Logo
Home Berita

Solusi Krisis Air, Bu Ning Bangun Sekolah Air Hujan Banyu Bening di Yogyakarta

Oleh Redaksi 13 May 2026
Solusi Krisis Air, Bu Ning Bangun Sekolah Air Hujan Banyu Bening di Yogyakarta
Solusi Krisis Air, Bu Ning Bangun Sekolah Air Hujan Banyu Bening di Yogyakarta — infopublik.id
Di tengah krisis air tanah, Sri Wahyuningsih (Bu Ning) sukses membangun Sekolah Air Hujan Banyu Bening di Yogyakarta sebagai solusi lumbung air masyarakat.

Di tengah ancaman krisis air dan tingginya eksploitasi air tanah, Sri Wahyuningsih (58) atau Bu Ning berinisiatif mengembangkan lumbung air hujan terpadu melalui teknologi penyaringan mandiri. Inovasi konservasi tersebut dijalankan melalui Sekolah Air Hujan Banyu Bening di Dusun Tempursari, Ngaglik, Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti yang dipaparkannya pada Selasa (12/5/2026).

Menurut Bu Ning, saat ini masyarakat terlalu bergantung pada air tanah tanpa memiliki kesadaran untuk memulihkannya. Padahal, populasi terus bertambah dan membuat kebutuhan terhadap air bersih makin besar.

Kesadaran konservasi tersebut mulai tumbuh sejak 15 tahun lalu saat ia melihat ironi kekeringan di musim kemarau dan banjir di musim hujan. Kondisi tersebut mendorongnya untuk mencari cara agar masyarakat memiliki lumbung air sendiri secara mandiri.

Berdirinya Sekolah Air Hujan

Berawal dari gerakan tingkat keluarga, Bu Ning bersama sejumlah rekannya mendirikan Komunitas Banyu Bening pada tahun 2012. Gerakan sosial ini kemudian resmi menjadi Sekolah Air Hujan Banyu Bening pada 9 September 2019.

Sekolah ini berfungsi sebagai tempat edukasi nonformal bagi masyarakat yang ingin belajar pengelolaan air hujan dan mitigasi bencana hidrometeorologi. Selain urusan air, sekolah ini juga aktif membangun pendidikan karakter anak-anak melalui Sanggar Banyu Bening.

Kepala Sekolah Banyu Bening, Kamaludin, menjelaskan bahwa anak-anak diajarkan budaya Jawa dan kebiasaan ramah lingkungan seperti membawa botol minum sendiri. Mereka juga diajak menjaga kreativitas lewat program menulis tangan "Cerita dari Rumah" tanpa menggunakan gawai.

Teknologi Sistem Lumbung Air Hujan

Dalam implementasinya, Bu Ning memperkenalkan Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan (ISLAH). Teknologi sederhana ini memungkinkan masyarakat menampung air hujan secara higienis tanpa bergantung penuh pada ketersediaan air tanah.

Sistem ini telah diterapkan di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Gunungkidul, Makassar, Minahasa, Bandung, Surabaya, hingga Keraton Yogyakarta. Harapannya, masyarakat bisa memiliki akses air bersih yang mudah dan gratis.

Di rumahnya sendiri, Bu Ning menampung air hujan hingga kapasitas 20 ribu liter menggunakan toren. Air tersebut melewati beberapa tahap penyaringan menggunakan teknologi "Gama Rain Filter" untuk memisahkan kotoran sebelum masuk ke tempat penampungan utama.

Manfaat Kesehatan dan Apresiasi

Setelah disaring, air diproses melalui metode elektrolisis sederhana yang memecah molekul air menjadi unsur hidrogen dan oksigen. Proses ini menghasilkan air berkualitas yang layak minum tanpa perlu direbus terlebih dahulu.

Air hasil elektrolisis ini lantas disediakan gratis untuk kebutuhan sehari-hari dan terapi kesehatan bagi masyarakat di sekitar Komunitas Banyu Bening. Terdapat dua jenis air yang diproduksi, yakni air basa ber-pH tinggi untuk metabolisme tubuh dan air asam ber-pH rendah sebagai pembersih luka.

Berkat konsistensi gerakan ini, Komunitas Banyu Bening berhasil meraih penghargaan Kehati Award 2024 untuk kategori Climate Change. Meski demikian, bagi Bu Ning, penghargaan tertinggi adalah tumbuhnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya ketahanan air dalam menghadapi perubahan iklim.

Disarikan dari sumber resmi infopublik.id

Penulis
Redaksi
Jurnalis kami menyajikan berita dengan akurat dan berimbang untuk Anda.
Bagikan:

Komentar Facebook

Link berhasil disalin