Petani Harus Untung, Baru Ekosistem Kopi Hidup
Saya selalu percaya satu hal: kalau mau sukses, jangan cuma ikut-ikutan. Hidup itu pilihan. Kalau kita hanya mengikuti yang lain, kita selalu jadi pengekor. Kalau berani bikin jalan sendiri, kita punya peluang untuk berada paling depan. Mungkin itu juga yang membuat saya sejak awal memilih pasar, bukan kafe, sebagai tempat membangun usaha kopi. Banyak orang bertanya, kenapa harus di pasar? Bukankah kopi identik dengan tempat yang rapi, dingin, estetik, dan mahal? Justru di situlah jawabannya. Saya ingin kopi tidak hanya hidup di ruang yang terasa jauh dari rakyat, tapi hadir di tempat yang bisa dijangkau semua lapisan masyarakat. Pasar adalah pilihan yang paling tepat waktu itu: sewanya lebih murah, lokasinya strategis, parkirnya luas, ada di Jakarta Selatan, dan kalau dipikir dengan benar, pasar bisa dijadikan tempat wisata juga. Buat saya itu peluang besar.
Saya memulai bukan dengan kemewahan. Saya mulai dengan uang Rp5,5 juta. Sisanya saya utang ke calon mertua dan koperasi. Saya jual HP, jual motor, saya tidur di pasar, saya tidur di masjid. Selama sebulan saya hidup sangat sederhana. Kalau pagi makan nasi dengan tongkol, ikannya dibagi dua: setengah untuk makan siang, setengah untuk sore. Tapi anehnya, saya tidak pernah merasa hidup saya sengsara. Saya menikmati proses itu. Buat saya, itu bagian dari sekolah hidup. Memang pedas, memang berat, tapi justru di situ kita dibentuk. Saya dari kecil memang sudah terbiasa hidup keras. Bapak saya meninggal saat saya kecil. Ibu saya berjuang sendiri. Saya pernah tidak makan nasi dan bertahan dengan singkong. Jadi ketika masuk ke fase susah dalam usaha, saya tidak merasa itu kutukan. Saya menganggap itu proses. Saya perintis, bukan pewaris. Dan menurut saya, semua orang sukses memang harus melewati perjuangan.
Dari awal saya melihat kopi Indonesia itu seperti mutiara hitam. Saya lihat di luar negeri kopi bisa begitu keren dan begitu mahal. Tapi di Indonesia sendiri dulu mencari kopi yang bagus dan beragam tidak mudah. Saya lalu berpikir, ini harus dikumpulkan. Dari situ saya mulai sedikit-sedikit mengumpulkan kopi. Ada yang bawa dari Lampung, ada yang bawa dari Aceh, ada yang bawa dari Jawa Barat. Pertama cuma enam toples di satu kios kecil. Tapi dari enam toples itu saya sudah tahu arah saya. Saya tahu kopi ini bukan komoditas kecil. Saya tahu ini bisa besar kalau dikerjakan dengan serius.
Dalam bisnis, saya selalu memegang prinsip sederhana: pelajari dulu market-nya, baru buat produknya. Jangan kebalik. Jangan bikin sesuatu dulu, lalu bingung siapa yang mau beli. Kalau kita tahu siapa pembelinya, bagaimana seleranya, bagaimana cara dia menikmati kopi, bagaimana kebiasaan pasar dalam dan luar negeri, maka kita tahu produk apa yang harus dibuat. Kalau di gunung, jangan tawarkan mobil sedan mewah; orang butuh mobil yang cocok untuk medan. Dalam kopi juga begitu. Kalau kita mau masuk pasar internasional, kita harus tahu mereka minum apa, mencari rasa seperti apa, dan bagaimana mereka menilai kualitas. Dari sana baru kita bikin produk yang sesuai.
Saya juga percaya, usaha yang sehat tidak mungkin tumbuh sendirian. Harus ada ekosistem. Karena itu saya membina petani. Di Temanggung, di Jawa Barat, dan di berbagai tempat lain, kami bangun hubungan yang panjang. Kami tidak hanya datang saat butuh kopi. Kami bantu mereka memahami proses pascapanen, menentukan mau semi-wash, full-wash, yellow honey, red honey, black honey, natural, atau wine. Kami beri kepastian. Mereka tahu kopi mereka akan diambil. Mereka tahu kalau bekerja benar, hasilnya akan dihargai baik. Bagi saya, itu penting sekali. Karena petani selama ini sering kali tidak punya valuasi. Mereka butuh uang cepat, lalu menjual apa adanya. Akibatnya kualitas tidak tumbuh, harga tidak naik, dan hidup mereka juga stagnan. Kalau kita minta mereka petik yang bagus, proses yang bagus, tapi harganya tetap kita tekan semaunya, itu egois. Hidup harus berbagi. Kalau kita tidak memikirkan orang lain, orang lain juga tidak akan memikirkan kita.
Sekarang saya melihat sendiri perubahan itu. Dulu kopi seperti ditendang-tendang, tidak ada harganya. Sekarang petani kopi justru sedang bagus-bagusnya. Kopi mentah bisa punya harga yang jauh lebih tinggi dibanding masa lalu. Artinya, kalau ekosistem dibangun, semua ikut tumbuh. Saya bisa dagang, petani bisa untung, pelanggan dapat kopi bagus, dan keberlanjutan usaha terjaga. Itulah kenapa saya sering bilang, perusahaan yang sehat itu seperti pohon beringin. Akarnya banyak. Ada langganan besar, ada pembeli kecil, ada petani, ada karyawan, ada pelanggan ritel. Semua harus hidup. Jangan hanya akarnya yang besar yang disiram, akar kecil juga harus tumbuh. Karena pada akhirnya semua saling menopang.
Bagi saya, kekuatan kopi Indonesia justru ada pada keragamannya. Beda daerah, beda rasa. Beda ketinggian, beda rasa. Bahkan beda pohon di sebelahnya, bisa beda rasa juga. Itulah Indonesia. Ada kopi yang rasa buahnya kuat, ada yang lebih floral, ada yang lebih earthy, ada yang lebih kompleks. Negara-negara lain banyak yang datar lahannya, maka rasa kopinya lebih rata. Indonesia tidak begitu. Kita punya gunung, lembah, tanah yang beragam, ketinggian yang berbeda-beda, dan semua itu melahirkan karakter rasa yang luar biasa. Itu kekayaan yang sangat besar. Dan saya selalu merasa, kita belum selesai memanfaatkan potensi ini.
Karena itu saya sangat percaya pada hilirisasi kopi. Sangat mungkin. Sangat besar peluangnya. Kopi hari ini bukan hanya komoditas mentah. Kopi sudah jadi gaya hidup, jadi fashion, jadi budaya. Dari kopi bisa lahir banyak sekali nilai tambah: roasting, minuman siap seduh, kopi wine, kopi specialty, produk kecantikan, sabun, cokelat, sampai berbagai bentuk turunan yang lain. Saya sendiri kalau kirim ke Bulgaria, saya kirim dalam bentuk matang, bukan mentah. Karena di situlah nilai tambahnya. Bahkan bukan cuma kopinya yang bisa kita kirim, orangnya juga bisa kita kirim, pengetahuannya juga bisa kita kirim. Jadi hilirisasi bagi saya bukan slogan. Di kopi itu nyata sekali.
Karena itulah saya kadang heran kalau ada yang bilang hilirisasi hanya bisa dinikmati orang kaya, sementara UMKM akan terus tertinggal. Saya sendiri UMKM. Saya tumbuh dari bawah. Saya dibina oleh banyak pihak: program pemerintah, bank, BI, Astra, walikota, dan lain-lain. Saya memakai kredit rakyat, saya memanfaatkan pembinaan, saya masuk dalam ekosistem yang ada. Buat saya, kalau pemerintah bikin program, jangan langsung dicemooh. Pelajari. Ikuti. Ambil peluangnya. Negara tidak bikin program untuk membunuh kita. Negara bikin program karena ada arah pembangunan yang ingin dicapai. Tinggal kita, sebagai pelaku usaha, mau membaca peluangnya atau tidak. Kalau yang kita pelihara terus mental miskin, ya kita miskin terus. Tapi kalau kita lihat peluang, bangun keberanian, dan kerja benar, jalan itu terbuka.
Saya sendiri sekolah formal hanya sampai SD. Tapi saya tidak pernah membiarkan itu menjadi alasan untuk berhenti belajar. Saya suka baca buku, saya belajar dari mana saja, saya belajar mindset, saya belajar muamalah, saya belajar dari kesalahan, dari ditipu orang, dari dikomplain pelanggan, dari rugi, dari dihantam keadaan. Buat saya, semua itu sekolah. Tidak ada sekolah gratis. Semua bayar. Kadang bayarnya dengan uang, kadang dengan tenaga, kadang dengan rasa sakit, kadang dengan dibohongi orang. Tapi kalau kita mau melihatnya sebagai sekolah, kita tumbuh. Kalau kita melihatnya sebagai alasan untuk menyerah, kita berhenti.
Saya juga selalu bilang kepada anak-anak muda: jangan jadikan kerja sebagai tujuan hidup. Kerja itu sekolah. Kerja itu tempat belajar. Setelah itu, pikirkan bagaimana menciptakan pekerjaan, bukan sekadar mencari pekerjaan. Saya bukan meremehkan kerja di perusahaan. Tidak. Tapi mindset-nya jangan berhenti di situ. Jangan dari awal hidup diarahkan hanya untuk selamanya menjadi pencari kerja. Kita harus belajar menciptakan peluang, melatih skill, membangun keberanian. Skill itu tidak datang dari doa saja. Skill datang dari kerja, dari latihan, dari mengulang, dari salah, dari dibenerin lagi. Makanya saya selalu percaya, kalau mampu sekolah ya sekolah, kalau tidak mampu, kerja juga bisa jadi sekolah. Tapi sekolah hidup itu harus membuat kita tumbuh, bukan nyaman dalam ketergantungan.
Pada akhirnya, prinsip hidup saya sederhana: peduli. Manusia yang menurut saya hebat dan sukses itu bukan yang paling banyak uangnya, tapi yang hidupnya bermanfaat untuk banyak orang. Kaya dan miskin itu ukurannya susah. Orang punya uang banyak belum tentu merasa kaya. Orang sederhana bisa merasa cukup. Jadi buat saya, ukuran hidup bukan cuma angka uang. Ukuran hidup adalah apakah kehadiran kita memudahkan urusan orang lain. Karena kalau kita memudahkan urusan orang, Tuhan akan memudahkan urusan kita. Kalau kita mempersulit orang, hidup kita juga akan ikut dipersulit. Itu saja menurut saya hukum hidup yang paling jujur.
Saya memulai dari tongkol yang dibagi dua untuk dua kali makan. Hari ini saya bisa berdiri di tengah perdagangan kopi yang luas, membina petani, membangun pasar, dan memberi kerja bagi banyak orang. Buat saya, semua itu bukan karena saya paling hebat. Semua itu karena saya terus belajar, terus berjuang, dan berusaha peduli. Dan saya percaya, selama orang mau berjuang dan mau memikirkan orang lain, jalan akan selalu ada.
Disarikan dari wawancara eksklusive