Logo
Home Opini

Saya Office Boy Pengelola Bisnis Dengan Keuntungan Rp. 120 Miliar

Angga Budi Kusuma
Angga Budi Kusuma Direktur Utama Pesona Kahuripan Group
07 Oct 2025 | 02:01 WIB

Ada banyak orang mengira keberhasilan lahir dari perencanaan yang rapi, strategi yang presisi, dan jaringan yang kuat. Saya tidak bilang itu salah. Tetapi hidup saya justru berjalan dari arah yang hampir berlawanan. Saya tidak lahir dari keluarga berada. Saya tidak punya koneksi. Saya tidak memulai dari ruang rapat. Saya memulai dari pekerjaan yang oleh banyak orang bahkan tidak dianggap sebagai gerbang menuju kepemimpinan: office boy. Sebelum itu, saya bahkan memulai dari keadaan yang lebih rendah lagi, ketika hidup terasa seperti rangkaian kehilangan, rasa malu, dan kebingungan yang terlalu panjang untuk disebut sekadar kesulitan.

Saya pernah hidup berpindah-pindah. Pernah tidur di masjid, di gereja, di warung, di rumah teman. Pernah menahan lapar. Pernah merasa hidup tidak punya guna. Pernah marah kepada Tuhan dengan pertanyaan yang mungkin juga dimiliki banyak orang, tetapi tidak semua berani mengucapkannya: kalau Engkau adil, mengapa hidup saya seperti ini? Pada masa seperti itu, saya tidak sedang membangun mimpi besar. Saya hanya sedang berusaha agar tidak tenggelam lebih jauh. Bahkan saat akhirnya masuk bekerja di Pesona Kahuripan, saya datang bukan dengan ambisi karier yang tinggi, melainkan karena saya butuh kegiatan agar tidak terus berdiam di kepala saya sendiri. Diam, saat itu, adalah kemewahan yang berbahaya. Kalau saya terlalu banyak bengong, depresi saya justru makin jadi.

Maka saya bekerja. Saya bersih-bersih. Saya menyapu, mengepel, membersihkan meja, kaca, kamar mandi, dapur, mencuci motor dan mobil yang terparkir. Saya melakukannya bukan dengan gagasan bahwa suatu hari saya akan menjadi direktur utama. Saya melakukannya karena saya butuh bergerak agar tetap waras. Tetapi justru dari situ hidup saya mulai berubah, karena di satu titik saya dipertemukan dengan seseorang yang bagi saya lebih dari sekadar pemilik perusahaan. Ia menjadi guru kehidupan saya. Ia bertanya kepada saya, apakah saya percaya bahwa semuanya milik Tuhan. Saya menjawab iya, tetapi sejujurnya saya belum memahami apa konsekuensi dari jawaban itu. Ketika beliau mengatakan, kalau semuanya milik Tuhan maka masalah dan utang pun milik Tuhan, saya bahkan sempat bingung dan bertanya: kalau saya yang membuat masalah, kenapa Tuhan yang harus menyelesaikan? Itu pertanyaan logika saya. Tetapi justru dari situlah pelajaran dimulai.

Pelan-pelan saya diajari bahwa mendekat kepada Tuhan bukan hanya soal ritual untuk diri sendiri, tetapi juga soal bagaimana membuat orang lain senang. Saya menangkap satu gagasan yang mengubah hidup saya: ibadah yang paling jelas bukan untuk diri saya adalah menyenangkan orang lain. Dari sana lahir semacam hobi baru dalam hidup saya, yakni membuat orang lain senang. Saya mulai dari hal-hal yang paling kecil. Apakah orang tidak senang jika motornya dicucikan? Apakah orang tidak senang bila meja kerjanya bersih, kamar mandinya wangi, dan kopinya sudah tersedia ketika ia duduk? Di titik itu saya belum sedang membangun karier. Saya hanya sedang melatih hati untuk menikmati manfaat yang sangat sederhana: kehadiran saya membuat hidup orang lain sedikit lebih enak.

Dan sering kali hidup berubah bukan ketika kita bersiap untuk perubahan besar, tetapi justru ketika kita sibuk mengerjakan tugas-tugas kecil dengan sungguh-sungguh. Suatu sore, ketika saya sedang menyiram, datang seorang tamu yang bertanya tentang rumah. Saya bukan marketing. Saya bahkan belum tahu lokasi proyek dengan baik. Tetapi saya jujur, saya bacakan brosur yang saya lihat, saya jawab sebisanya, saya akui apa yang saya tidak tahu. Besoknya saya justru dipanggil ke kantor tamu itu, karena ia sedang mencari rumah untuk karyawan-karyawannya. Banyak orang menyebut itu keberuntungan. Saya melihatnya sebagai hadiah dari Tuhan. Bukan karena saya lebih hebat daripada para marketing yang tiap hari berkeliling, melainkan karena hidup memang tidak selalu dibuka oleh orang yang paling siap secara formal. Kadang ia dibuka untuk orang yang hadir sepenuhnya di tugas kecil yang sedang ia jalani.

Dari sana, kepercayaan datang. Saya merasa hidup kembali. Dari orang yang penuh takut, saya pelan-pelan menjadi orang yang punya pegangan. Bukan karena tiba-tiba semua masalah hilang, tetapi karena cara saya memandang hidup berubah. Saya mulai percaya bahwa saya tidak punya apa-apa dan tidak bisa apa-apa. Banyak orang mendengar kalimat itu sebagai kekalahan. Saya justru memahaminya sebagai kebebasan. Selama saya merasa segala sesuatu terjadi karena saya, saya akan dibebani oleh ego, oleh rasa memiliki, oleh ketakutan kehilangan. Tetapi ketika saya memposisikan diri hanya sebagai orang yang sedang dipakai untuk menjalankan rencana Tuhan, saya bisa bekerja dengan lebih ringan, lebih tenang, dan justru lebih berani. Itulah latihan yang saya terus jaga sampai sekarang, bahkan ketika perusahaan yang saya pimpin memiliki omzet besar. Saya takut kalau suatu hari saya mengakui: ini karena saya, ini punya saya. Bagi saya, di situlah justru semua bisa hilang.

Mungkin karena itulah hidup saya tetap terasa aneh bagi banyak orang. Saya bisa memimpin grup properti besar, tetapi masih tinggal di rumah FLPP pertama yang dulu saya cicil. Saya bisa membeli rumah yang jauh lebih besar, tetapi saya memilih tinggal di rumah yang terasa cukup. Saya punya mobil, tetapi hanya satu. Saya tidak tertarik membeli kemewahan hanya karena saya sudah bisa. Saya bahkan bercanda, saya tidak mau naik Alphard karena malu dikira sopir. Bagi sebagian orang, itu mungkin terlihat seperti sikap anti-kemapanan. Bagi saya, itu cuma sederhana: saya sudah merasa nyaman. Rumah ada. Istri baik. Anak ada. Kendaraan ada. Jabatan ada. Pekerjaan ada. Apa lagi yang sebenarnya sedang saya kejar? Kalau semua itu sudah cukup untuk hidup enak, kenapa saya harus memaksa diri membuktikan sesuatu kepada dunia?

Yang jauh lebih penting bagi saya adalah bagaimana bisnis itu dijalankan. Dan di sinilah saya mungkin berbeda dari cara berpikir umum. Saya sungguh percaya bahwa keuntungan saya adalah menguntungkan orang lain. Banyak orang akan menganggap ini terlalu idealistis. Saya justru melihatnya sangat praktis. Dalam bisnis rumah subsidi, misalnya, saya rela memangkas keuntungan per unit. Sebagian saya alokasikan untuk membeli tanah yang lebih mahal agar lokasinya lebih strategis dan dekat dengan lingkungan pembeli. Sebagian lagi saya pakai untuk memperbaiki kualitas proyek: jalan dicor lebih dulu, taman dibaguskan, sarana dan prasarana dirapikan, rumah dibangun dengan lebih layak. Sisanya saya pakai untuk promosi agar penjualan bergerak cepat. Orang sering bertanya: bukankah itu mengurangi margin? Ya, memang. Tetapi orang lupa bahwa margin besar yang lambat berputar bisa kalah nilainya dibanding margin lebih kecil yang cepat laku. Kalau orang lain menunggu empat tahun untuk menjual seribu unit, saya lebih memilih memangkas keuntungan per unit tetapi menghabiskannya dalam enam bulan. Pada akhirnya keuntungan tetap datang, bahkan lebih besar. Bedanya, ia datang lewat jalan yang lebih sehat: pembeli senang, produk lebih baik, perputaran lebih cepat.

Saya kira di situlah letak salah paham paling umum tentang bisnis. Banyak orang mengira keuntungan didapat dengan menahan sebanyak mungkin untuk diri sendiri. Saya justru belajar bahwa keuntungan sering datang lebih cepat kepada orang yang lebih dulu mendistribusikan manfaat. Kalau lokasi lebih baik, orang mau beli. Kalau jalannya bagus, orang percaya. Kalau rumahnya rapi, orang merekomendasikan. Kalau penjualnya semangat karena diperlakukan baik, pasar bergerak. Bisnis yang sehat bukan bisnis yang hanya mengekstrak. Bisnis yang sehat adalah bisnis yang membuat semua pihak di sekelilingnya ikut merasakan hasil.

Pandangan itu juga memengaruhi cara saya melihat program perumahan subsidi. Saya percaya program 3 juta rumah itu masuk akal, bahkan sangat penting, terutama bila berbicara tentang backlog kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Rumah dengan cicilan yang realistis tetap menjadi salah satu jalan paling masuk akal bagi rakyat kecil. Tantangannya bukan pada gagasannya, melainkan pada sinergi pelaksanaannya. Negara bisa membuat kebijakan yang pro-rakyat, tetapi bila di tingkat pelaksanaan masih ada orang-orang yang mengganjal, memperlambat, atau bermain sendiri, maka niat baik itu macet di lapangan. Karena itu saya percaya, untuk membuat sektor ini bergerak, yang dibutuhkan bukan hanya insentif, tetapi juga keberanian mengubah cara pikir developer. Begitu mereka melihat bahwa rumah subsidi juga bisa menguntungkan bila dikelola dengan niat dan model yang tepat, mereka justru akan ketagihan masuk ke sektor ini.

Cara saya melihat konflik pun lahir dari prinsip yang sama. Bahkan dalam urusan sengketa tanah, saya lebih suka duduk bareng secara kekeluargaan daripada buru-buru mengandalkan kemenangan formal. Saya bukan meremehkan hukum. Negara ini negara hukum, dan saya paham pentingnya legalitas. Tetapi hidup tidak hanya terdiri dari apa yang bisa dimenangkan di pengadilan. Kadang menang secara hukum tetap meninggalkan korban sosial, biaya besar, waktu terbuang, dan kebencian yang diwariskan. Kalau masalah bisa selesai dengan mengembalikan harga yang masuk akal, memberi sedikit lebih, lalu tidur malam dengan tenang tanpa merasa menyakiti orang lain, saya melihat itu sebagai pilihan yang lebih menguntungkan dalam pengertian yang lebih luas. Tidak semua efisiensi diukur oleh neraca. Ada efisiensi batin, efisiensi waktu, dan efisiensi luka.

Semua ini, pada akhirnya, kembali ke satu prinsip yang saya pegang: kalau tidak bisa bermanfaat, minimal jangan merugikan. Kalau tidak bisa menyenangkan, minimal jangan menyakiti. Dan kalau ingin naik level dalam hidup, jangan terlalu banyak protes. Saya bukan mengatakan orang tidak boleh berpikir kritis. Maksud saya lebih sederhana: ketika sesuatu hadir, regulasi hadir, masalah hadir, pandemi hadir, jangan buru-buru menolaknya hanya karena kita tidak suka. Terima dulu. Kalau sudah diterima, kita pelajari. Kalau sudah dipelajari, baru kita bisa menemukan jalan keluar. Orang yang kebanyakan protes sering kali berhenti sebelum belajar. Orang yang menerima, meski berat, justru punya peluang naik level karena ia masih membuka diri untuk memahami. Pelajaran yang paling mahal sering kali memang datang dalam bentuk masalah. Tetapi justru karena mahal itulah, nilainya mengangkat hidup.

Karena itu, ketika orang bertanya kepada saya apa yang harus dikatakan kepada mereka yang terlilit utang, pinjol, judi online, atau rasa putus asa, jawaban saya bukan motivasi kosong. Saya hanya ingin mengatakan: jangan terlalu takut pada masa depan yang belum tentu terjadi, dan jangan terlalu tenggelam di masa lalu yang sudah lewat. Banyak orang hancur bukan oleh kenyataan hari ini, tetapi oleh bayangan tentang apa yang mungkin terjadi besok. Nama baik saya hancur. Orang akan mencari saya. Semua orang akan tahu. Kadang semua itu belum tentu terjadi, tetapi pikiran kita sudah lebih dulu menyiksa diri. Yang saya pelajari dari hidup adalah ini: hidup itu sekarang, di sini, saat ini. Kalau sedang di jalan, ya hiduplah di jalan. Kalau sedang di rumah, ya hiduplah di rumah. Sebaik-baik hidup adalah yang bermanfaat bagi orang yang ada di sekitar kita sekarang, bukan yang sibuk gemetar oleh kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu lahir.

Mungkin itulah alasan saya masih percaya bahwa salah satu obat bagi banyak persoalan sosial adalah pekerjaan yang layak dan kesempatan yang terbuka. Orang yang dapurnya aman tidak akan mudah tergoda ke jalan-jalan yang merusak. Orang yang punya penghasilan yang halal dan cukup punya peluang lebih besar untuk menjaga harga dirinya tanpa harus terjebak pada lingkaran utang dan keputusasaan. Karena itu saya punya cita-cita sederhana, tetapi bagi saya sangat besar: membuka lapangan kerja seluas-luasnya, bahkan untuk mereka yang ditolak di tempat lain. Yang tidak diterima di perusahaan orang lain, bekerja saja dengan saya. Kalau semakin banyak orang punya pekerjaan yang layak, saya percaya banyak masalah yang hari ini kita tangisi bisa perlahan mengecil.

Kalau saya harus merangkum seluruh perjalanan hidup saya dalam satu kalimat, mungkin bunyinya begini: saya tidak pernah sungguh-sungguh mengejar kekayaan; saya hanya berusaha menjadi orang yang tidak sia-sia. Dan mungkin justru karena saya berhenti memusatkan hidup pada diri saya sendiri, Tuhan membuka jalan yang tidak pernah saya rancang. Dari office boy, dari orang yang pernah tidur berpindah-pindah dan merasa hidupnya tamat, saya justru diajak masuk ke sebuah peran yang dulu sama sekali tidak pernah saya bayangkan. Bagi saya, itu bukan bukti bahwa saya hebat. Itu bukti bahwa hidup, ketika dijalani dengan syukur, manfaat, dan kerendahan hati, sering kali bergerak lebih jauh daripada logika kita sendiri.

Kehormatan dari Seorang Jenderal dan Hakikat Rasa Syukur

Ketika Presiden Prabowo Subianto secara terbuka menyatakan, "Saya jenderal, tapi saya hormat sama kamu," pada acara serah terima akad 26.000 rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), saya terhenyak. Pujian beliau yang menyoroti pencapaian 120 miliar tanpa korupsi adalah sebuah kehormatan besar. Namun di balik euforia tersebut, saya menyadari satu hal fundamental: Tuhan sedang mempertontonkan kebesaran-Nya. Peristiwa ini bukan sekadar validasi atas siapa saya hari ini, melainkan sebuah dorongan untuk terus berinovasi. Sebagai bentuk aplikasi rasa syukur, saya berkomitmen untuk terus meningkatkan mutu, kualitas, dan pelayanan di sektor perumahan subsidi.

Dari Titik Terendah Menuju Kesadaran Diri

Banyak pengamat bisnis mungkin melihat posisi saya sebagai Direktur Utama Pesona Kahuripan Grup sebagai hasil dari kalkulasi korporat yang rumit. Kenyataannya, perjalanan ini dimulai dari sebuah titik terendah. Saya pernah terpuruk dalam depresi dan ketakutan yang melumpuhkan. Untuk bertahan agar tidak kehilangan kewarasan karena terlalu banyak melamun, saya mencari kegiatan. Takdir membawa saya ke Pesona Kahuripan, di mana saya memulai peran sebagai seorang office boy. Saya menyapu, mengepel, membersihkan meja, menyikat kamar mandi, hingga mencuci motor dan mobil di tempat parkir. Bagi saya saat itu, yang terpenting adalah tubuh ini tidak boleh diam tanpa aktivitas.

Ekonomi Kebahagiaan dan Paradigma Kepemilikan

Transformasi pemikiran saya dipicu oleh sebuah dialog dengan Bapak Wawan Rianto, pemilik perusahaan saat itu. Ketika saya sedang menyendiri karena merasa minder, beliau memanggil saya. Beliau tidak berbicara soal target penjualan, melainkan menanamkan sebuah kesadaran radikal bahwa langit, bumi, berikut isinya, bahkan roh dan jasad kita adalah murni milik Tuhan. Beliau menegaskan bahwa jika kita meyakini hal tersebut, maka masalah dan utang yang membelit kita pun sejatinya urusan Tuhan.

Awalnya logika saya memberontak. Bagaimana mungkin masalah yang saya ciptakan harus diselesaikan oleh Tuhan? Jawabannya ternyata terletak pada konsep kedekatan dengan Sang Pencipta. Saya belajar bahwa ibadah yang paling berdampak adalah membuat orang lain senang. Saya pun mulai menerjemahkan filosofi ini ke dalam tugas keseharian saya. Saya memastikan motor karyawan bersih, meja bebas debu, kamar mandi wangi, dan kopi selalu tersaji. Saya menjadikan rutinitas menyenangkan orang lain ini sebagai kebiasaan yang konsisten.

Keajaiban Sebuah Brosur dan Kepercayaan Berkelanjutan

Filosofi pelayanan tersebut membuahkan hasil yang secara logika bisnis sulit dijelaskan. Suatu sore di bulan kedelapan saya bekerja, saya sedang menyiram tanaman ketika seorang tamu datang menanyakan perumahan. Sebagai office boy, saya bukanlah tenaga penjual. Saya hanya membacakan brosur yang ada, dan ketika ditanya lokasi, saya menunjuk hamparan sawah sambil berkata sejujurnya bahwa saya belum tahu persis letaknya. Ajaibnya, kejujuran itu justru membangun kepercayaan. Menjelang magrib, tamu tersebut memberikan kartu nama dan mengundang saya ke kantornya keesokan harinya untuk menyediakan rumah bagi karyawannya. Itu bukanlah kehebatan saya, melainkan hadiah langsung dari Tuhan.

Memimpin dengan Prinsip Ketiadaan

Peristiwa tersebut menjadi katalisator bagi kepercayaan yang jauh lebih besar dari Pak Wawan. Saya merasa hidup kembali dari keterpurukan. Perjalanan karir saya melampaui batas wajar: masuk pada tahun 2017, menjadi direktur pada 2018, dan puncaknya pada 2021, Pak Wawan mundur dari kepengurusan serta menunjuk saya sebagai penggantinya, melampaui kerabat maupun keturunannya sendiri.

Hari ini, memimpin grup dengan perputaran nilai 120 miliar rupiah adalah sebuah ujian kedisiplinan mental. Saya memilih tetap hidup sederhana. Bahkan ketika ada yang bertanya mengapa saya tidak mengganti kendaraan ke mobil mewah seperti Alphard, saya menjawab bahwa saya malu dan takut dikira sopir. Menjaga kesadaran bahwa saya tidak punya apa-apa dan tidak bisa apa-apa, justru ketika angka-angka perusahaan membesar, adalah tantangan tersulit. Saya amat takut apabila suatu saat muncul ego yang mengakui bahwa ini semua adalah jerih payah saya, maka segalanya akan musnah. Saya akan terus melatih diri dalam koridor ini: meyakini bahwa semuanya murni kepunyaan Tuhan, dan saya di sini sekadar menjalankan peran yang dititipkan-Nya.

Disarikan dari wawancara eksklusive

Penulis
Redaksi
Jurnalis kami menyajikan berita dengan akurat dan berimbang untuk Anda.
Bagikan:
Link berhasil disalin