Logo
Home Berita

Transformasi Pelatihan ASN: MenPAN-RB Dorong Kebijakan Berdampak Sistemik

Oleh Redaksi 20 Apr 2026
Transformasi Pelatihan ASN: MenPAN-RB Dorong Kebijakan Berdampak Sistemik
Transformasi Pelatihan ASN: MenPAN-RB Dorong Kebijakan Berdampak Sistemik — infopublik.id
Menteri PAN-RB Rini Widyantini mendorong transformasi sistem pelatihan ASN di Jakarta. Pelatihan berbasis ekosistem ini difokuskan pada dampak nyata.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB), Rini Widyantini, mendorong transformasi sistem pelatihan aparatur sipil negara (ASN) agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Hal ini disampaikannya dalam konferensi internasional kolaborasi Lembaga Administrasi Negara (LAN) dan German Institute of Development and Sustainability (IDOS) di Jakarta, Senin (20/4/2026).

Rini menekankan bahwa tantangan birokrasi saat ini tidak sekadar menyusun kebijakan. Lebih dari itu, pemerintah harus memastikan implementasi yang efektif di tengah kompleksitas sistem nasional. "Kebijakan tanpa manusia hanyalah selembar kertas, sementara manusia tanpa kebijakan akan kehilangan arah," ujarnya.

Paradigma Baru Reformasi Birokrasi

Indonesia memiliki skala sistem yang besar dengan puluhan juta penduduk dan jutaan entitas usaha. Kondisi ini menuntut pendekatan kebijakan yang adaptif dan berorientasi pada hasil akhir. Oleh karena itu, reformasi birokrasi Indonesia periode 2025–2045 mengusung paradigma baru dengan fokus utama pada penyelesaian masalah.

Pemerintah menerapkan tiga prinsip utama dalam reformasi ini, yaitu sinergi kebijakan lintas sektor, pembelajaran berkelanjutan, dan fokus pada implementasi yang bermanfaat. Hasil dari penguatan kebijakan ini tercermin pada peningkatan signifikan indeks kinerja Indonesia pada 2024 di tingkat regional maupun global.

Ekosistem Pembelajaran ASN

Rini menyoroti perubahan sistem pelatihan ASN yang awalnya berbasis kegiatan menjadi ekosistem pembelajaran yang komprehensif. Melalui konsep corporate university, pemerintah menerapkan metode Model 70:20:10. Metode ini tidak lagi mengukur seberapa banyak peserta yang dilatih, melainkan berfokus pada kualitas dampaknya terhadap pelayanan.

Rincian model tersebut mencakup 70 persen pembelajaran melalui pengalaman langsung atau learning by doing. Selanjutnya, 20 persen melalui kolaborasi dan pembinaan, serta 10 persen berasal dari pelatihan formal. Pendekatan baru ini secara khusus ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara langsung.

Kolaborasi dan Inklusi Pelayanan Publik

Transformasi birokrasi yang menyeluruh juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang kuat. Kemitraan dengan sektor swasta, lembaga pendidikan, dan mitra pembangunan sangat penting untuk menciptakan solusi adaptif sesuai kebutuhan nasional. Selain itu, Rini menegaskan bahwa inklusi wajib menjadi bagian tak terpisahkan dari desain kebijakan publik.

"Ukuran keberhasilan adalah apakah kebijakan ini benar-benar membantu masyarakat, mulai dari ibu di Papua hingga nelayan di Maluku," tegas Rini. Ke depannya, pemerintah akan mendorong riset bersama terkait dampak pelatihan ASN dan program pertukaran talenta demi pelayanan yang lebih inklusif dan berorientasi pada hasil.

Disarikan dari sumber resmi infopublik.id

Penulis
Redaksi
Jurnalis kami menyajikan berita dengan akurat dan berimbang untuk Anda.
Bagikan:
Link berhasil disalin