IEEFA: Danantara Berpeluang Jadi Katalis Transisi Energi Nasional
Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) merilis laporan terbaru di Jakarta pada Jumat, 8 Mei 2026, yang menyebutkan bahwa Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) berpotensi mempercepat transisi energi di Indonesia. Langkah strategis ini dinilai penting untuk mengatasi kelemahan struktural model pendapatan saat ini sekaligus mendorong pencapaian target dividen Rp800 triliun per tahun.
Laporan tersebut menyoroti bahwa model pendanaan Danantara berbeda dengan Sovereign Wealth Fund (SWF) dunia pada umumnya. Pendanaan Danantara bersumber dari konsolidasi dividen BUMN dan didukung instrumen berbasis pasar, bukan mengandalkan surplus fiskal atau cadangan devisa.
Saat ini, tujuh BUMN termasuk PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) menjadi penyumbang dividen terbesar bagi badan pengelola investasi tersebut. Namun, kinerja keuangan kedua BUMN energi itu masih sangat bergantung pada dukungan subsidi dan kompensasi dari pemerintah.
Tantangan Ketergantungan Subsidi
Besaran subsidi untuk kedua perusahaan pelat merah tersebut mencapai Rp374 triliun atau setara USD23,6 miliar. Angka ini terpantau lebih dari dua kali lipat kontribusi dividen yang dihasilkan oleh ketujuh BUMN utama penyumbang Danantara.
Mutya Yustika, Research & Engagement Lead IEEFA, menjelaskan bahwa Pertamina dan PLN masih rentan terhadap volatilitas harga global karena ketergantungan pada batu bara dan impor migas. Ia menyarankan pemanfaatan energi terbarukan sebagai sumber daya domestik untuk menciptakan operasional yang lebih stabil dan minim risiko mata uang.
"Danantara perlu menjalankan reformasi struktural dengan mengurangi ketergantungan subsidi, peningkatan efisiensi operasional, dan percepatan transisi menuju energi terbarukan," ujar Mutya. Optimalisasi ini mutlak diperlukan agar Danantara dapat memenuhi target dividen negara tanpa terus membebani anggaran subsidi.
Optimalisasi Lewat Portofolio Hijau
Untuk merealisasikan reformasi tersebut, Danantara memiliki dua entitas pengelola, yakni Danantara Asset Management (DAM) dan Danantara Investment Management (DIM). Kedua unit kerja ini bertugas memobilisasi modal untuk proyek strategis guna menghasilkan imbal hasil di atas ambang batas 5 persen.
IEEFA menyarankan Danantara untuk mengadopsi diversifikasi portofolio dan prinsip keberlanjutan layaknya pendekatan SWF global. Pengalaman internasional membuktikan bahwa perusahaan dengan pendapatan dari sektor hijau cenderung tumbuh lebih cepat dan mencapai valuasi yang lebih tinggi.
Yusuf Kresna, Energy Finance Analyst IEEFA Indonesia, mencontohkan strategi Temasek asal Singapura yang sukses beralih ke energi ramah lingkungan. Sejak menerapkan strategi transisi energi pada 2020, portofolio energi Temasek yakni Sembcorp Industries mencatatkan kenaikan harga saham sekitar 217 persen dari level 2021.
Katalis Transisi Bersih dan Pasar Karbon
Lebih lanjut, investasi di sektor energi terbarukan, jaringan transmisi, hingga rantai pasok kendaraan listrik diyakini dapat memperkuat model dividen Danantara. Hal ini juga mencakup ekspansi infrastruktur pengisian daya dan elektrifikasi transportasi publik untuk menekan emisi di kawasan perkotaan.
IEEFA turut merekomendasikan agar Danantara mengambil peran katalis dalam pengembangan pasar karbon yang kredibel di tingkat nasional. Badan ini juga didorong untuk memanfaatkan mekanisme pendanaan campuran (blended finance) seperti Just Energy Transition Partnership (JETP) dan perluasan obligasi hijau.
Laporan IEEFA menyimpulkan bahwa desain kelembagaan Danantara menyediakan jalan untuk mengarahkan ekosistem BUMN menuju profitabilitas. Inisiatif strategis ini sejalan dengan Visi Indonesia Emas 2045 serta memperkuat upaya nasional dalam mencapai ketahanan energi dan target pertumbuhan ekonomi 8 persen.
Disarikan dari sumber resmi infopublik.id