Logo
Home Berita

Sekolah Rakyat Probolinggo Ubah Masa Depan Siswa Prasejahtera

Oleh Redaksi 17 Apr 2026
Sekolah Rakyat Probolinggo Ubah Masa Depan Siswa Prasejahtera
Sekolah Rakyat Probolinggo Ubah Masa Depan Siswa Prasejahtera — infopublik.id
Program Sekolah Rakyat Terintegrasi di Probolinggo berhasil mengubah masa depan siswa prasejahtera lewat pendidikan gratis dan pembentukan karakter.

PROBOLINGGO - Program Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 7 di Kota Probolinggo terbukti mampu menjadi instrumen pemerataan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Dampak nyata ini terlihat dari kisah inspiratif dua siswanya, Riski Aulia dan Elang Khoirul Ramadan, yang berhasil meraih prestasi di tengah keterbatasan ekonomi pada Kamis (16/4/2026).

Riski Aulia, siswa kelas VII, sebelumnya sempat ragu melanjutkan pendidikan karena kondisi ekonomi keluarganya. Sang ayah hanya bekerja serabutan, sementara ibunya membantu perekonomian lewat usaha penatu (laundry).

Riski sebenarnya sudah diterima di sebuah SMP negeri di Kota Probolinggo. Namun, setelah mendapat informasi dari pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), ia akhirnya memilih bergabung dengan Sekolah Rakyat.

Fasilitas Lengkap dan Asrama Gratis

Keputusan Riski sempat ditentang keluarganya karena ia harus tinggal di asrama yang jauh dari orang tua. Akan tetapi, pertimbangan mengenai keberlanjutan pendidikan menjadi alasan utamanya bertahan.

“Saya berpikir, kalau tidak mengambil kesempatan ini, kondisi ekonomi keluarga bisa menjadi hambatan untuk sekolah ke depan,” ungkap Riski.

Selama di SRT, Riski merasakan banyak perubahan positif. Sistem pendidikan berasrama dengan fasilitas lengkap membuatnya bisa fokus belajar tanpa memikirkan biaya hidup sehari-hari.

“Belajar jadi lebih tenang, kebutuhan terpenuhi, dan saya bisa mencoba hal baru seperti coding dan bahasa Jepang,” tuturnya.

Disiplin Membentuk Karakter Juara

Kisah sukses lainnya datang dari Elang Khoirul Ramadan, siswa kelas VII berusia 13 tahun. Ia berhasil menorehkan kebanggaan dengan meraih juara Olimpiade IPA tingkat kota dan kabupaten.

Elang, yang sebelumnya tinggal bersama neneknya yang berjualan gorengan, merasa lingkungan di Sekolah Rakyat menjadi titik balik hidupnya. Kedisiplinan asrama dinilai sangat membantu dalam membentuk karakter dan memacu motivasi belajarnya.

“Sejak masuk, saya lebih disiplin, rajin beribadah, dan semangat belajar. Di asrama, pembelajaran berlanjut dengan pendampingan,” kata Elang.

Prestasi Elang tersebut tidak terlepas dari pembinaan intensif para guru saat persiapan kompetisi. Kini, ia memiliki cita-cita besar menjadi prajurit TNI sebagai bentuk pengabdian sekaligus upaya mengangkat derajat keluarga.

Model Pendidikan yang Inklusif

Model pendidikan berasrama di SRT memberikan nilai tambah dibandingkan sekolah reguler pada umumnya. Program ini tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga mengedepankan pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kemandirian siswa.

Meskipun harus hidup jauh dari orang tua, dukungan emosional anak-anak tetap terjaga lewat komunikasi rutin dan kunjungan berkala. Kisah Riski dan Elang membuktikan bahwa intervensi pendidikan yang tepat sasaran bisa memutus rantai kemiskinan.

Ke depan, pendekatan terintegrasi yang menggabungkan pendidikan, pembinaan karakter, dan pemenuhan kebutuhan dasar ini akan terus didorong. Sekolah Rakyat diharapkan menjadi model pembangunan sumber daya manusia yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.

Disarikan dari sumber resmi infopublik.id

Penulis
Redaksi
Jurnalis kami menyajikan berita dengan akurat dan berimbang untuk Anda.
Bagikan:
Link berhasil disalin