarakat punya alat yang bisa membantu mereka memilih waktu berangkat, memilih titik istirahat, dan membaca jalur dengan lebih rasional.
Di saat yang sama, kami juga memperkuat komunikasi lewat Travoy FM. Bagi saya, radio tetap relevan di jalan. Orang di mobil masih mendengarkan radio, dan di situ kami bisa hadir bukan sebagai rumor, tetapi sebagai sumber informasi resmi. Saya ingin pengguna jalan tol merasakan bahwa ketika mereka masuk ke wilayah jalan tol Jasa Marga, mereka tidak dibiarkan berjalan sendirian. Ada informasi, ada panduan, ada teman perjalanan yang terus memberi arah.
Ini penting karena arus mudik bukan hanya soal volume kendaraan, tetapi juga soal psikologi pengguna jalan. Banyak orang panik hanya karena menerima informasi yang salah atau terlambat. Banyak yang tiba-tiba mengambil jalan alternatif tanpa dasar yang jelas. Banyak yang justru membuat situasi menjadi lebih buruk karena bertindak berdasarkan kekhawatiran, bukan data. Di sinilah kehadiran informasi resmi menjadi sangat menentukan.
Saya juga selalu menekankan bahwa jalan tol bukan hanya urusan mudik. Jalan tol adalah urat nadi ekonomi. Jalan tol adalah penghubung distribusi barang, logistik, bahan pokok, dan mobilitas ekonomi yang lebih luas. Dalam logistik, yang sangat penting bukan hanya murah, tetapi tepat waktu. Karena ketepatan waktu itulah yang menjaga arus distribusi tetap sehat.
Bayangkan komoditas dari satu daerah produksi bisa bergerak lebih cepat ke pasar, bahan impor dari pelabuhan bisa segera didistribusikan, dan barang antarwilayah bisa sampai dengan waktu tempuh yang lebih terprediksi. Semua itu punya dampak langsung pada biaya logistik, penggunaan BBM, efisiensi perjalanan, dan kualitas distribusi ekonomi nasional. Karena itu, saya memandang pembangunan dan pengelolaan jalan tol harus dibaca sebagai bagian dari penguatan ekonomi, bukan sekadar proyek fisik.
Dalam posisi saya juga sebagai bagian dari asosiasi operator jalan tol, saya melihat pentingnya koordinasi antarruas dan antaroperator. Jalan tol tidak boleh bekerja dalam ego sektoral. Pengguna jalan tidak peduli dia sedang melintasi ruas milik siapa; yang ia rasakan hanyalah apakah perjalanannya lancar, aman, dan nyaman. Karena itu integrasi layanan, standarisasi, koordinasi data, dan komunikasi antarpengelola adalah hal yang mutlak.
Bagi saya, justru kalau operator-operator jalan tol bekerja sendiri-sendiri, yang rugi adalah masyarakat. Karena itu saya selalu mendorong agar semua pemain di jalan tol memahami bahwa ini adalah sistem bersama. Arus dari Jakarta memengaruhi Cipali, Cipali memengaruhi ruas berikutnya, dan seterusnya. Kalau satu titik tidak membaca titik lain, maka keputusan yang diambil bisa terlambat. Karena itu koordinasi bukan pilihan, tetapi kebutuhan.
Namun pada akhirnya, secanggih apa pun sistem yang kita bangun, mudik tetap melibatkan faktor manusia. Dan di sinilah saya selalu ingin mengingatkan bahwa keselamatan tidak hanya bergantung pada operator jalan, tetapi juga pada kesiapan kendaraan dan kesiapan pengemudi.
Saya selalu bilang: pastikan kendaraannya layak jalan. Cek rem, cek ban, cek kondisi mesin. Jangan memaksa kendaraan yang tidak siap menempuh perjalanan panjang hanya karena ingin cepat sampai. Yang kedua, pastikan pengemudinya siap. Kalau perjalanan panjang, kalau perlu gunakan pengemudi cadangan. Kalau mengemudi sendiri, atur waktu dengan bijak, istirahat yang cukup, jangan memaksakan diri ketika lelah.
Angka kecelakaan banyak dipengaruhi oleh faktor kelelahan, bahkan microsleep. Ini hal yang sering diremehkan. Orang merasa masih kuat, padahal tubuhnya sudah memberi tanda. Begitu konsentrasi turun sedikit saja di jalan tol, akibatnya bisa sangat berat. Karena itu saya lebih senang orang berhenti, beristirahat, terlambat sedikit, daripada memaksakan diri lalu kehilangan lebih banyak hal.
Saya juga percaya suasana di dalam kendaraan memengaruhi perjalanan. Mudik harus dibangun sebagai perjalanan yang tenang, bukan perjalanan yang penuh emosi. Kalau pengemudi sedang lelah, jangan ditambah dengan kepanikan, keributan, atau tekanan yang tidak perlu. Perjalanan jauh membutuhkan suasana yang mendukung. Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sangat menentukan.
Untuk petugas kami di lapangan, saya juga selalu menekankan bahwa mereka bukan sekadar pekerja teknis. Mereka adalah penjaga keselamatan. Baik petugas keamanan, mobile customer service, rescue, ambulans, maupun tim lain yang siaga di berbagai titik, semua harus siap bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara kompetensi. Karena kejadian di jalan tidak pernah bisa diduga sepenuhnya. Bisa ada kecelakaan, kebakaran, kendaraan rusak, bahkan keadaan-keadaan yang tidak pernah kita prediksi sebelumnya.
Karena itu latihan, simulasi, kompetensi, dan kesiapan mental menjadi sangat penting. Saya ingin para petugas kami hadir bukan sekadar sebagai petugas, tetapi sebagai orang-orang yang tahu persis apa yang harus dilakukan ketika keadaan mendadak berubah. Mereka bekerja bukan untuk pencitraan, tetapi untuk memastikan bahwa saat masyarakat membutuhkan pertolongan, ada yang bergerak cepat dan tepat.
Kalau ditanya apa harapan saya untuk mudik tahun ini, jawabannya sederhana. Saya ingin masyarakat merasa perjalanan mereka lebih tertata, lebih terinformasi, lebih aman, dan lebih nyaman. Saya ingin mereka percaya bahwa sistem yang disiapkan memang dibuat untuk membantu mereka, bukan mempersulit mereka. Dan saya ingin mereka juga mengambil bagian dalam itu dengan cara menaati aturan lalu lintas, memilih waktu berangkat yang tepat, menggunakan informasi resmi, dan tidak memaksakan perjalanan ketika kondisi tidak memungkinkan.
Pada akhirnya, mudik memang bukan sekadar perpindahan dari satu kota ke kota lain. Mudik adalah peristiwa emosional, sosial, dan kultural. Di situ ada kerinduan, ada keluarga, ada momen yang ditunggu sepanjang tahun. Karena itu jalan tol tidak boleh hanya dibaca sebagai jalur transportasi. Ia adalah jembatan harapan.
Dan kalau saya boleh menyederhanakan semuanya dalam satu kalimat, maka prinsip saya tetap sama: perjalanan yang baik bukanlah perjalanan yang paling cepat, tetapi perjalanan yang membuat orang sampai dengan selamat.
Disarikan dari wawancara eksklusive