Logo
Home Opini

Banyak Duit Jangan Sombong, Tidak Punya Duit Jangan Nyolong

Jusuf Hamka
Jusuf Hamka Pengusaha Tionghoa Muslim
17 Feb 2026 | 01:00 WIB

Saya selalu merasa bahwa menjadi Indonesia itu tidak cukup hanya di kartu identitas. Menjadi Indonesia itu harus hidup di hati, terlihat dalam perilaku, dan terasa dalam cara kita memperlakukan orang lain.

Saya ini keturunan Tionghoa. Nenek moyang saya orang Tionghoa. Tetapi saya warga negara Indonesia. Saya lahir di sini, hidup di sini, dididik di sini, dan suatu hari akan mati di sini. Jadi, buat saya, kalau kita sudah mengatakan we are Indonesian, ya hati kita harus betul-betul di Indonesia. Tidak boleh mendua. Tidak boleh setengah-setengah. Dan kalau ada orang lain yang belum menganggap kita sungguh-sungguh Indonesia, jangan buru-buru marah. Tunjukkan saja lewat perilaku bahwa kita memang Indonesia. Hormati saudara-saudara kita. Rangkul mereka. Berbuat baik kepada mereka. Nanti mereka akan melihat sendiri.

Karena itu, kalau saya ditanya apakah asimilasi antara Tionghoa dan pribumi di Indonesia sudah tuntas, jawaban saya jujur: belum. Belum tuntas. Tidak mudah. Masih ada saling curiga, masih ada saling mendiskriminasi, masih ada jarak yang kadang terasa. Dan kita tidak boleh menutup mata soal itu. Justru karena belum tuntas, kita harus terus mencari cara yang membuat pembauran itu lebih hidup, lebih hangat, dan lebih nyata.

Dulu sudah dicoba macam-macam. Orang mengganti nama, dari nama tiga huruf jadi dua huruf, ada yang kawin campur, ada yang ikut berbagai gerakan pembauran bangsa. Semua sudah dicoba. Ada yang berhasil, ada yang tidak. Saya sendiri punya pengalaman soal nama. Waktu kecil saya pernah dinamai macam-macam. Lalu ketika saya masuk Islam, Buya Hamka memberi saya nama Jusuf Hamka. Buat saya itu bukan cuma nama, tapi amanah. Saya membawa nama besar. Saya merasa harus menjaga nama itu dengan perilaku saya. Itu ikut membentuk saya.

Dan saya harus mengatakan, dalam pengalaman saya, Islam membantu mempercepat asimilasi. Bukan karena paksaan, bukan karena orang harus dipaksa masuk Islam. Tidak. Soal iman itu hidayah. Tetapi saya merasakan sendiri, ketika bahasa iman menjadi sama, rasa persaudaraan itu tumbuh lebih cepat. Dalam Islam, sesama muslim dianggap saudara. Dari situ rasa curiga berkurang. Pelan-pelan orang merasa seiman, lalu bisa sejalan, lalu bisa berbaur. Tentu syaratnya satu: Islamnya harus benar, tafsirnya harus benar. Karena Islam itu rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam, bukan rahmat untuk muslim saja. Jadi kalau ada muslim membenci nonmuslim, menurut saya itu tafsirnya yang salah.

Tetapi lebih dari itu, saya percaya asimilasi yang paling kuat justru lahir dari perbuatan baik. Bukan dari teori, bukan dari pidato. Perbuatan baik itu membangun jembatan yang tidak bisa dibangun oleh slogan. Dan saya punya pengalaman yang sangat kuat tentang itu.

Pada 1998, banyak teman-teman Tionghoa diselamatkan oleh pribumi. Saya melihat itu. Saya mengalami itu. Banyak yang bisa berlindung di rumah-rumah saudara pribumi, bahkan di masjid-masjid. Saya tidak pernah lupa itu. Maka ketika pada 2025 saya melihat kerusuhan, saya merasa ini saatnya giliran saya, seorang Tionghoa, menyelamatkan pribumi. Saya tidak sedang bicara teori. Saya bicara pengalaman nyata.

Saya datang ke tengah kerumunan orang yang sedang marah. Saya datang ke pemakaman seorang pengemudi ojol yang meninggal. Orang bilang situasinya berbahaya. Ada provokator. Ada massa. Ada kemarahan. Tapi saya merasa, selama niat saya baik, masa saya dibalas dengan keburukan? Saya percaya kebaikan akan bertemu kebaikan. Maka saya datang. Saya naik ojek. Saya masuk ke tengah kerumunan. Dan yang saya terima bukan kemarahan, melainkan kasih sayang. Saya dituntun, dipayungi dengan kardus bekas supaya tidak kepanasan, dijaga, dipeluk, bahkan ketika saya pulang saya digendong karena kondisi tubuh saya sudah lemah. Dompet saya aman, telepon saya aman. Saya melihat sendiri bahwa di tengah kemarahan massa, hati manusia tetap bisa disentuh oleh ketulusan.

Dari situ saya makin yakin dengan satu prinsip yang selalu saya pegang: jangan terlalu percaya pada pagar tembok. Percayalah pada pagar mangkok. Kalau ada saudara kita kelaparan di sekitar rumah kita, kasih dia makan. Bagi mangkok kita. Karena kalau dia ingat kebaikan kita, dia akan menjaga kita. Dia akan menjadi tembok kita. Buat saya, pagar mangkok jauh lebih ampuh daripada pagar tembok. Pagar tembok hanya melindungi benda. Pagar mangkok melindungi hubungan antar manusia.

Itulah sebabnya saya tidak pernah merasa rugi membantu orang. Justru saya percaya, kebaikan sekecil apa pun ada gunanya. Saya pernah mencari seseorang hanya karena selembar kardus bekas yang ia pakai untuk memayungi saya. Saya cari orang itu. Saya cari rumahnya. Saya lihat hidupnya. Saya tahu dia ngontrak, istrinya jualan kecil-kecilan, anaknya tidur di balik pintu karena rumahnya sempit. Lalu saya bantu dia bukan sekadar dengan belas kasihan, tetapi dengan jalan hidup. Saya carikan pekerjaan. Saya bantu jalan untuk rumah. Tapi saya tidak mau sekadar memberinya ikan. Saya lebih suka memberinya pancing. Karena kalau saya kasih ikan, habis. Kalau saya kasih pancing, dia bisa hidup lebih lama dari hasilnya sendiri.

Buat saya, itulah kemanusiaan. Bukan sekadar kasihan lalu selesai. Kemanusiaan itu harus menjaga martabat orang. Karena itu saya juga selalu menjaga cara memberi. Kalau saya bantu orang membeli makanan murah, saya tetap minta dia membayar meski sangat murah, supaya harga dirinya tetap terjaga. Saya tidak ingin orang merasa dipermalukan oleh bantuan. Saya ingin dia merasa ditolong, tapi tetap berdiri tegak.

Prinsip yang sama saya pakai ketika melihat pengusaha, terutama pengusaha Tionghoa, yang sekarang katanya takut berusaha di masa pemerintahan sekarang. Menurut saya, kalau mereka kerja putih, kerja benar, tidak usah takut. Yang takut itu biasanya pengusaha hitam. Yang selama ini hidup dari abu-abu, dari celah, dari permainan, dari kedekatan yang tidak sehat. Kalau kerja benar, kenapa takut? Saya sendiri pernah diperiksa, diverifikasi, diselidiki. Tapi saya tenang saja. Karena saya percaya aparat hukum yang amanah akan bekerja benar. Dan kalau kerja kita memang ada di jalur yang benar, ya tidak ada masalah.

Saya melihat pemerintahan sekarang sedang serius menghadapi kesenjangan. Ini harus kita akui. Jangan sampai yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin. Pemerintah sedang melakukan pemerataan. Yang miskin diangkat menjadi menengah. Yang menengah diangkat menjadi kaya. Yang kaya, ya sudah, enough is enough. Jangan lebih-lebih lagi, apalagi kalau kekayaannya dipakai untuk kerja hitam. Itu pasti akan ditebas. Dan menurut saya, memang harus begitu. Karena negara ini sedang membutuhkan anggaran besar untuk menyejahterakan saudara-saudara kita yang termarginalkan.

Karena itu saya selalu bilang kepada teman-teman pengusaha Tionghoa: kerjalah yang baik untuk negeri ini. Jangan kerja hitam. Jangan abu-abu. Dukung pemerintah kalau memang pemerintah sedang mengerjakan program-program mulia seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Merah Putih, Sekolah Rakyat, dan berbagai ikhtiar lain untuk mengangkat rakyat kecil. Kita ini sudah banyak mengambil untung dari republik ini. Masa ketika republik sedang mau memperbaiki nasib yang di bawah, kita malah takut, ngumpet, dan menyimpan uang saja? Buat saya, itu bukan sikap yang sehat.

Saya juga sering merasa, dalam banyak hal, persoalan kita bukan kurang pintar. Orang pintar di republik ini banyak. Yang langka itu orang jujur. Maka saya lebih suka bertemu orang yang amanah, orang yang ikhlas, orang yang niatnya bersih. Pintar bisa dicari. Keahlian bisa diajarkan. Tetapi kejujuran dan keikhlasan itu barang mahal. Dan saya merasa berkali-kali justru dipertemukan dengan orang-orang seperti itu di jalan hidup saya.

Itulah kenapa saya hidup sederhana dalam hal-hal tertentu. Orang suka heran, kenapa saya bisa pakai sepatu bolong. Jawaban saya sederhana: selama yang bolong bukan otak, bukan hati, dan bukan kantong, buat apa gengsi? Sepatu bolong tidak merusak reputasi saya. Yang penting uangnya bisa dipakai untuk bantu orang yang lebih membutuhkan. Ini bukan pelit. Ini kebiasaan. Saya bisa beli sepatu baru, tapi kalau yang lama masih nyaman dan masih bisa dipakai, kenapa harus dibuang?

Buat saya, hidup itu memang harus kembali ke niat. Merayakan Imlek, misalnya, rayakan dengan sukacita dan sederhana. Menyambut puasa juga begitu. Jangan sekadar memindahkan jam makan. Gunakan momen-momen itu untuk berbuat baik, bersedekah, dan membantu saudara-saudara kita yang termarginalkan. Saya percaya negeri ini akan baik kalau semakin banyak orang mau berbagi, bukan hanya mau menikmati.

Dan untuk anak-anak muda, saya punya satu kalimat yang selalu saya suka: make the pressure your pleasure. Buat tekanan menjadi hiburanmu. Tekanan itu jangan bikin kamu pecah. Justru jadikan dia tantangan yang harus ditaklukkan. Hidup ini memang banyak tekanan. Tapi kalau setiap tekanan kita anggap musuh, kita akan cepat lelah. Kalau kita anggap dia permainan yang harus kita menangkan, kita akan lebih kuat.

Jadi, bagi saya, kuncinya tetap sama. Jadilah Indonesia sepenuh hati. Bangun asimilasi lewat perbuatan baik. Percaya pada pagar mangkok, bukan cuma pagar tembok. Kerja yang putih, bukan yang hitam. Jangan sombong kalau punya uang, jangan bohong kalau lagi susah, jangan nyolong kalau tidak punya uang, dan jangan songong kalau punya utang. Dan yang paling penting, apa pun tekanannya, jadikan itu bagian dari kenikmatan hidup yang membuat kita tumbuh lebih matang.

Disarikan dari wawancara eksklusive

Penulis
Redaksi
Jurnalis kami menyajikan berita dengan akurat dan berimbang untuk Anda.
Bagikan:
Link berhasil disalin