Kisah Yustina di NTT: Tunjangan Profesi Guru Jadi Penopang Ekonomi Pendidik
Pemerintah terus berupaya meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) melalui penyaluran Tunjangan Profesi Guru (TPG). Hal ini dirasakan langsung oleh Yustina Yuniarti, seorang guru non-ASN di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mengungkapkan manfaat bantuan tersebut pada Jumat (8/5/2026).
Tunjangan sebesar Rp2 juta per bulan itu bukan sekadar tambahan penghasilan bagi Yustina. Bantuan tersebut menjadi penopang ekonomi keluarga sekaligus penyemangat baginya untuk terus mengabdi di dunia pendidikan. Guru SD Kristen Wukur itu mengaku telah menerima TPG sejak Januari 2025.
"Tunjangan ini sangat bermanfaat bagi saya dan keluarga. Selain memenuhi kebutuhan sehari-hari, tunjangan ini juga saya gunakan untuk membantu orang tua membiayai kuliah adik-adik saya," ujar Yustina. Kisah ini menjadi gambaran nyata bagaimana kebijakan afirmatif pemerintah berdampak positif bagi guru non-ASN di daerah.
Komitmen Pemerintah untuk Kesejahteraan Guru
Menanggapi perjuangan para pendidik di wilayah 3T, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Nunuk Suryani, memberikan penegasan. Pada Rabu (7/5/2026) di Jakarta, ia menyatakan bahwa pemerintah terus berkomitmen memperkuat perlindungan dan kesejahteraan guru. Dedikasi pendidik di tengah keterbatasan menjadi pengingat bahwa pendidikan nasional dibangun dari semangat pengabdian di lapangan.
"Pemerintah tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan para guru di daerah. Hal ini justru menjadi motivasi bagi kami untuk terus mempercepat program peningkatan kesejahteraan dan perlindungan guru," tambah Nunuk. Komitmen tersebut dibuktikan dengan peningkatan alokasi anggaran TPG dari tahun ke tahun.
Peningkatan Alokasi Anggaran
Pada tahun 2025, pemerintah menyalurkan TPG bagi guru non-ASN sebesar Rp10,9 triliun kepada sekitar 396 ribu penerima. Anggaran tersebut kemudian ditingkatkan menjadi Rp11,5 triliun untuk sekitar 392 ribu guru non-ASN pada tahun 2026. Sementara itu, untuk guru ASN, alokasi TPG juga mengalami kenaikan dari Rp67,3 triliun pada 2025 menjadi Rp72,2 triliun pada 2026.
Atas perhatian tersebut, Yustina menyampaikan apresiasinya kepada Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti. Kemendikdasmen pun menegaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan nasional sejalan dengan upaya menghadirkan kesejahteraan yang layak bagi para guru sebagai garda terdepan pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Disarikan dari sumber resmi infopublik.id