Kisah Isma, Relawan Program Makan Bergizi Gratis di Bogor yang Menginspirasi
BOGOR — Kecemasan Isma (38) akan pemenuhan gizi anak-anaknya akhirnya terjawab berkat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Badan Gizi Nasional. Sejak bulan Desember lalu di Bogor, ibu tunggal ini tidak hanya merasakan manfaat program, tetapi juga memutuskan bergabung sebagai relawan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Sebelumnya, Isma yang kerap bekerja serabutan selalu dihantui pertanyaan tentang kondisi perut anak-anaknya. Terkadang, ia bahkan harus menyempatkan pulang di sela-sela pekerjaannya di bidang katering untuk memastikan mereka tidak kelaparan.
Kehadiran Program MBG di sekolah terbukti membawa perubahan besar bagi keluarganya. Beban pikirannya berkurang drastis karena kedua anaknya yang masih bersekolah dipastikan mendapatkan makan siang bergizi setiap hari.
Menjadi Bagian dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi
Transformasi Isma berlanjut ketika ia memutuskan menjadi relawan koordinator pemorsian makanan di SPPG Jogjogan 2 sejak Desember lalu. Peran barunya ini memberikan pemahaman mendalam tentang proses pengolahan hingga distribusi makanan secara langsung.
Berbekal pengalaman bekerja di dapur, Isma kini lebih percaya diri menjawab keraguan masyarakat terkait anggaran dan kualitas makanan MBG. Ia kerap meluruskan miskonsepsi warga dengan menjelaskan sistem pengolahan gizi yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Isma bahkan pernah menghitung sendiri nilai porsi makanan yang diterima anaknya, khususnya saat menu makanan kering dibagikan pada hari Sabtu. Hasil perhitungannya menunjukkan nilai makanannya bisa mencapai Rp14 ribu lebih, membuktikan bahwa kualitas bahan memang dijaga ketat.
Membangun Kebersamaan Antar Relawan
Selain membantu secara sistem, keterlibatan Isma dalam program MBG memberikan kehangatan di lingkungan kerja. Kebersamaan bersama rekan sesama relawan saat memasak bersama membuat beban hidupnya terasa jauh lebih ringan.
Bagi Isma, MBG bukan sekadar bantuan makanan, melainkan jembatan pemberdayaan bagi dirinya sebagai seorang ibu. Ia merasa bangga bisa memastikan kebutuhan gizi anaknya terpenuhi sekaligus berkontribusi bagi keluarga lainnya.
Dari rasa cemas yang dahulu selalu menyertainya, Isma kini berdiri di garis depan dengan penuh keyakinan. Ia bertekad memastikan kekhawatiran soal kelaparan tidak lagi menghantui para orang tua di lingkungan sekitarnya.
Disarikan dari sumber resmi www.bgn.go.id