Sekolah Rakyat dan Jalan Baru untuk Memutus Kemiskinan
Ketika pertama kali saya mendapat tugas menjadi kepala Sekolah Rakyat, terus terang saya sempat bertanya dalam hati: ini sekolah apa? Karena konsepnya baru, pendekatannya baru, dan tantangannya juga pasti tidak kecil. Tetapi semakin saya membaca, semakin saya memahami gagasan besarnya, saya justru melihat bahwa ini adalah ide yang sangat mulia. Saya melihat ada keinginan yang kuat dari Presiden untuk menghadirkan pemerataan pendidikan, sekaligus mengentaskan kemiskinan melalui pendidikan. Dan bagi saya pribadi, itu sangat dekat dengan panggilan hati saya sendiri, karena saya percaya pendidikan adalah hak semua anak.
Itulah sebabnya saya bersedia menerima amanah ini.
Sekolah Rakyat, dalam pandangan saya, memang berbeda dari sekolah formal pada umumnya. Perbedaan paling mendasarnya ada pada tujuan utamanya. Kalau sekolah-sekolah lain berangkat dari proses penerimaan siswa seperti biasa, Sekolah Rakyat berangkat dari satu misi yang sangat jelas: mengentaskan kemiskinan melalui pendidikan. Karena itu, proses masuknya pun berbeda. Di sini tidak ada pendaftaran seperti sekolah biasa. Negara yang hadir menjemput. Negara yang mencari. Negara yang memprioritaskan anak-anak dari keluarga pada desil 1 dan desil 2, lalu memastikan melalui verifikasi lapangan bahwa mereka memang anak-anak yang paling membutuhkan kesempatan ini.
Jadi yang datang ke Sekolah Rakyat bukan anak-anak yang lolos seleksi akademik seperti di sekolah unggulan biasa. Yang datang adalah anak-anak yang selama ini nyaris tidak mendapatkan ruang, bukan karena mereka tidak punya potensi, tetapi karena ekonomi keluarganya tidak memberi mereka peluang yang cukup. Mereka inilah yang dipotret, diverifikasi, lalu diserahkan kepada kami untuk dididik. Buat saya, di situlah makna keberpihakan itu terasa sangat nyata.
Sekolah ini juga berbentuk boarding school. Banyak yang bertanya kepada saya, kenapa harus asrama? Kenapa tidak sekolah biasa saja, pagi masuk, siang pulang? Jawabannya sederhana: karena kalau negara sungguh-sungguh ingin memberi pendidikan terbaik kepada anak-anak yang selama ini paling tertinggal, maka negara tidak cukup hanya memberi ruang kelas. Negara harus memberi lingkungan hidup yang layak untuk belajar. Dan di banyak rumah yang saya datangi, saya melihat sendiri mengapa pendekatan asrama ini menjadi penting. Ada anak yang tinggal di gubuk. Ada yang tinggal di bantaran rel. Ada yang hidup dekat gunungan sampah. Ada yang bahkan tidak memiliki fasilitas MCK yang layak. Dengan kondisi seperti itu, bagaimana mereka bisa belajar dengan tenang, beristirahat dengan cukup, dan tumbuh dengan tertib?
Ketika mereka masuk ke Sekolah Rakyat, mereka mendapatkan tempat tidur yang layak, kamar yang layak, makan yang layak, kesehatan yang diperhatikan, ruang belajar, ruang bermain, dan pendampingan yang jauh lebih terstruktur. Bagi saya, itu bukan kemewahan. Itu adalah hak dasar yang selama ini belum mereka dapatkan. Maka bentuk asrama ini bukan sekadar model pendidikan, melainkan cara negara menciptakan kondisi yang lebih adil agar anak-anak itu bisa fokus menggapai cita-cita mereka.
Dari sisi kurikulum, kami tetap memakai kurikulum nasional seperti sekolah lain. Tetapi karena modelnya berasrama, ada kurikulum keasramaan yang menyertainya. Di situlah pendidikan di Sekolah Rakyat menjadi lebih utuh. Anak-anak tidak hanya belajar mata pelajaran sebagaimana mestinya, tetapi juga menjalani pembinaan karakter, kedisiplinan, keagamaan, kegiatan kokurikuler, vokasional, dan pengembangan minat bakat. Bagi saya, ini penting. Karena yang kami bangun bukan hanya nilai akademik, tetapi juga cara hidup.
Tantangan terbesar kami memang justru ada di situ.
Anak-anak yang masuk ke Sekolah Rakyat datang dengan latar belakang yang sangat beragam. Tidak ada seleksi karakter. Tidak ada penyaringan kebiasaan. Yang ada adalah verifikasi bahwa mereka memang berasal dari keluarga rentan yang harus dibantu. Maka kami menerima mereka apa adanya, bersama seluruh kebiasaan, luka, keterbatasan, dan potensi yang mereka bawa. Ada yang terbiasa tidur larut malam. Ada yang membawa kebiasaan-kebiasaan yang tidak sehat. Ada yang sangat tertutup. Ada yang tidak percaya diri. Dan semua itu harus kami bentuk pelan-pelan.
Kami tidak bekerja sendiri. Kami bekerja sama dengan Kementerian Agama, dengan TNI melalui Kodim, dengan berbagai unsur pendamping lainnya. Anak-anak dibiasakan bangun pagi, salat tahajud, salat subuh berjamaah, tadarus, sarapan bersama, belajar bersama, hingga menjalani rutinitas yang tertib dari pagi sampai malam. Semua itu bukan untuk menghukum mereka, tetapi untuk membangun ritme hidup yang selama ini mungkin belum pernah mereka miliki secara stabil. Saya ingin mereka tidak hanya menjadi anak-anak yang sekolah, tetapi juga anak-anak yang tumbuh dengan disiplin, percaya diri, dan tahu bagaimana mengatur hidupnya sendiri.
Dan saya melihat perubahannya.
Anak-anak yang pada awalnya sangat malu, sangat takut bicara, dan bahkan tidak berani maju ke depan, sekarang mulai berani tampil. Ada yang sudah berani membuat vlog, ada yang sudah berani tampil dalam forum, ada yang sudah berani berbicara di depan publik. Buat saya, itu pencapaian yang sangat penting. Karena sering kali hambatan terbesar anak-anak dari keluarga rentan bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal rasa percaya diri. Mereka terlalu lama merasa berada di pinggir. Tugas kami di sini adalah membuat mereka percaya bahwa mereka juga layak berdiri di tengah.
Di Sekolah Rakyat Menengah Atas 13 Bekasi sendiri, saat ini kami memiliki 180 siswa. Guru ada 21 orang. Wali asuh ada 18 orang, dengan satu wali asuh mendampingi sepuluh anak. Ada wali asrama, tenaga kesehatan, juru masak, keamanan, kebersihan, dan tata usaha. Total semua unsur pendidik dan tenaga kependidikan ada 68 orang. Buat saya, ini menunjukkan bahwa pendidikan bagi anak-anak rentan memang tidak bisa hanya diserahkan kepada guru di ruang kelas. Ia membutuhkan ekosistem pendampingan yang lengkap.
Dan ke depan, ini baru awal. Rancangannya jauh lebih besar. Nantinya setiap kabupaten dan kota diharapkan memiliki Sekolah Rakyat terintegrasi yang mencakup SD, SMP, dan SMA dalam satu kawasan. Jadi ini bukan proyek kecil, dan bukan intervensi sesaat. Ini adalah upaya membangun jalan baru bagi anak-anak yang sebelumnya hampir pasti tertinggal.
Hal lain yang menurut saya sangat penting adalah bahwa perhatian Sekolah Rakyat tidak berhenti pada anak-anaknya saja. Orang tua mereka juga mendapat atensi. Ada pelatihan, ada pembinaan, ada bantuan modal usaha, ada upaya untuk membuat keluarga mereka tumbuh juga. Saya suka sekali jargon yang lahir dari semangat itu: cerdas bersama, tumbuh setara. Karena memang itu intinya. Anak tidak akan tumbuh maksimal kalau keluarganya dibiarkan tetap rapuh. Maka ketika anaknya belajar, orang tuanya juga harus bertumbuh.
Bagi saya, inilah yang membuat Sekolah Rakyat bukan sekadar sekolah.
Ia adalah agen perubahan. Saya ingin anak-anak yang sekarang belajar di sini kelak menjadi agen perubahan untuk dirinya sendiri, keluarganya, dan masyarakatnya. Anak-anak yang selama ini tidak mendapat kesempatan justru bisa menjadi anak-anak yang berprestasi, percaya diri, dan membawa nama baik bangsa. Saya tidak melihat mereka sebagai anak-anak kasihan. Saya melihat mereka sebagai anak-anak yang punya potensi besar, tetapi sebelumnya terhalang oleh kondisi yang bukan kesalahan mereka. Dan ketika negara membuka pintu itu, saya percaya banyak dari mereka akan tumbuh jauh melampaui dugaan orang.
Karena itu harapan saya sederhana tetapi besar: program Sekolah Rakyat ini harus terus berlanjut. Jangan berhenti. Jangan hanya hidup satu musim. Jangan hanya jadi kebijakan yang ramai di awal lalu redup di tengah jalan. Negara sudah hadir untuk anak-anak ini. Dan kehadiran itu harus dijaga sampai benar-benar memberi hasil bagi masa depan Indonesia.
Kepada anak-anak saya di Sekolah Rakyat, saya selalu mengatakan: teruslah semangat. Gunakan semua fasilitas ini untuk mengembangkan bakat dan minat kalian. Jadilah anak-anak yang berakhlak mulia, kuat mentalnya, dan tidak pernah malu atau putus asa dalam menggapai impian. Sukses tidak datang tanpa usaha. Maka teruslah berjuang.
Dan kepada Presiden Prabowo, saya hanya ingin mengatakan terima kasih. Terima kasih telah menghadirkan ide yang begitu mulia ini. Terima kasih karena telah memberi ruang bagi anak-anak yang sebelumnya nyaris tak terlihat. Terima kasih karena telah menjadikan pendidikan sebagai jalan untuk mengentaskan kemiskinan. Harapan saya, cita-cita besar itu benar-benar bisa terus diwujudkan melalui Sekolah Rakyat.
Sebab pada akhirnya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh anak-anak yang sejak awal sudah punya semua fasilitas. Masa depan bangsa juga ditentukan oleh apakah kita bersedia membuka jalan bagi mereka yang selama ini berada paling bawah, agar bisa berdiri setara dan melangkah sejauh yang mereka mampu. Dan bagi saya, Sekolah Rakyat sedang mencoba melakukan itu.
Disarikan dari wawancara eksklusive