Logo
Home Opini

Kalau Ingin Mengejar Korea dan Tiongkok, Ubah Dulu Mindset Kita

Prof. Arif Satria
Prof. Arif Satria Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
03 Feb 2026 | 22:00 WIB

Saya percaya satu hal yang sangat mendasar: tidak ada negara maju yang bisa benar-benar maju tanpa sains, tanpa riset, dan tanpa inovasi.

Karena itu, ketika saya diberi amanah memimpin BRIN, saya memandang tugas ini bukan sekadar jabatan administratif. Ini adalah bagian dari upaya membangun masa depan bangsa. Presiden sudah memberi tugas, dan tugas itu harus diterjemahkan menjadi langkah-langkah yang konkret. Bukan hanya cepat, tetapi cepat dan tepat. Bukan hanya menunggu perintah, tetapi juga mengambil inisiatif. Saya memahami bahwa itulah harapan Presiden kepada para pembantunya: membaca arah, bergerak dalam koridor visi besar negara, lalu bekerja sungguh-sungguh.

Dalam konteks BRIN, arah itu sangat jelas. Kami harus mengawal program-program prioritas Presiden: pangan, energi, air, industri strategis, kedirgantaraan, dan nuklir. Maka yang saya lakukan pertama kali adalah memetakan riset-riset itu satu per satu. Riset pangan kita sudah sampai mana, riset energi kita sudah sampai mana, riset di bidang air sudah sampai mana, dan teknologi strategis kita berada di posisi seperti apa. Karena kalau kita ingin bicara tentang masa depan, kita harus mulai dengan tahu posisi kita hari ini.

Saya melihat modal dasar kita sebenarnya sangat kuat. Saya sangat kagum pada talenta yang dimiliki BRIN. Para peneliti kita unggul, banyak yang menempuh pendidikan di sekolah-sekolah top dunia. Dari sisi infrastruktur juga kita punya kekuatan yang tidak kecil. Kita memiliki berbagai fasilitas riset yang sangat baik, bahkan sebagian merupakan yang terbaik di Asia Tenggara. Banyak peneliti asing datang ke BRIN untuk menggunakan alat-alat yang kita miliki.

Kalau ditanya apa syarat kesuksesan riset, saya melihat setidaknya ada lima hal. Pertama, human capital yang kuat. Kedua, infrastruktur yang kuat. Ketiga, dana riset yang cukup. Keempat, agenda riset yang jelas. Kelima, ekosistem yang mendukung. Dari lima itu, kita sebetulnya sudah cukup baik di sisi talenta dan infrastruktur. Yang masih harus kita perkuat adalah agenda riset, dana riset, dan ekosistem yang membuat semua hasil penelitian itu bisa bergerak sampai ke masyarakat dan industri.

Karena itu saya menilai terobosan Presiden menaikkan anggaran riset sangat penting. Itu memang salah satu hal yang selama ini ditunggu-tunggu para periset. Sebab masa depan ekonomi sebuah bangsa memang sangat tergantung pada kekuatan ilmu pengetahuan, kekuatan riset, dan kekuatan inovasi. Inovasi tidak lahir dari kekosongan. Ia lahir dari investasi, keberanian, arah yang jelas, dan keberlanjutan.

Tetapi saya juga selalu mengatakan bahwa anggaran saja tidak cukup. Hubungan antara riset dan industri harus diperkuat. Hasil riset tidak boleh berhenti sebagai laporan. Hasil riset harus bisa diimplementasikan. Harus berdampak. Harus menghasilkan outcome yang dirasakan oleh industri, masyarakat, dan pemerintah. Jadi saya tidak ingin riset berhenti pada output. Saya ingin riset menghasilkan outcome.

Itulah sebabnya kami membangun peta jalan riset dan inovasi nasional bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Bagi saya, ini penting karena kita tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Tidak boleh ada peta jalan BRIN sendiri, lalu peta jalan pihak lain sendiri. Yang harus ada adalah satu peta jalan bersama, sehingga kita tahu pada tahun-tahun tertentu hasil apa yang harus keluar, teknologi apa yang harus siap, varietas apa yang harus dihasilkan, dan kebutuhan nasional apa yang harus dijawab.

Saya ingin riset-riset kita menjadi predictable. Kalau orang bertanya, “Apa hasil riset Indonesia tahun depan yang bisa dimanfaatkan?”, maka kita harus bisa menjawab. Dalam bidang pangan, misalnya, kita harus bisa mengatakan varietas apa yang akan dihasilkan, bagaimana dukungannya terhadap swasembada, bagaimana teknologi pascapanennya, bagaimana makanan olahan siap saji bisa dikembangkan, dan bagaimana pengawetan pangan bisa menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

Banyak orang tidak tahu bahwa sebenarnya sudah ada teknologi yang sangat aplikatif dan dekat dengan kebutuhan sehari-hari. Ada teknologi pangan yang sederhana tetapi berguna. Ada pengawetan pangan pada suhu ruang yang membuat beras bisa bertahan sangat lama dan telur bertahan jauh lebih panjang. Ada varietas-varietas unggul pada berbagai komoditas. Dan bagi saya, semua itu menunjukkan bahwa riset tidak harus selalu tampil dalam bentuk yang rumit untuk menjadi penting. Yang penting adalah manfaatnya terasa.

Di sektor lain, kita juga punya contoh-contoh yang menurut saya patut dibanggakan. Pesawat N219 adalah salah satunya. Kita sedang mengejar agar versi amfibinya juga siap, sehingga dapat mendarat di air dan membantu konektivitas antarwilayah di negara maritim seperti Indonesia. Kita juga punya pesawat tanpa awak, roket, teknologi kapal, dan inovasi energi. Dalam situasi bencana, misalnya, kita mengirim alat pengolah air yang mampu mengubah air banjir menjadi air siap minum dalam jumlah besar. Bagi saya, inilah contoh bahwa riset harus hadir untuk menjawab persoalan nyata masyarakat.

Namun saya juga berpandangan bahwa BRIN tidak boleh hanya sibuk menjawab kebutuhan hari ini. BRIN juga harus menjadi acuan bagi future technology forecasting. Kita harus bisa memproyeksikan teknologi apa yang akan berkembang pada 2030, 2035, bahkan 2045. Mengapa ini penting? Karena industrialisasi yang tidak dipandu oleh proyeksi teknologi bisa salah arah. Jangan sampai kita berinvestasi besar, membangun industri dengan biaya mahal, tetapi saat beroperasi teknologinya sudah tertinggal zaman.

Negara-negara maju kuat bukan hanya karena mereka memiliki teknologi, tetapi karena mereka mampu memprediksi arah teknologi masa depan. Karena itu kita harus mulai dari sekarang menyiapkan basis data, analisis, dan imajinasi berbasis data untuk melihat protein masa depan, pangan masa depan, energi masa depan, dan teknologi masa depan. Hari ini kita bicara AI, genomik, green hydrogen, culture meat, dan lain-lain. Semua itu harus dibaca dari sekarang, bukan nanti ketika semuanya sudah lewat.

Bagi saya, AI sendiri hanyalah alat. Sama seperti kalkulator pada zamannya. Alat itu tergantung siapa yang menggunakan, untuk tujuan apa, dan dalam kerangka nilai seperti apa. Karena itu saya tidak melihat teknologi sebagai sesuatu yang netral begitu saja. Teknologi harus dibangun dengan value. Nilainya harus jelas: kemaslahatan, kemajuan, perubahan, dan kebaikan. Kalau riset dan teknologi tidak dibimbing oleh nilai, ia bisa berhenti sebagai demonstrasi kecanggihan. Tetapi kalau dibimbing oleh nilai, ia bisa menjadi kekuatan peradaban.

Pada titik ini, saya selalu kembali ke satu hal yang menurut saya paling menentukan: mindset. Banyak orang bertanya kepada saya, mengapa Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok bisa melesat, sementara kita tertinggal. Saya melihat faktor yang sangat penting di situ adalah kemauan, cara pandang, dan transformasi mindset. Kita hidup 24 jam sama. Kita sama-sama makan nasi. Tetapi yang membedakan adalah will power, keberanian untuk berubah, dan kekuatan untuk terus bergerak maju.

Karena itu saya sering mengatakan bahwa masalah kita pada akhirnya bukan hanya soal teknologi, melainkan soal cara pandang terhadap perubahan. Dunia berubah, maka mindset kita juga harus berubah. Kalau dunia berubah sementara kita tetap hidup dengan fixed mindset, kita akan tertinggal. Sebaliknya, kalau kita punya growth mindset, kita akan percaya bahwa kemampuan bisa berubah, kebiasaan bisa berubah, bahkan kualitas diri pun bisa ditingkatkan.

Saya memegang keyakinan itu sejak lama. Dalam setiap amanah yang saya jalani, saya selalu memulai dengan dua modal: keberanian untuk melakukan perubahan dan optimisme bahwa perubahan itu bisa membawa kemajuan. Maka saya tidak suka kata “tidak mungkin”. Menurut saya, semua harus mungkin. Harus ada optimisme. Karena optimisme itulah yang menjaga harapan.

Dan kalau saya bicara tentang masa depan sains Indonesia, saya merasa persoalan ini sangat erat dengan imajinasi anak-anak kita. Mengapa hari ini tidak banyak anak kecil yang bermimpi menjadi ilmuwan? Mengapa profesi periset belum cukup menarik dalam imajinasi publik? Ini berarti kita belum cukup berhasil membangun ekosistem yang memuliakan profesi ilmuwan dan peneliti.

Padahal bagi saya, posisi periset, peneliti, dan ilmuwan adalah posisi yang mulia, terhormat, dan membanggakan. Citra itu harus kita bangun. Kita perlu lebih banyak role model. Kita perlu lebih banyak ruang publik yang dipenuhi karya-karya anak bangsa. Kita perlu membuat anak-anak melihat bahwa orang Indonesia bisa membuat pesawat, bisa membuat inovasi penting, bisa menghasilkan teknologi yang bermanfaat. Karena ketika anak-anak melihat itu, imajinasi mereka tumbuh.

Saya percaya yang paling mahal bagi anak-anak bukan hanya fasilitas, tetapi imajinasi dan mimpi. Karena itu saya selalu senang jika ada ruang-ruang edukasi seperti yang dimiliki BRIN bisa dikunjungi anak-anak. Mereka datang, melihat, mengenal, lalu membayangkan masa depannya. Kadang inspirasi itu datang dari hal-hal yang tampak sederhana. Ada mahasiswa KKN datang ke desa, lalu seorang anak kecil melihatnya dan berkata dalam hati, “Saya ingin seperti itu.” Begitulah mimpi tumbuh.

Maka saya juga sering menantang mahasiswa atau anak-anak muda untuk menulis CV mereka pada tahun 2045. Bukan CV hari ini, tetapi CV masa depan. Saya ingin mereka belajar membayangkan dirinya sebagai siapa, hidup di mana, berkontribusi di bidang apa. Karena bangsa yang besar dibangun oleh orang-orang yang berani bermimpi secara eksponensial, bukan orang-orang yang membatasi dirinya dengan target-target kecil.

Dari berbagai riset yang saya baca, saya semakin yakin bahwa faktor paling penting dalam keberhasilan akademik anak bukan semata guru, bukan semata sekolah, bukan semata orang tua, melainkan mindset siswa itu sendiri. Semua memang berpengaruh, tetapi mindset, motivasi, semangat, dan optimisme sering kali menjadi penentu utama. Saya melihat itu juga pada banyak anak dari pelosok yang kemudian berhasil menjadi orang-orang besar. Latar belakang mereka biasa saja, tetapi mereka punya mimpi, semangat, dan cara pandang yang tidak biasa.

Karena itu saya percaya masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh inspirasi yang kita bangun hari ini. Kalau ruang publik diisi oleh pesimisme, anak-anak akan mewarisi pesimisme. Tapi kalau ruang publik dibanjiri inovasi, karya anak bangsa, figur-figur yang membangun harapan, dan contoh-contoh kemajuan, maka yang tumbuh adalah energi positif. Dan bangsa yang maju adalah bangsa yang energinya penuh dengan energi positif.

Pada akhirnya, motivasi terbesar menjadi saintis bagi saya sangat sederhana: menjadi manusia yang bermanfaat. Bukan manfaat lima menit, tetapi manfaat yang panjang, berkelanjutan, dan luas. Orang yang berilmu punya kesempatan memberi manfaat yang lebih abadi. Teknologi yang diciptakan oleh ilmu bisa terus dinikmati jauh setelah penciptanya tiada. Karena itu, menjadi saintis bukan hanya layak diperjuangkan, tetapi sangat penting bagi masa depan bangsa.

Tetapi lagi-lagi, sains yang saya maksud bukan science for science. Bukan research for research. Saya tidak ingin ada riset yang selesai hanya dengan rasa puas karena berhasil dipublikasikan atau dipamerkan. Riset harus bisa dinikmati banyak orang. Harus meningkatkan kualitas hidup. Harus memperbaiki kesejahteraan. Harus mendorong perubahan.

Itulah mengapa saya selalu ingin inovasi BRIN menjadi inspiring innovation. Inovasi yang bukan hanya selesai pada satu produk, tetapi menggerakkan orang lain untuk berinovasi lagi. Lalu inovasi itu menggerakkan inovasi berikutnya. Dari situlah nanti kultur inovasi tumbuh.

Kalau kultur inovasi itu benar-benar tumbuh, maka mengejar Tiongkok, Korea Selatan, atau Jepang bukan lagi sesuatu yang terdengar mustahil. Jalan ke sana memang tidak mudah. Tapi semuanya selalu dimulai dari satu hal: kultur yang dibangun, mindset yang diubah, dan keberanian untuk percaya bahwa kita juga bisa.

Disarikan dari wawancara eksklusive

Penulis
Redaksi
Jurnalis kami menyajikan berita dengan akurat dan berimbang untuk Anda.
Bagikan:
Link berhasil disalin