Bukan Sekadar Sekolah, Ini Jalan Perubahan Nasib
Saya memandang Sekolah Rakyat sebagai salah satu jalan paling penting untuk memutus transmisi kemiskinan di Indonesia.
Mengapa saya mengatakan demikian? Karena persoalan kemiskinan di negeri ini tidak cukup diselesaikan hanya dengan bantuan sesaat. Presiden Prabowo berulang kali menegaskan bahwa beliau tidak ingin kalau orang tuanya tukang becak, anaknya kemudian menjadi tukang becak lagi. Kalau bapaknya pemulung, anaknya kemudian menjadi pemulung lagi. Rantai itu harus diputus. Habitat kemiskinan itu harus diputus. Dan kalau kita sungguh-sungguh ingin memutusnya, negara harus hadir dengan cara yang lebih mendasar: mengambil anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, lalu menyiapkan mereka melalui pendidikan yang unggul.
Itulah latar belakang Sekolah Rakyat.
Jadi, Sekolah Rakyat yang dimaksud Presiden bukan sekolah rakyat seperti pada masa kolonial yang diskriminatif. Bukan itu. Sekolah Rakyat hari ini adalah sekolah unggulan, tetapi siswanya berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Dasarnya jelas, yakni mereka yang berada di desil 1 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional. Ini penting saya tegaskan, karena program ini memang lahir dari kehendak negara untuk memuliakan orang-orang miskin dan memberi jalan agar anak-anak mereka tidak terjebak dalam nasib sosial yang sama dari generasi ke generasi.
Sebelum sampai ke sana, kita harus memahami satu hal mendasar: sekarang Indonesia sudah memiliki Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional. Ini lompatan yang sangat penting. Sebelum ada kebijakan itu, kementerian punya data sendiri, lembaga punya data sendiri, bahkan badan-badan lain punya data sendiri. Akibatnya, kita tidak pernah benar-benar memiliki peta yang utuh. Sekarang, dengan data tunggal itu, kita bisa mengetahui bukan hanya berapa jumlah penduduk Indonesia, tetapi juga siapa yang miskin, di mana alamatnya, seperti apa profil keluarganya, dan apa pengaruh sosial dari kondisi kemiskinan itu.
Dari data itu, kita melihat dengan terang bahwa kemiskinan berkaitan sangat erat dengan pendidikan. Banyak keluarga miskin yang tidak mampu menyekolahkan anaknya dengan baik. Banyak anak tumbuh dalam lingkungan yang seluruh isi kesehariannya ikut membentuk keterbatasan: mind-set, gizi, akses ilmu, dan peluang hidup. Karena itu Presiden meminta agar anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem ini diambil oleh negara untuk dididik melalui Sekolah Rakyat.
Sekolah ini berbasis asrama. Jenjangnya mulai dari SD, SMP, sampai SMA. Dalam setiap sekolah diharapkan ada sekitar seribu siswa. Dan Presiden memerintahkan agar pada tahun ini kita sudah membuka seratus titik. Itu bukan tugas yang ringan. Tetapi justru karena tugasnya besar, maka Kemensos tidak mungkin bekerja sendiri. Kami diminta menyelenggarakan program ini, tetapi kami mengajak kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah untuk bergerak bersama. Ini kerja kolaboratif. Yang menyiapkan kurikulum ada kementerian terkait, yang mengurus guru dan kepala sekolah ada pihak terkait, yang menyiapkan sarana dan prasarana juga ada kementerian yang menangani itu. Hampir semua kementerian yang relevan dengan isu pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan ikut terlibat.
Bagi saya, Sekolah Rakyat bukanlah bentuk kritik terhadap sistem pendidikan nasional yang sudah ada. Bukan itu titik berangkatnya. Titik berangkatnya adalah kemiskinan. Presiden ingin kemiskinan ekstrem selesai. Presiden ingin kemiskinan turun drastis. Presiden ingin orang miskin dimuliakan. Maka Sekolah Rakyat adalah jawaban yang secara langsung diarahkan untuk mengatasi salah satu akar persoalan itu: pendidikan yang tidak terjangkau dan tidak memadai bagi keluarga yang paling rentan.
Kita tahu bahwa dalam agenda besar menuju Indonesia Emas, kita memerlukan generasi yang unggul, cerdas, progresif, dan setara dengan generasi negara-negara maju. Tetapi generasi seperti itu tidak akan lahir dengan sendirinya kalau anak-anak dari keluarga termiskin tetap dibiarkan tumbuh dalam lingkaran nasib yang sempit. Karena itu, pendidikan melalui Sekolah Rakyat menjadi salah satu cara yang sangat strategis.
Untuk tahap awal, yang kita utamakan adalah revitalisasi bangunan-bangunan yang sudah ada. Kemensos memiliki aset yang bisa digunakan, pemerintah daerah juga punya aset, pemerintah pusat juga punya aset. Semua itu sedang kita konsolidasikan agar target pembukaan tahap pertama bisa segera berjalan. Pada saat yang sama, kami juga meminta pemerintah daerah menyiapkan lahan untuk pengembangan yang lebih permanen. Presiden meminta agar setiap lokasi idealnya memiliki minimal delapan hektare. Mengapa? Karena Sekolah Rakyat bukan hanya ruang kelas. Di sana ada asrama, laboratorium, dapur, tempat makan, tempat ibadah, lapangan, dan juga ruang-ruang latihan keterampilan, termasuk pertanian dan peternakan.
Ini penting, karena target pendidikan di Sekolah Rakyat bukan hanya aspek keilmuan. Saya selalu menyebut ada tiga sasaran utama. Pertama, pengetahuan atau keilmuan. Kedua, karakter, baik karakter kebangsaan maupun karakter keagamaan. Ketiga, keterampilan atau keahlian. Jadi kalau nanti ada anak yang setelah lulus tidak langsung ingin kuliah, dia tetap punya bekal untuk bekerja. Kalau dia tertarik pada pertanian, dia bisa menjadi ahli pertanian. Kalau dia tertarik pada perikanan, dia bisa menjadi ahli perikanan. Artinya, sekolah ini harus melahirkan anak-anak yang pintar, berkarakter, dan punya skill.
Karena itu, sekolah ini berbasis unggulan. Saya perlu menegaskan ini, sebab saya tahu sudah mulai muncul stigma yang keliru di masyarakat, seolah-olah Sekolah Rakyat adalah sekolah untuk anak-anak miskin dalam pengertian yang merendahkan. Bukan. Ini sekolah unggulan. Fasilitasnya unggulan. Sistemnya unggulan. Kurikulumnya unggulan. Pendekatannya berbasis teknologi. Anak-anak tidak lagi semata-mata bergantung pada buku atau kapur tulis. Kita siapkan sistem belajar berbasis teknologi, termasuk penggunaan perangkat digital. Jadi jangan dibayangkan ini sekolah kelas dua. Justru sebaliknya, negara ingin memberi yang terbaik kepada anak-anak yang selama ini paling sedikit menerima kesempatan.
Kurikulumnya pun sedang dirancang agar lebih lentur dan lebih efektif. Ada gagasan multi-entry dan multi-exit, sehingga tidak sepenuhnya kaku. Kalau ada anak yang sangat cepat menyelesaikan capaian belajarnya, maka dia bisa melaju lebih cepat. Semua ini sedang dimatangkan agar jangan sampai sistem yang dipakai justru mengganggu tiga tujuan utama tadi: ilmu, karakter, dan keterampilan.
Soal guru juga kami siapkan dengan sangat serius. Bagi saya, guru di Sekolah Rakyat tidak cukup hanya qualified secara akademik. Mereka juga harus punya empati. Mereka harus memahami siapa siswa-siswanya, dari latar sosial seperti apa mereka datang, dan untuk apa sekolah ini dibangun. Karena itu saya mengusulkan agar guru-guru yang nanti lolos seleksi harus lebih dulu mengalami semacam pendidikan hidup bersama, semacam live-in, agar mereka bukan hanya memahami Sekolah Rakyat secara kognitif, tetapi juga secara afektif. Mereka harus menghayati ruh sekolah ini.
Pemilihan lokasi sekolah juga tidak dilakukan sembarangan. Karena Sekolah Rakyat ini ditujukan untuk memutus transmisi kemiskinan, maka tahap awal harus diprioritaskan pada wilayah dengan populasi kemiskinan dan kemiskinan ekstrem yang tinggi. Dari data yang ada, konsentrasi itu banyak terdapat di Pulau Jawa, terutama Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Banten. Itu sebabnya prioritas awal banyak diarahkan ke sana. Tetapi ke depan, tentu setiap daerah juga diharapkan memiliki Sekolah Rakyat.
Dalam proses perekrutan siswa, kami juga tidak bekerja di atas meja saja. Ada ground checking. Ada pengecekan langsung ke lapangan. Petugas-petugas kami turun. Saya turun. Menteri Sosial turun. Dari situ kita menemukan wajah-wajah nyata yang selama ini sering hanya muncul sebagai angka statistik. Salah satunya Naila. Ia berasal dari keluarga sangat tidak mampu. Ayahnya bekerja serabutan, penghasilannya sangat kecil, harus menghidupi beberapa anak, dan mereka hidup dalam kondisi yang sangat sempit. Profil-profil seperti inilah yang berkali-kali ditekankan Presiden kepada kami: merekalah yang harus diprioritaskan, merekalah yang harus disekolahkan, merekalah yang harus dibela oleh negara.
Kalau ada anak berusia 13 tahun dari keluarga tidak mampu, sudah lama tidak sekolah, lalu bertanya kepada saya, “Harapan apa yang bisa saya gantungkan di Sekolah Rakyat?”, maka jawaban saya sederhana tetapi tegas: kamu akan menjadi anak yang pintar, anak yang berkarakter, dan anak yang memiliki kemampuan profesi. Sekolah ini disiapkan untuk melahirkan anak-anak seperti itu.
Pada akhirnya, saya berharap Sekolah Rakyat benar-benar menjadi mesin lahirnya anak-anak Indonesia yang hebat. Anak-anak Indonesia yang unggul. Anak-anak Indonesia yang percaya diri. Anak-anak Indonesia yang kelak mampu mengangkat harkat dan martabat keluarganya, saudaranya, bangsanya, dan negaranya.
Itulah wajah pendidikan yang saya harapkan lahir dari Sekolah Rakyat. Bukan sekadar membuka ruang belajar, tetapi membuka jalan hidup baru. Bukan sekadar memberi tempat duduk di kelas, tetapi memberi kemungkinan bagi lahirnya generasi yang keluar dari kemiskinan dengan kepala tegak.
Dan bila itu terjadi, maka Sekolah Rakyat tidak hanya menjadi program. Ia akan menjadi jalan perubahan.
Disarikan dari wawancara eksklusive