Logo
Home Opini

Dari Kurir Paket Ke Gubernur Banten: Mendeliveri Janji Pembangunan

Andra Soni
Andra Soni Gubernur Banten
09 Mar 2025 | 00:00 WIB

Mengantar Pesan, Menjemput Takdir

Banyak yang bertanya bagaimana saya, seorang mantan kurir, bisa mengalahkan kekuatan dinasti politik yang mengakar kuat di Banten. Jawabannya bukanlah sebuah keajaiban, melainkan pragmatisme kerja dan keselarasan visi. Dalam politik, seperti halnya kehidupan, saya hanya menjalankan takdir dan bekerja memaksimalkan waktu yang ada. Kemenangan ini adalah buah dari resonansi program kami dengan kebijakan nasional Bapak Prabowo Subianto, sebuah fenomena yang saya rasakan betul sebagai Prabowo Effect.

Saya tidak pernah merencanakan untuk berada di titik ini. Pada tahun 1998 hingga 2003, pekerjaan saya adalah mengantar surat di sebuah perusahaan kurir di Mampang Prapatan. Saat itu, krisis moneter menumbangkan banyak usaha, dan saya baru saja kehilangan pekerjaan sebagai buruh bangunan pada tahun 1997. Namun, rutinitas menjadi kurir menanamkan prinsip fundamental: tidak boleh terlambat. Keterlambatan berarti mengecewakan konsumen dan membuat perusahaan merugi. Dari sana saya belajar untuk menerima kenyataan, tidak mengeluh, dan fokus mengeksekusi tugas tanpa membuang waktu menebak-nebak masa depan.

Filosofi Kurir dalam Birokrasi Pemerintahan

Prinsip kerja ini berakar dari pesan almarhum Bapak Abdul Tambu Bolon, guru matematika saya di SMP Negeri 240 Jakarta. Beliau selalu berpesan, "Don't wait tomorrow what you can do today". Jangan tunggu besok apa yang bisa kamu kerjakan hari ini. Nilai inilah yang menginternalisasi dalam diri saya. Jika dulu saya menjadi kurir untuk mengantar surat, kini sebagai Gubernur Banten, tugas saya sejatinya tidak berubah. Saya adalah kurir, seorang perantara yang bertugas mengantarkan harapan dari pemerintah kabupaten/kota ke tingkat provinsi, hingga ke pemerintah pusat.

Tantangan Banten tidaklah ringan. Kita berfungsi sebagai penyangga ibu kota, namun di sisi lain kita menghadapi masalah disparitas pembangunan antara utara dan selatan serta ketertinggalan kualitas sumber daya manusia. Selama ini, kita terlalu sibuk berdebat soal wewenang administratif. Pola ego sektoral ini harus dihentikan. Anggaran provinsi tidak akan cukup untuk mengejar ketertinggalan tanpa adanya kolaborasi yang konkret dengan pusat dan daerah.

Mendeliveri Janji untuk Generasi Mendatang

Sebagai gubernur dengan target waktu lima tahun, tugas utama saya adalah "mendeliveri" janji-janji kampanye kepada rakyat. Kami telah menggulirkan program Sekolah Gratis untuk jenjang SMA, SMK, dan SKH (Sekolah Khusus), yang kini dinikmati oleh hampir 80.000 anak lulusan SMP di Banten. Melalui kolaborasi dengan 813 sekolah swasta, kami yakin ini adalah investasi terbaik untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kita.

Untuk mengurai ketimpangan wilayah, kami menjalankan program Bangun Jalan Desa Sejahtera, yang secara akronim kerap dipanggil masyarakat sebagai program Bang Andra. Banten memiliki lebih dari 1.200 desa, di mana 24 di antaranya masih berstatus tertinggal. Pembangunan infrastruktur desa ini adalah pengejawantahan dari Asta Cita Bapak Prabowo untuk membangun dari bawah.

Selain itu, kami memastikan Banten menjadi penopang utama program Makan Bergizi Gratis. Saat ini, hampir 200 dapur telah berdiri di wilayah kami. Ketika pendidikan digratiskan dan gizi anak ditanggung pemerintah, kita sedang meletakkan fondasi masa depan yang kokoh. Pada akhirnya, amanah ini adalah ladang pengabdian. Saya selalu mengingat pesan teguran yang saya terima seusai terpilih: "Awas kau jangan korupsi. Lebih baik kau tetap miskin tapi terhormat." Itulah kompas moral saya dalam menjaga harapan rakyat Banten.

Disarikan dari wawancara eksklusive

Penulis
Redaksi
Jurnalis kami menyajikan berita dengan akurat dan berimbang untuk Anda.
Bagikan:
Link berhasil disalin