Logo
Home Berita

Wamenkomdigi Ingatkan Bahaya Ketergantungan AI terhadap Daya Kritis

Oleh Redaksi 19 Apr 2026
Wamenkomdigi Ingatkan Bahaya Ketergantungan AI terhadap Daya Kritis
Wamenkomdigi Ingatkan Bahaya Ketergantungan AI terhadap Daya Kritis — infopublik.id
Wamenkomdigi Nezar Patria mengingatkan risiko ketergantungan AI yang mengancam daya kritis pelajar dan profesional. Teknologi AI harus human-centric.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, mengingatkan risiko serius penggunaan kecerdasan buatan (AI) terhadap daya kritis pelajar dan profesional. Peringatan ini disampaikan saat membuka Workshop AI Talent Factory 2 di Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (17/4/2026).

"Jangan sampai kita kehilangan daya kritis karena semua diserahkan kepada AI. Itu sudah mulai terjadi di dunia pendidikan," ujar Nezar. Ia menilai pengembangan talenta digital masa depan tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan teknis semata.

Pendekatan Berpusat pada Manusia

Talenta masa depan dituntut untuk memahami cara berinteraksi dengan AI secara tepat dan memegang kendali penuh. Wamenkomdigi menegaskan bahwa pengembangan teknologi AI harus menempatkan manusia sebagai pusat utama atau human-centric.

Dalam praktiknya, setiap pengambilan keputusan oleh mesin tetap harus melibatkan manusia melalui pendekatan human in the loop. Kecenderungan penggunaan AI yang serba instan berpotensi melemahkan kemampuan analisis dan penilaian etis penggunanya.

Oleh karena itu, talenta digital diharapkan senantiasa mengevaluasi setiap keluaran AI secara kritis. Kemampuan berpikir dan mengambil keputusan tidak boleh sepenuhnya dialihkan kepada sistem otomatis.

Solusi Sektor Strategis

Lebih lanjut, Nezar mendorong pemanfaatan AI untuk menjawab persoalan nyata di sektor strategis, seperti pangan, energi, kesehatan, dan maritim. Pendekatan berbasis masalah dinilai penting agar kehadiran teknologi berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.

Sebagai informasi, Workshop AI Talent Factory 2 ini diikuti oleh 98 mahasiswa dan 28 dosen dari UGM, Universitas Brawijaya, serta Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Program tersebut bertujuan membentuk talenta digital yang cerdas dan mampu mengendalikan AI secara bertanggung jawab.

Disarikan dari sumber resmi infopublik.id

Penulis
Redaksi
Jurnalis kami menyajikan berita dengan akurat dan berimbang untuk Anda.
Bagikan:
Link berhasil disalin