Logo
Home Berita

Ekonom Dorong Strategi Pembiayaan Agresif Usai IMF Apresiasi Ekonomi RI

Oleh Redaksi 19 Apr 2026
Ekonom Dorong Strategi Pembiayaan Agresif Usai IMF Apresiasi Ekonomi RI
Ekonom Dorong Strategi Pembiayaan Agresif Usai IMF Apresiasi Ekonomi RI — infopublik.id
Ekonom Trimegah Sekuritas mendorong strategi pembiayaan agresif dan berkelanjutan merespons apresiasi IMF terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Jakarta – Dana Moneter Internasional (IMF) dan investor global mengapresiasi keberhasilan pemerintah menjaga stabilitas ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Merespons hal tersebut, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, pada Minggu (19/4/2026), mendorong pemerintah agar melangkah menuju strategi pembiayaan pertumbuhan yang lebih agresif dan terarah.

Kredibilitas kebijakan, disiplin fiskal, serta sinergi antara otoritas moneter dan fiskal menjadi fondasi utama persepsi positif tersebut. Namun, pencapaian ini dinilai belum cukup untuk menjawab tantangan ekonomi ke depan yang semakin kompleks.

Transparansi Arsitektur Pendanaan

Fakhrul menilai Indonesia perlu memiliki arsitektur pendanaan yang kuat guna menopang ambisi pertumbuhan pada masa mendatang. Pendekatan kebijakan menjaga disiplin fiskal, seperti defisit di bawah tiga persen dan rasio utang terkendali, merupakan fondasi penting.

Meski demikian, pasar global kini menuntut transparansi lebih mendalam terkait arah pembiayaan ekonomi Indonesia. "Pasar tidak hanya melihat angka disiplin fiskal, tetapi juga ingin memahami cerita besar di baliknya serta tingkat kredibilitas jalur kebijakan ke depan," jelas Fakhrul.

Oleh karena itu, pemerintah didorong mengubah komunikasi kebijakan fiskal dari pendekatan berbasis aturan menjadi berbasis strategi. Pemerintah perlu menjelaskan secara eksplisit sumber pembiayaan, komposisi pendanaan, dan mitigasi risiko jangka panjang.

Diversifikasi Sumber Pembiayaan

Lebih lanjut, Fakhrul menyebut kebutuhan diversifikasi sumber pendanaan menjadi sangat mendesak. Hal ini seiring dengan perubahan struktur ekonomi global dan meningkatnya biaya pendanaan berbasis dolar.

Ketergantungan terhadap mata uang kuat berpotensi membebani biaya pembiayaan negara. Pemerintah disarankan aktif mengembangkan alternatif pembiayaan, salah satunya melalui skema penyelesaian transaksi menggunakan mata uang lokal (local currency settlement).

Peluang pemanfaatan mata uang berbiaya rendah, seperti offshore renminbi (CNH), dinilai dapat mendukung efisiensi perdagangan dan investasi bilateral. Kemitraan internasional yang dibangun pemerintah juga harus diarahkan untuk membuka akses pembiayaan baru, diversifikasi investor, dan perluasan penggunaan mata uang lokal.

Fakhrul menegaskan bahwa stabilitas ekonomi saat ini adalah modal awal, bukan tujuan akhir. Tantangan utamanya adalah memanfaatkan stabilitas tersebut guna membiayai pertumbuhan, memperluas ruang kebijakan, dan memperkuat kedaulatan ekonomi Indonesia.

Disarikan dari sumber resmi infopublik.id

Penulis
Redaksi
Jurnalis kami menyajikan berita dengan akurat dan berimbang untuk Anda.
Bagikan:
Link berhasil disalin