MBG, Jalan Tol untuk Mengatasi Kemiskinan
Ada kesalahan yang berulang kali saya lihat dalam cara orang membaca Program Makan Bergizi Gratis. Program ini terlalu sering dipotong hanya sampai ujung sendok dan piring. Seolah-olah seluruh urusannya hanya soal nasi, lauk, dan kotak makan yang sampai ke tangan anak-anak. Padahal, kalau kita berhenti di sana, kita sedang memandang sesuatu yang besar dengan kaca pembesar yang terlalu kecil.
Saya justru melihat MBG sebagai jalan tol untuk mengatasi kemiskinan. Saya sengaja memakai istilah itu karena program ini, kalau dijalankan dengan benar, tidak hanya mengisi perut, tetapi juga menggerakkan mesin ekonomi rakyat dari bawah. Ia menciptakan kerja, membangun pasar bagi petani, menghidupkan dapur-dapur produksi, menarik tenaga ahli gizi, mengaktifkan rantai pasok lokal, dan pada akhirnya membuat uang berputar lebih lama di tangan masyarakat kecil. Itu sebabnya saya sering merasa heran ketika ada yang menyederhanakannya menjadi, “Ya cuma makan gratis.” Tidak. Ini bukan “cuma”. Ini justru salah satu intervensi negara yang paling konkret di wilayah yang paling mendasar: tubuh manusia, martabat keluarga, dan kemampuan anak untuk tumbuh dengan peluang yang lebih adil.
Saya tahu betul, karena saya terlalu lama hidup di antara orang miskin untuk tidak mengerti arti satu porsi makanan bagi mereka. Saya tahu anak-anak yang pergi ke sekolah tanpa bekal. Saya tahu anak-anak yang bahkan tak jadi sekolah karena tidak punya seragam. Saya tahu rumah-rumah yang bagi banyak orang kota mungkin tidak lagi dianggap rumah. Maka ketika saya mendengar orang berkata, “MBG lebih baik diganti beasiswa saja,” saya paham logikanya, tetapi saya juga tahu mereka sering berbicara dari jarak yang terlalu nyaman. Beasiswa penting. Sekolah penting. Tetapi anak yang lapar tetap tidak bisa berkonsentrasi. Anak yang gizinya buruk tetap datang ke ruang kelas dengan tubuh yang tertinggal jauh. Dan negara yang membiarkan itu terlalu lama sebenarnya sedang membiarkan kemiskinan diwariskan dalam bentuk yang paling kejam: tubuh yang tak pernah sempat tumbuh optimal.
Di sinilah saya merasa banyak orang belum menangkap dimensi sebenarnya dari program ini. MBG bukan hanya tentang anak yang makan hari ini. Ia juga tentang tukang tempe yang besok harus menambah pekerja, petani sayur yang tak lagi membuang hasil panennya karena harga jatuh, peternak telur yang akhirnya punya offtaker pasti, ahli gizi yang terserap, dan dapur-dapur yang berubah menjadi pusat ekonomi mikro. Kalau satu dapur menyerap puluhan orang, lalu dapur-dapur itu bertambah ribuan, kita tidak lagi bicara sekadar konsumsi; kita sedang bicara penciptaan lapangan kerja dalam skala yang sangat besar. Saya bahkan melihat langsung bagaimana komoditas yang sebelumnya lemah harganya mulai bergerak karena permintaan dari dapur-dapur itu. Inilah yang saya maksud sebagai jalan tol. Ia tidak berputar di satu titik. Ia menarik banyak kendaraan sekaligus.
Karena itu, bagi saya, multiplier effect dari MBG bukan teori yang indah di atas kertas. Ia hidup di lapangan. Ia terlihat di pedagang, di pemasok, di orang-orang yang sebelumnya tidak punya pekerjaan, lalu kini masuk ke ekosistem yang lebih produktif. Orang sering lupa bahwa pengentasan kemiskinan tidak selalu lahir dari pidato yang muluk. Kadang ia lahir dari keputusan sederhana tetapi masif: memastikan anak makan, lalu memastikan bahan makanan itu dibeli dari rakyat sendiri. Di situlah program sosial berhenti menjadi belas kasihan, dan mulai menjadi strategi ekonomi.
Tetapi tentu saja, saya tidak datang untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Justru karena saya percaya program ini penting, saya tidak bisa membiarkan pelaksanaannya kacau tanpa koreksi. Saya sudah mengatakan secara terbuka: kalau sampai hari ini ada hal-hal yang tidak kita inginkan, kalau ada keracunan, kalau ada makanan yang tidak layak, kalau ada tata kelola yang meleset, kami harus mengakuinya. Saya minta maaf untuk itu. Negara tidak boleh gengsi meminta maaf ketika menyangkut nyawa anak-anak. Dan lebih dari itu, negara harus bekerja mati-matian memperbaikinya.
Dari pengamatan saya di lapangan, sebagian besar problem yang muncul sejauh ini memang sangat teknis, dan karena justru teknis, ia tidak boleh diremehkan. Ada dapur yang memasak terlalu awal sehingga makanan melewati batas waktu aman. Ada SOP yang tidak dijalankan. Ada pengawasan yang longgar. Ada mitra yang, setelah lolos dan mulai mendapat pemasukan, justru tidak disiplin menjaga standar. Dalam urusan seperti ini saya keras. Saya bisa marah, dan saya memang marah, karena ini bukan urusan remeh. Tidak boleh ada dapur yang merasa setelah masuk, lalu boleh bekerja seenaknya. Kalau mau jadi mitra setengah mati mengejar, tapi setelah dapat justru lalai mengawasi, itu tidak bisa ditoleransi. Kita bisa tutup dan ganti. Yang antre banyak. Program sebesar ini tidak boleh dikendalikan oleh rasa permisif.
Tetapi setelah saya masuk lebih dalam sebagai tim investigasi, saya juga melihat bahwa masalahnya tidak sesederhana “dapur lalai”. Ada unsur persaingan bisnis yang keras di baliknya. Ada dapur yang tidak lolos atau belum lolos, lalu punya insentif untuk menjatuhkan yang lain. Ada kompetisi masuk sistem yang begitu ketat sehingga lahir manuver-manuver yang kadang tidak sehat. Ada supplier, ada jaringan kepentingan, ada ego, dan ya, dalam program sebesar ini, kita tidak bisa menutup mata bahwa politik pun mengendus peluang. Ini program yang terlalu seksi, baik secara bisnis maupun secara politik. Kalau berhasil, dampaknya besar. Karena itu yang ingin ikut masuk banyak sekali; dan yang ingin ia tampak gagal pun pasti ada. Saya tidak sedang berteori konspirasi. Saya sedang mengatakan bahwa program publik sebesar ini selalu menarik kepentingan dari berbagai arah. Dan justru karena itulah pengawasan harus jauh lebih keras daripada biasanya.
Saya tidak takut dengan kritik. Malah saya butuh kritik. Saya justru curiga pada sistem yang terlalu antikritik. Kalau masyarakat menemukan masalah, laporkan. Kalau media melihat kejanggalan, beritakan. Kalau ada kesalahan SOP, buka. Kalau ada penyimpangan, bongkar. Di zaman seperti sekarang, apa sih yang benar-benar bisa ditutup rapat? Lagi pula, menutup masalah hanya akan memperpanjang masalah. Saya lebih memilih menerima tamparan kritik hari ini daripada membiarkan masalah membusuk dan meledak besok. Karena tujuan kami bukan menjaga citra program, tetapi menyelamatkan tujuannya. Itu dua hal yang sangat berbeda.
Namun saya juga ingin publik adil. Kritiklah yang memang salah. Seranglah yang memang lalai. Awasi setajam mungkin. Tetapi jangan ikut menyebarkan hoaks, jangan memelintir konteks, dan jangan dengan sengaja mengecilkan arti program ini hanya karena kebetulan Anda tidak menyukai orang yang menjalankannya. Ada perbedaan besar antara mengoreksi dan ingin menggagalkan. Mengoreksi itu sehat. Menggagalkan demi kepentingan politik itu kejam. Sebab yang sedang dipertaruhkan di sini bukan sekadar kemenangan narasi, melainkan hak anak-anak miskin untuk makan lebih layak.
Saya kira ada satu hal yang perlu dipahami dengan jernih: visi Prabowo tentang MBG ini bukan gagasan dadakan. Bukan lahir karena kamera. Bukan juga proyek kosmetik kekuasaan. Saya sudah terlalu lama menyaksikan bagaimana ia berbicara tentang rakyat kecil, tentang anak-anak miskin, tentang orang-orang yang bahkan tak punya kesempatan memilih lahir di keluarga seperti apa. Saya pernah melihat sendiri betapa emosionalnya dia ketika menyaksikan orang kecil di jalan. Saya pernah mendengar langsung kegelisahannya tentang anak-anak yang tidak bisa makan. Dan saya percaya, kalau seseorang terlalu lama konsisten pada kegelisahan yang sama, maka kita harus mulai menganggap itu sebagai keyakinan, bukan settingan.
Dalam pandangan saya, inti moral dari seluruh program ini sederhana: anak Indonesia, apapun latar belakang orang tuanya, tidak boleh tumbuh dengan nasib gizi yang timpang. Yang miskin tidak boleh terus-menerus kalah bahkan sebelum sempat belajar. Yang lahir di rumah sempit tidak boleh otomatis tumbuh dengan masa depan yang ikut sempit. Maka MBG, sekolah rakyat, dan program-program sejenis harus dibaca sebagai satu gugus pikiran yang sama: negara harus hadir lebih awal, lebih dekat, dan lebih nyata di dalam kehidupan mereka yang paling rentan. Bukan sekadar datang saat kampanye, bukan sekadar hadir dalam angka statistik, tetapi hadir di meja makan, di sekolah, di seragam, di dapur rumah, dan di harga sayur yang tak lagi jatuh.
Saya tidak mengatakan program ini sudah sempurna. Jauh dari itu. Bahkan saya sendiri merasa jabatan dan tugas ini adalah ujian yang berat. Tetapi justru karena berat, ia tidak boleh dikerjakan dengan sinisme. Ia harus dikerjakan dengan kesungguhan. Saya lebih senang masyarakat terlibat mengawasi daripada duduk sinis di pinggir lalu menyimpulkan semuanya gagal. Bantu kami melihat apa yang tidak kami lihat. Tegur kami saat salah. Paksa kami membaik. Tetapi jangan cabut harapan dari anak-anak yang baru saja mulai merasakan bahwa negara akhirnya mengenali mereka.
Pada akhirnya, saya percaya program seperti ini akan diuji bukan oleh tepuk tangan, tetapi oleh ketekunan memperbaiki diri. Dan kalau kita jujur, Indonesia memang butuh lebih banyak program yang berani menyentuh persoalan dasar secara langsung. Bukan hanya untuk membuat anak kenyang hari ini, tetapi agar generasi yang akan datang tidak lagi tumbuh dengan garam sebagai lauk dan rasa minder sebagai warisan. Itulah yang sedang dipertaruhkan. Bukan cuma satu kotak makan, melainkan kemungkinan masa depan yang lebih adil.
Disarikan dari wawancara eksklusive