Logo
Home Berita

Inflasi DKI Jakarta Melandai ke 0,21 Persen Pasca Idulfitri 2026

Oleh Redaksi 08 May 2026
Inflasi DKI Jakarta Melandai ke 0,21 Persen Pasca Idulfitri 2026
Inflasi DKI Jakarta Melandai ke 0,21 Persen Pasca Idulfitri 2026 — infopublik.id
Inflasi DKI Jakarta melandai ke angka 0,21 persen pada April 2026 pasca Idulfitri. Penurunan harga komoditas pangan menahan lonjakan tarif transportasi.

Provinsi DKI Jakarta mencatat angka inflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan pada April 2026 yang melandai signifikan pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan, melalui keterangan tertulis pada Rabu (6/5/2026). Penurunan inflasi ini sejalan dengan pola historis akibat normalisasi permintaan masyarakat, khususnya pada komoditas pangan.

Meskipun turun dari angka 0,51 persen pada bulan sebelumnya, inflasi DKI Jakarta masih sedikit lebih tinggi dibandingkan laju nasional yang berada di angka 0,13 persen. Secara tahunan, inflasi ibu kota negara ini tercatat sebesar 2,12 persen yang justru lebih rendah dari tingkat inflasi nasional sebesar 2,42 persen.

Iwan menjelaskan bahwa penyesuaian harga komoditas yang diatur pemerintah turut menahan laju penurunan inflasi yang lebih dalam. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi per 18 April 2026 serta melonjaknya biaya avtur menjadi salah satu faktor utamanya.

Dampak Geopolitik dan Kebijakan Pemerintah

Eskalasi geopolitik global antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel mendorong kenaikan harga energi dunia secara masif. Dampak ini secara langsung tercermin pada penyesuaian biaya tambahan bahan bakar angkutan udara pada awal April 2026. Merespons hal tersebut, pemerintah menetapkan insentif pajak pertambahan nilai (PPN) ditanggung pemerintah untuk tiket pesawat domestik kelas ekonomi mulai 25 April 2026.

Kelompok transportasi menyumbang inflasi sebesar 1,46 persen, naik dibandingkan angka 0,41 persen pada bulan sebelumnya. Namun, peningkatan ini tertahan oleh penurunan tarif angkutan antarkota akibat normalisasi permintaan pasca Idulfitri. Di sisi lain, kelompok penyediaan makanan dan restoran turut mencatat inflasi 0,88 persen akibat mahalnya harga bahan baku seperti minyak goreng, elpiji, dan kemasan plastik.

Deflasi Pangan dan Strategi Pengendalian

Normalisasi permintaan bahan pangan berhasil mendorong deflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,36 persen. Penurunan harga mayoritas terjadi pada daging ayam ras, cabai rawit, dan telur ayam yang ditopang oleh terjaganya pasokan dari sentra produksi. Kelompok perawatan pribadi juga mencatat deflasi 0,66 persen seiring dengan pelemahan harga emas perhiasan yang mengikuti koreksi harga global.

Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DKI Jakarta terus memperkuat stabilisasi harga melalui pelaksanaan pasar murah dan program pangan bersubsidi sepanjang bulan tersebut. Mereka juga secara aktif mengoptimalkan kegiatan pertanian perkotaan, menjalin kerja sama dengan daerah surplus, serta melancarkan distribusi pangan menggunakan truk keliling.

Langkah antisipasi jangka panjang juga disiapkan oleh TPID Jakarta guna menghadapi ancaman musim kemarau 2026. Sinergi difokuskan pada pengamanan pasokan beras, cabai, dan bawang merah melalui penjajakan perluasan kerja sama dengan sentra produksi di Jawa Tengah.

Iwan menegaskan bahwa strategi ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif (4K) akan terus diperkuat. Upaya lintas instansi ini diharapkan mampu mengendalikan inflasi Jakarta agar tetap berada dalam target sasaran 2,5±1 persen sepanjang tahun 2026 di tengah ancaman krisis global maupun cuaca ekstrem.

Disarikan dari sumber resmi infopublik.id

Penulis
Redaksi
Jurnalis kami menyajikan berita dengan akurat dan berimbang untuk Anda.
Bagikan:
Link berhasil disalin