Logo
Home Opini

Mereka Sebut Saya "Profesor Dua Sendok Makan"

Prof. Carina Citra Dewi Joe
Prof. Carina Citra Dewi Joe Ilmuwan Bioteknologi
15 Oct 2025 | 04:00 WIB

Di dunia sains, saya belajar satu hal yang sangat sederhana tetapi sering dilupakan: penemuan tidak menjadi besar hanya karena rumit. Penemuan menjadi besar ketika ia bisa dipakai oleh banyak orang.

Itulah cara saya memandang pekerjaan saya selama ini. Banyak orang melihat sains dari hasil akhirnya: penghargaan, gelar, nama besar, atau klaim tentang penemuan yang mengubah hidup jutaan orang. Saya memahaminya. Tetapi di dalam laboratorium, cara berpikirnya jauh lebih dingin dan jauh lebih praktis. Pertanyaannya bukan apakah ini terdengar hebat. Pertanyaannya adalah: apakah ini bisa bekerja, apakah ini bisa diperbesar, apakah ini bisa diproduksi, dan apakah ini bisa diakses.

Itu pula yang terjadi ketika saya ikut terlibat dalam pengembangan vaksin COVID-19 yang dikenal luas sebagai AstraZeneca. Peran saya bukan pada sisi yang paling mudah diceritakan ke publik, melainkan justru pada sisi yang paling menentukan bagi kehidupan nyata: bagaimana sebuah vaksin yang bekerja di skala laboratorium dapat diubah menjadi sesuatu yang layak diproduksi dalam skala industri. Dari ribuan dosis menjadi miliaran. Dari sesuatu yang mungkin efektif secara ilmiah menjadi sesuatu yang benar-benar bisa menjangkau masyarakat luas. Dari teknologi yang terbatas menjadi solusi yang dapat dibeli, termasuk oleh negara-negara berkembang.

Bagi saya, di situlah sains menemukan martabatnya. Bukan ketika ia terdengar canggih, tetapi ketika ia menjadi murah, tersedia, dan relevan.

Sains modern terlalu sering dipuja sebagai wilayah para jenius yang bekerja dalam keheningan dan melahirkan keajaiban. Kenyataannya jauh lebih keras. Pada masa pandemi, saya bekerja 18 jam sehari, tujuh hari seminggu, selama bulan-bulan pertama. Bukan karena itu romantis, melainkan karena memang dibutuhkan. Tidak ada banyak waktu untuk merenung tentang arti besar dari apa yang kami kerjakan. Yang ada justru volume pekerjaan yang menumpuk, tekanan yang terus datang, dan keharusan untuk menemukan jalan teknis di tengah situasi yang luar biasa genting. Dalam keadaan seperti itu, seorang ilmuwan tidak hidup dari inspirasi. Ia hidup dari disiplin, daya tahan, dan kebiasaan untuk tetap bekerja ketika tubuh dan pikiran sama-sama lelah.

Karena itu saya sering merasa kata yang paling tepat untuk menggambarkan ilmuwan bukanlah “brilian”, melainkan resilien.

Eksperimen gagal adalah bagian normal dari hidup kami. Bahkan bisa dibilang, kegagalan adalah kurikulum utama dalam sains. Kita mencoba, salah, memperbaiki, mengulang, salah lagi, lalu mengulang kembali. Orang sering membayangkan laboratorium sebagai tempat lahirnya jawaban. Saya melihatnya sebagai tempat lahirnya ketekunan. Kalau tidak punya ketahanan mental, seseorang akan menyerah jauh sebelum sampai pada hasil.

Pandemi hanya memperbesar semua itu sampai ke titik ekstrem. Ada masa ketika saya jenuh, kosong, dan ingin keluar dari proyek. Itu manusiawi. Tetapi di situlah saya belajar bahwa ketekunan bukan berarti tidak pernah goyah. Ketekunan berarti tetap kembali bekerja bahkan setelah sempat goyah. Dalam sains, seperti dalam kehidupan, daya tahan bukan berarti Anda tidak pernah runtuh. Daya tahan berarti Anda punya alasan untuk bangkit lagi.

Alasan saya selalu sama: saya ingin penemuan memiliki legasi.

Setiap ilmuwan, pada akhirnya, ingin meninggalkan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Bagi saya, legasi itu bukan sekadar nama yang diingat, melainkan teknologi inti yang bisa dipakai ilmuwan lain untuk menciptakan penemuan berikutnya. Saya ingin menciptakan fondasi yang dapat diperluas, bukan monumen yang hanya dipandang. Karena itu saya selalu tertarik pada teknologi dasar, pada metode, pada struktur yang bisa direplikasi, disempurnakan, dan dipakai untuk memecahkan masalah yang lebih besar. Itulah juga mengapa ukuran tertinggi dalam sains bukan popularitas, melainkan dampak. Penemuan yang baik adalah penemuan yang menaikkan standar hidup manusia.

Barangkali karena cara berpikir seperti itu pula saya mendapat julukan “profesor dua sendok makan”. Julukan itu terdengar ringan, hampir lucu, tetapi sesungguhnya ia menjelaskan sesuatu yang sangat penting dalam sains. Kita selalu mulai dari skala kecil. Dari simulasi yang sederhana. Dari volume yang nyaris remeh. Karena bahan obat mahal, karena eksperimen besar tidak bisa dilakukan sembarangan, dan karena efisiensi adalah bagian dari etika ilmiah itu sendiri. Dari dua sendok makan sel manusia di tabung kecil, proses kemudian dinaikkan bertahap, sampai ribuan liter. Dari yang kecil, yang terukur, yang sabar. Dalam sains, kebesaran sering kali lahir dari kemampuan menghormati hal-hal kecil.

Mungkin karena itu pula hidup saya bergerak ke arah yang bagi orang lain tampak tidak lurus. Saya belajar bioteknologi, lalu belajar public policy, ekonomi, bahkan pernah sekolah masak. Banyak yang menganggap itu acak. Saya melihatnya sebagai cara memahami dunia secara utuh. Ilmu pengetahuan tidak hidup sendirian. Ia harus bertemu regulasi, bertemu ekonomi, bertemu sistem produksi, bertemu kebutuhan masyarakat, dan bertemu kapasitas negara. Penemuan yang hebat pun bisa mati di meja presentasi bila tidak ada jalur kebijakan, model bisnis, atau ekosistem industri yang membawanya sampai ke publik.

Karena itu saya semakin percaya bahwa masa depan tidak berpihak pada orang yang hanya sangat dalam di satu sudut sempit, tetapi buta pada hubungan antarsudut lainnya. Saya cenderung percaya pada pentingnya menjadi generalis yang mengerti hulu dan hilir. Bukan berarti kedalaman tidak penting. Kedalaman tetap penting. Tetapi pengetahuan yang tidak tahu ke mana ia harus mengalir sering kali berhenti sebagai keunggulan akademik semata. Saya selalu mengajarkan: jangan hanya memahami molekulnya. Pahami pula ke mana molekul itu akan dibawa, siapa yang membutuhkannya, bagaimana ia diproduksi, dan kenapa ia belum sampai ke pasien yang membutuhkannya.

Dari situ, pembicaraan tentang Indonesia menjadi sangat penting bagi saya.

Saya bisa belajar di luar negeri. Saya bisa bekerja di negara-negara dengan fasilitas lebih mapan. Saya bahkan pernah punya kesempatan untuk mengambil kewarganegaraan lain melalui jalur talenta global. Tetapi saya tetap memilih Indonesia. Bukan karena saya menolak dunia luar, melainkan justru karena saya tahu betul betapa besar jarak antara negara yang sudah memiliki banyak pilihan teknologi dan negara yang masih terlalu bergantung pada impor dengan harga yang tidak adil bagi banyak warganya. Saya ingin ilmu yang saya bangun menemukan dampak paling besar di tempat yang paling membutuhkannya. Dan bagi saya, tempat itu adalah Indonesia.

Indonesia, dalam pandangan saya, punya modal besar tetapi juga kekurangan yang sangat jelas. Kita kaya biodiversitas. Potensi herbal kita besar. Tetapi hilirisasi masih lemah. Transfer teknologi masih terbatas. Industri farmasi berbasis teknologi modern berstandar internasional masih belum cukup dalam. Fasilitas bisa dibangun. Peralatan bisa dibeli. Tetapi yang paling sulit dan paling penting tetap manusia. Kita membutuhkan SDM yang terlatih, berpengalaman, dan terhubung dengan kebutuhan industri. Kita harus menutup jurang antara kampus dan dunia produksi. Selama universitas mengajarkan sesuatu yang tidak dibutuhkan industri, dan industri bergerak tanpa dukungan riset yang kuat, kita akan terus menjadi pasar bagi penemuan orang lain.

Bagi saya, inilah agenda yang lebih besar daripada sekadar merayakan sosok ilmuwan sukses. Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak simbol. Indonesia membutuhkan lebih banyak sistem yang membuat talenta bisa tumbuh.

Itu juga sebabnya saya tidak alergi pada gagasan anak muda Indonesia pergi ke luar negeri. Saya tidak melihat “kabur dulu” selalu sebagai bentuk pesimisme. Kadang itu adalah cara menangkap kesempatan. Saya sendiri belajar dan berkarya di luar. Tetapi ada syarat penting: jangan pergi karena menyerah sebelum bertanding. Pergilah dengan persiapan. Pergilah dengan kemampuan. Pergilah dengan kalkulasi. Dan kalau suatu hari ada ruang untuk kembali, atau ada kesempatan untuk memberi dampak di tanah air, ambillah. Dunia di luar negeri bukan surga tanpa masalah. Di sana pun ada kompetisi, penurunan industri, tekanan, dan risiko. Yang menentukan bukan lokasinya, melainkan kapasitas kita untuk bertahan dan terus relevan.

Kalau saya boleh menyederhanakan seluruh perjalanan ini, maka pesannya hanya satu: ilmu harus bekerja.

Ia harus bekerja di laboratorium, tentu. Tetapi lebih dari itu, ia harus bekerja di pabrik, di rumah sakit, di pasar, dalam kebijakan, di ruang kelas, dan dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu yang tidak sampai kepada manusia hanya akan menjadi kemewahan intelektual. Saya tidak tertarik pada itu. Saya tertarik pada pengetahuan yang bisa menolong, menurunkan biaya, memperluas akses, dan memberi negara seperti Indonesia kemampuan untuk berdiri lebih tegak.

Saya tetap percaya bahwa Indonesia bisa melahirkan lebih banyak ilmuwan kelas dunia. Tetapi untuk itu, kita harus berhenti menganggap sains sebagai wilayah elitis yang berdiri jauh dari kebutuhan bangsa. Sains harus menjadi bagian dari proyek nasional. Ia harus dipandang sebagai infrastruktur masa depan.

Dan bagi saya pribadi, selama masih ada masalah kesehatan besar yang belum terpecahkan, pekerjaan itu belum selesai. Kanker, diabetes, penyakit jantung, dan hipertensi masih menjadi beban besar di Indonesia. Tantangan kita bukan cuma menemukan obat baru, tetapi juga memastikan bangsa ini tahu cara memproduksi, mengembangkan, dan pada akhirnya menguasai teknologinya sendiri. Dari sanalah kedaulatan kesehatan bermula. Bukan dari slogan, melainkan dari kemampuan.

Kalau suatu hari saya bisa meninggalkan sesuatu, saya berharap itu bukan sekadar cerita bahwa seorang ilmuwan Indonesia pernah bekerja di pusat riset dunia. Saya berharap yang tertinggal adalah bukti bahwa ilmu pengetahuan, bila digarap dengan sabar dan diarahkan dengan benar, bisa menjadi jalan paling tenang sekaligus paling kuat untuk memperbaiki nasib banyak orang.

Disarikan dari wawancara eksklusive

Penulis
Redaksi
Jurnalis kami menyajikan berita dengan akurat dan berimbang untuk Anda.
Bagikan:
Link berhasil disalin