Logo
Home Opini

Kebudayaan Bukan Ornamen Negara. Ia Adalah Wajah Bangsa

Giring Ganesha
Giring Ganesha Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia
28 Jul 2025 | 22:00 WIB

Saya percaya kebudayaan harus menjadi wajah bangsa dan negara kita. Itu bukan kalimat kosong. Itu adalah cara saya melihat mengapa kebudayaan tidak boleh lagi diperlakukan sebagai urusan pinggiran. Museum, galeri nasional, sanggar tari, sanggar musik, dan seluruh ruang ekspresi budaya harus menjadi etalase terdepan dari pemajuan dan pertahanan kebudayaan kita.

Saya masuk ke politik karena ingin menjadi pelayan publik. Dan ketika dipercaya untuk memperjuangkan serta melayani para pelaku budaya, saya merasa ini adalah salah satu mimpi yang menjadi kenyataan. Karena itu, setiap hari saya bangun dengan rasa syukur. Yang paling penting bagi saya adalah bisa berguna, bisa membantu, dan bisa benar-benar menghadirkan manfaat bagi mereka yang selama ini hidup dari, untuk, dan di dalam kebudayaan.

Banyak orang melihat kerja kebudayaan sebagai sesuatu yang menyenangkan karena dekat dengan seni, film, pertunjukan, festival, dan berbagai ekspresi kreatif. Memang benar, saya sangat menikmati itu. Tetapi di balik semua itu, saya melihat satu kenyataan penting: kerja kebudayaan membutuhkan keseriusan dan investasi jangka panjang. Berbeda dengan pembangunan fisik yang hasilnya cepat terlihat, investasi dalam kebudayaan memerlukan waktu. Tetapi hasilnya nyata. Kita bisa melihatnya dari daerah-daerah yang sejak lama memberi perhatian besar pada kebudayaan. Dari situ terlihat bahwa kebudayaan bisa mendorong pariwisata, ekonomi kreatif, dan bahkan kebahagiaan warga.

Karena itu, saya selalu yakin bahwa dalam usaha pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan kebudayaan memang dibutuhkan modal. Kita membutuhkan investasi. Dan kita juga membutuhkan instrumen untuk membantu para budayawan. Salah satu yang sangat kami unggulkan saat ini adalah Dana Indonesiana. Antusiasmenya besar sekali. Banyak pelaku budaya mendaftar, baik untuk dokumentasi budaya, pengembangan ekspresi budaya baru, maupun penyelenggaraan festival. Ini menunjukkan bahwa energi kebudayaan kita hidup dan membutuhkan dukungan yang nyata.

Saya juga melihat bahwa Indonesia punya keunggulan besar: masyarakat kita luar biasa aktif di ruang digital. TikTok, YouTube, YouTube Shorts, Instagram, dan Instagram Reels adalah jalur distribusi yang sangat efektif untuk mempromosikan budaya-budaya kita yang positif. Ketika sesuatu bergerak di ruang digital, dampaknya bisa sangat besar. Kita melihat bagaimana tradisi seperti Pacu Jalur bisa menarik perhatian luas. Kita juga melihat bagaimana Gunung Padang dibicarakan dalam konteks internasional, bahkan karena pernah muncul di tayangan global. Kita punya begitu banyak kekayaan budaya yang masih bisa dimaksimalkan dengan bantuan netizen Indonesia yang luar biasa.

Saya percaya, hal-hal positif seperti ini harus semakin banyak diposting, diperkenalkan, dan dibanggakan. Contohnya situs-situs seperti Leang-Leang di Maros. Selain punya nilai sejarah yang sangat kuat, tempat-tempat seperti itu juga indah secara visual dan punya daya tarik yang besar. Ketika dipromosikan dengan benar, dampaknya langsung terasa. Ini artinya, diplomasi budaya hari ini tidak bisa hanya bergantung pada pendekatan lama. Kita harus memakai bahasa zaman.

Di saat yang sama, saya juga tidak melihat budaya asing sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Saya justru merasa kita harus belajar dari strategi mereka. Saya belajar banyak dari bagaimana budaya populer Jepang dan Korea bisa memengaruhi dunia. Yang penting bagi kita bukan sekadar khawatir, tetapi memikirkan bagaimana budaya Indonesia punya ciri khas sendiri dan tampil percaya diri. Tugas kami adalah mendorong agar budaya-budaya Indonesia lebih banyak diperlihatkan kepada dunia, termasuk lewat kerja sama internasional.

Salah satu fokus penting kami sekarang adalah pendidikan. Karena kita melihat sendiri bahwa pengajar seni di sekolah-sekolah masih sangat kurang. Bahkan ada guru yang sebenarnya bukan seniman tetapi harus mengajar seni. Karena itu, program Seniman Masuk Sekolah menjadi salah satu program unggulan kami. Kami ingin menghadirkan seniman-seniman yang memang punya kapasitas mengajar, agar anak-anak kita mendapat pengalaman yang lebih hidup dalam mengenal seni dan kebudayaan.

Selain itu, kami juga mendorong manajemen talenta nasional di berbagai bidang: sastra, film, musik, seni rupa, dan seni pertunjukan. Di sastra, kami ingin memibit sastrawan-sastrawan baru, sekaligus mendorong karya-karya sastra Indonesia diterjemahkan ke bahasa internasional. Dalam film, kita melihat perkembangan yang menggembirakan, tetapi tantangan kita juga jelas. Salah satunya adalah kita masih kekurangan penulis naskah. Karena itu, kami ingin mendorong adanya laboratorium untuk scriptwriter. Selain itu, kita juga masih menghadapi keterbatasan layar bioskop, meskipun jumlah penonton film Indonesia terus meningkat.

Di sektor musik, tantangannya juga besar. Selama ini perhatian lebih banyak diberikan pada pelestarian musik tradisional dan musisi tradisional. Sekarang kami mulai pelan-pelan membenahi ekosistem musik secara lebih luas. Karena kalau bicara musik, persoalannya bukan hanya soal panggung dan lagu. Ada hak cipta, ada royalti, ada pajak, ada perlindungan pekerja seni, ada kru panggung, kru lighting, dan semua orang yang bekerja di belakang layar. Mereka semua adalah bagian dari ekosistem.

Karena itu saya berulang kali mengatakan bahwa salah satu hal yang paling penting adalah membereskan Lembaga Manajemen Kolektif Nasional agar lebih profesional dan lebih transparan. Isu transparansi ini sangat besar dampaknya. Ketika transparansi tidak jelas, maka muncul miscommunication, muncul rasa curiga, dan pada akhirnya merusak kepercayaan di antara para pelaku. Jadi menurut saya, ini sangat mendesak.

Saya juga melihat bahwa regulasi hak cipta harus terus diperbaiki agar lebih adaptif terhadap perubahan zaman. Tahun 2014 sangat berbeda dengan 2025. Sekarang kita hidup di era digital streaming platform. Kita harus bicara tentang bagaimana lagu-lagu Indonesia dipakai di platform digital, bagaimana teknologi memengaruhi pola distribusi musik, dan bagaimana musisi Indonesia bisa lebih cepat beradaptasi. Ini semua harus dibahas dengan serius.

Karena itulah kami ingin membuat konferensi musik dan music market. Bagi saya, kata kuncinya sederhana: lebih banyak ketemu, lebih banyak duduk bersama, lebih banyak ngobrol. Musisi, regulator, kementerian, lembaga, platform digital, dan seluruh ekosistem harus punya ruang untuk bicara satu sama lain. Banyak sekali persoalan yang selama ini tidak pernah dibahas secara tuntas karena tidak ada forum bersama yang benar-benar mempertemukan semua pihak.

Saya juga ingin menegaskan bahwa musisi-musisi dari daerah tidak harus selalu berpikir mereka harus ke Jakarta untuk sukses. Tidak. Sekarang zamannya berbeda. Mereka bisa membangun skena sendiri, membuat festival sendiri, dan mengembangkan ekosistemnya sendiri. Kita ingin para musisi dan event maker dari luar Pulau Jawa percaya diri membangun acaranya di daerah masing-masing. Itu sebabnya kami juga ingin menghadirkan para ahli pembuat festival, agar kapasitas itu tumbuh di banyak tempat.

Pada akhirnya, tujuan terbesar saya dalam lima tahun ke depan adalah memastikan bahwa budayawan, seniman, dan artisan benar-benar merasakan hadirnya negara. Selama puluhan tahun, tidak ada kementerian yang secara khusus berdiri untuk kebudayaan. Karena itu, sekarang negara harus hadir: dalam pemajuan, pelestarian, pemanfaatan, pemberdayaan, dan pengembangan kebudayaan. Itu yang paling penting bagi saya.

Tetapi saya tahu, pekerjaan ini tidak mungkin dilakukan sendiri oleh Kementerian Kebudayaan. Kita butuh kepala daerah, gubernur, bupati, wali kota. Kita butuh swasta. Kita butuh filantropi. Kita butuh masyarakat yang ikut merasa memiliki. Kerja kebudayaan memang tidak selalu langsung terlihat. Ia intangible. Tetapi kalau kita serius berinvestasi, dalam 10 atau 15 tahun ke depan hasilnya akan tampak.

Bagi saya, kebudayaan juga dimulai dari hal-hal sederhana di rumah. Dari kebiasaan duduk bersama anak, melukis bersama, berbicara tanpa terganggu handphone, dan membiarkan anak-anak mengenali apa yang mereka sukai. Saya percaya orang tua tidak harus memaksa anak menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Tugas kita adalah memfasilitasi. Ketika mereka sudah menemukan apa yang mereka suka, maka mereka harus fokus dan all out. Saya melihat bahwa sekarang anak-anak muda Indonesia sudah mulai punya banyak pilihan jalan hidup. Yang penting adalah fokus, ulet, terus belajar, dan menjalani pekerjaan yang baik.

Saya percaya semua pekerjaan itu mulia. Yang penting halal, tidak merugikan orang, tidak menzalimi orang, dan tidak menghambat rezeki orang lain. Prinsip yang sama juga saya percaya berlaku dalam kerja kebudayaan. Kita harus membangunnya dengan kesungguhan, dengan rasa hormat, dan dengan keyakinan bahwa Indonesia memang sangat kaya.

Dan justru karena kita sangat kaya, kebudayaan tidak boleh dibiarkan berdiri di belakang. Ia harus berada di depan. Ia harus menjadi wajah bangsa.

Disarikan dari wawancara eksklusive

Penulis
Redaksi
Jurnalis kami menyajikan berita dengan akurat dan berimbang untuk Anda.
Bagikan:
Link berhasil disalin