Logo
Home Opini

Generasi Muda, UMKM, dan Jalan Indonesia Menembus Pasar Dunia

Dyah Roro Esti Widya Putri
Dyah Roro Esti Widya Putri Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia
24 Nov 2025 | 12:00 WIB

Saya selalu merasa ada benang merah yang jelas antara apa yang dulu saya kerjakan dan apa yang sekarang saya jalankan. Saat masih berada di Komisi VII, saya banyak bergelut dengan energi, industri, riset, teknologi, dan juga isu-isu lingkungan. Hari ini, ketika diberi amanah di Kementerian Perdagangan, saya tetap membawa semangat yang sama: bagaimana mendorong masa depan yang berkelanjutan. Dulu bentuknya bisa berupa energi baru terbarukan atau dorongan pada ekonomi hijau. Sekarang, bentuknya adalah bagaimana perdagangan Indonesia tumbuh, tetapi tetap punya arah, punya daya tahan, dan punya relevansi dengan perubahan dunia.

Karena itu, saya tidak pernah terlalu mempersoalkan soal usia. Orang boleh saja melihat saya muda dan mungkin meragukan kapasitas itu. Tetapi bagi saya, usia bukan penghalang. Justru dalam banyak perubahan besar, anak-anak muda sering menjadi garda terdepan. Jadi saya selalu memandang usia sebagai kekuatan, bukan hambatan. Yang lebih penting bagi saya adalah: apa kontribusi yang sudah kita berikan kepada bangsa ini, dan seberapa besar semangat kita untuk terus bergerak.

Di Kementerian Perdagangan, saya melihat perubahan terbesar hari ini datang dari satu kenyataan yang tidak bisa kita hindari: gaya hidup masyarakat telah berubah. Ketergantungan terhadap platform digital meningkat, kebiasaan mencari informasi berubah, dan cara orang berbelanja juga berubah. Ada data yang menunjukkan bahwa masyarakat kini lebih sering datang ke mal untuk berjalan-jalan, berkumpul, makan, atau menonton, sementara aktivitas belanja justru banyak berpindah ke ranah online. Saya juga melihat itu pada diri saya sendiri. Ketika sibuk, saya pun cenderung berbelanja secara online. Tetapi pada saat yang sama, pengalaman datang langsung ke toko tetap penting, karena ada rasa, ada sentuhan, ada pengalaman memilih yang memang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh layar. Jadi saya melihat masa depan perdagangan bukan hitam-putih antara online dan offline, melainkan perpaduan yang harus kita pahami dengan cermat.

Karena itulah pemerintah harus siap beradaptasi. Suka atau tidak suka, kita semua dipaksa belajar dari pandemi bahwa transformasi digital bukan pilihan tambahan, tetapi kebutuhan. Maka tugas kami adalah memastikan para pelaku usaha—terutama UMKM, pedagang pasar, dan warung—tidak tertinggal dalam perubahan ini. Kami sudah menjalin kerja sama dengan sejumlah platform e-commerce, dan sedang mengupayakan agar dalam waktu ke depan kolaborasi itu semakin luas. Tujuannya jelas: ada transfer pengetahuan, ada pendampingan, ada bantuan agar pelaku usaha bisa memahami cara mengoptimalkan gadget, platform digital, dan pemasaran online supaya tetap relevan dengan gaya hidup masyarakat hari ini.

Buat saya, digitalisasi perdagangan tidak berhenti pada toko online. Ia juga menyentuh pasar tradisional. Salah satu hal yang menurut saya sangat penting adalah ketika pasar mulai mengintegrasikan pembayaran digital. Dengan begitu, orang datang ke pasar tidak harus selalu repot membawa dompet. Mereka bisa bertransaksi dengan QRIS, dan pasar pun perlahan ikut bergerak ke arah yang lebih digital. Ini mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya sangat penting karena ia menghubungkan dua dunia yang selama ini sering dianggap terpisah: pasar rakyat dan teknologi.

Tetapi transformasi digital tidak akan berarti apa-apa kalau konsumen tidak merasa aman. Karena itu, perlindungan konsumen menjadi hal yang saya anggap sangat penting. Kami punya direktorat yang memang bertugas memastikan masyarakat terlindungi, baik saat bertransaksi offline maupun online. Dalam konteks digital, masyarakat punya hak ketika barang yang diterima tidak sesuai dengan foto, deskripsi, atau ternyata mengandung unsur penipuan. Di situ negara harus hadir. Kami juga punya tim yang secara khusus menangani akun-akun bermasalah di platform digital, termasuk yang terbukti menipu atau menjual barang yang tidak sesuai spesifikasi. Jadi, bagi saya, perdagangan digital yang sehat bukan hanya soal memperluas transaksi, tetapi juga memastikan ekosistemnya aman dan adil.

Dalam konteks perdagangan dalam negeri, tantangan berikutnya adalah bagaimana menjaga dan meningkatkan daya beli masyarakat. Salah satu cara yang kami tempuh adalah dengan menciptakan momentum belanja yang lebih terstruktur. Di negara lain, masyarakat mengenal Black Friday atau musim diskon besar. Di Indonesia, kami juga mulai membangun pola yang serupa. Ada Belanja di Indonesia Aja, ada Harbolnas untuk yang online, ada EPIC Sales, ada program-program diskon yang dikaitkan dengan momen besar seperti Natal dan Tahun Baru, Idulfitri, bahkan musim kembali sekolah. Bagi saya, pola seperti ini penting karena selain membantu menggerakkan konsumsi, ia juga memberi ruang bagi masyarakat untuk menikmati harga yang lebih terjangkau. Memang, tantangannya sekarang adalah bagaimana program-program seperti ini lebih tersosialisasi dengan baik, supaya publik tahu kapan momentum diskon itu hadir dan bisa benar-benar memanfaatkannya.

Tetapi sekali lagi, kementerian tidak bisa bekerja sendiri. Presiden sejak awal mengajarkan bahwa kita tidak mungkin mencapai target besar dengan ego sektoral. Karena itu, saya percaya kolaborasi lintas kementerian adalah syarat mutlak. Target pertumbuhan ekonomi, penguatan perdagangan, pembangunan sumber daya manusia, sampai langkah menuju Indonesia Emas 2045 tidak akan pernah tercapai kalau setiap institusi sibuk berjalan sendiri-sendiri. Yang dibutuhkan adalah semangat gotong royong, kesadaran bahwa kita punya tujuan yang sama, dan kemauan untuk meletakkan kepentingan bangsa di atas kenyamanan sektoral masing-masing.

Bagi saya, salah satu fondasi terpenting menuju Indonesia Emas adalah kualitas manusia kita. Karena itu saya melihat sangat jelas kenapa Presiden memberi perhatian besar pada program-program yang langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat: sekolah rakyat, makan bergizi gratis, kesehatan, dan pendidikan. Banyak orang melihat itu sebagai program sosial. Saya melihatnya juga sebagai fondasi ekonomi. Karena kalau kita ingin mengejar pertumbuhan yang lebih tinggi, maka kita harus memastikan bahwa modal manusianya kuat. Bonus demografi hanya akan menjadi bonus kalau kita sanggup menyiapkannya. Kalau tidak, ia justru bisa berubah menjadi beban.

Dalam perdagangan luar negeri, saya melihat Indonesia berada pada posisi yang cukup kuat. Kita berhasil menjaga surplus perdagangan dalam waktu yang panjang. Dan di tengah dinamika geopolitik global, saya melihat ini sebagai modal yang penting. Indonesia adalah negara nonblok. Artinya, kita tidak harus terseret menjadi kepanjangan tangan salah satu kutub. Kita bisa menjaga hubungan baik dengan banyak pihak sambil tetap mengutamakan kepentingan nasional. Itu penting sekali. Ketika perang dagang atau tekanan tarif datang, kita harus cerdas membaca ruang. Saya memandang keberhasilan Indonesia menegosiasikan tarif yang lebih rendah dibanding beberapa negara lain di Asia Tenggara sebagai pencapaian yang penting, dan itu menunjukkan bahwa diplomasi ekonomi kita bekerja.

Namun saya juga percaya, mempertahankan posisi itu tidak cukup. Kita harus memperluas pasar. Saat ini Indonesia memiliki representasi perdagangan di 33 negara dan Indonesia Trade Promotion Center di lebih dari 20 negara. Fungsinya bukan sekadar simbol diplomatik, tetapi sebagai sumber intelijen pasar. Kita harus tahu pasar mana yang sedang tumbuh, komoditas mana yang dibutuhkan, perilaku konsumennya seperti apa, dan peluang bisnisnya di mana. Karena tanpa itu, pelaku usaha kita akan terus merasa sendirian dan bingung harus mulai dari mana. Itulah sebabnya saya sangat menekankan pentingnya business matching. Kami lakukan itu setiap hari, di berbagai belahan dunia, secara online maupun tatap muka, mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan calon pembeli dari luar negeri. Bagi saya, ini sangat konkret: pelaku usaha tidak hanya diberi semangat, tetapi juga dipertemukan dengan pasar.

Saya juga melihat pentingnya portal seperti Ina Export, karena banyak pelaku usaha kita—terutama UMKM—sebenarnya punya mimpi menembus pasar global, tetapi tidak tahu pintu masuknya. Tugas pemerintah adalah memastikan bahwa mereka tahu bahwa mereka tidak berjuang sendirian. Ada layanan, ada data, ada fasilitasi, ada akses yang bisa mereka manfaatkan. Memang, tantangan terbesarnya adalah komunikasi. Menjembatani kebijakan dengan pemahaman publik itu tidak mudah. Tetapi justru di situlah pekerjaan rumah kita: membuat program-program itu lebih mudah dipahami, lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat, dan lebih bisa diakses oleh mereka yang betul-betul ingin tumbuh.

Ada banyak komoditas yang saya lihat punya masa depan sangat besar. Tentu ada komoditas besar yang selama ini sudah kita kenal. Tetapi saya juga sangat tertarik pada produk-produk bernilai tambah yang tumbuh dari kekuatan khas Indonesia: kopi, kakao, furnitur, rotan, bambu, sampai modest fashion dan Muslim fashion. Saya melihat sendiri bagaimana produk-produk seperti ini punya daya tarik kuat di pasar internasional. Furnitur dengan tekstur kayu, rotan, dan bambu misalnya, sangat diminati di pasar luar. Muslim fashion kita juga punya kekuatan, bahkan di kawasan Asia Tenggara sendiri. Artinya, Indonesia tidak kekurangan produk. Yang sering kurang adalah jembatan antara produk, pasar, dan strategi promosinya.

Saya juga percaya bahwa masa depan perdagangan Indonesia tidak bisa dipisahkan dari isu keberlanjutan. Bagi saya, sustainability bukan ornamen, melainkan tulang punggung pertumbuhan jangka panjang. Kita tidak bisa mengejar ekonomi sambil melupakan rumah kita sendiri, yaitu lingkungan. Dan yang menarik, pasar global juga bergerak ke arah sana. Di negara seperti Selandia Baru, misalnya, saya melihat bahwa kualitas produk tidak hanya diukur dari fungsinya, tetapi juga dari bagaimana ia diproduksi: apakah sehat, apakah ramah lingkungan, apakah menggunakan bahan yang baik untuk tubuh dan alam. Di titik inilah Indonesia justru punya peluang, karena kita punya banyak produk berbasis bahan alami—baik untuk makanan, fesyen, hingga kecantikan—yang sebenarnya sangat cocok dengan tren pasar global semacam itu.

Di sisi lain, kita juga harus siap dengan perubahan standar global. Ada tuntutan soal jejak karbon, ada regulasi-regulasi baru di pasar internasional, ada permintaan akan produk yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Ini menantang, tentu. Tetapi saya melihatnya juga sebagai kesempatan. Kalau kita bisa menyesuaikan diri lebih cepat, maka kita bukan hanya bertahan, tetapi juga unggul. Dan saya kira itu sejalan dengan komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi dan menempatkan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional.

Pada akhirnya, saya selalu kembali pada satu keyakinan: jantung perdagangan itu ada pada hubungan antarmanusia. People-to-people relations adalah fondasinya. Perdagangan memang bicara angka, kontrak, neraca, dan pasar. Tetapi di dasar semuanya, tetap ada manusia yang saling percaya, saling menghormati, dan saling membuka ruang kerja sama. Ketika hubungan itu baik, kerja sama lebih mudah tumbuh. Ketika manusia merasa dihormati, mereka lebih terbuka untuk membangun sesuatu bersama. Bagi saya, itu berlaku di tingkat global maupun di tingkat paling kecil dalam kehidupan ekonomi sehari-hari.

Dan kepada generasi muda, saya hanya ingin mengatakan satu hal: jangan cepat menyerah. Jatuh bangun itu normal. Gagal itu normal. Yang tidak boleh adalah berhenti karena satu kegagalan. Mental kita harus kuat. Apalagi kalau kita bicara tentang usaha, bisnis, atau cita-cita besar. Kadang satu bulan bagus, bulan berikutnya turun, lalu naik lagi, lalu turun lagi. Itu bagian dari proses. Maka tugas kita bukan menghindari proses, tetapi menikmatinya sambil terus belajar. Karena pada akhirnya, yang bertahan bukan selalu yang paling cepat, melainkan yang paling kuat menjaga semangatnya.

Disarikan dari wawancara eksklusive

Penulis
Redaksi
Jurnalis kami menyajikan berita dengan akurat dan berimbang untuk Anda.
Bagikan:
Link berhasil disalin