Optimalkan Sumber Daya Domestik, Indonesia Peringkat Dua Ketahanan Energi Dunia
Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus memperkuat ketahanan energi guna mendukung swasembada yang menjadi visi Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pencapaian ini disampaikan langsung oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam agenda Apel Komandan Satuan TNI di Bogor pada Rabu (29/4).
Dalam arahannya, Bahlil mengungkapkan bahwa Indonesia kini dinilai sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik kedua di dunia. Prestasi membanggakan ini diraih meskipun dinamika geopolitik global tengah memengaruhi kelancaran pasokan energi di berbagai belahan negara.
"Di tengah ketidakpastian pasokan energi global, kita harus bersyukur. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia dinilai oleh JP Morgan sebagai negara terbaik kedua di dunia yang mempunyai ketahanan energi," ujar Bahlil.
Laporan JP Morgan dan Kekuatan Domestik
Peringkat bergengsi tersebut merujuk pada laporan Eye on the Market yang dirilis oleh JP Morgan Asset Management. Laporan itu menganalisis 52 negara konsumen energi terbesar yang mewakili sekitar 82 persen total konsumsi energi di dunia.
Berdasarkan analisis tersebut, Indonesia berada di posisi kedua, tepat di bawah Afrika Selatan. Posisi Indonesia ini sekaligus mengungguli Tiongkok yang harus puas menempati peringkat ketiga.
Indonesia dinilai sangat tangguh menghadapi krisis energi saat ini berkat tingginya produksi domestik minyak dan gas bumi (migas). Selain itu, besarnya produksi dan cadangan batu bara serta potensi energi baru dan terbarukan (EBT) turut menopang kemandirian energi nasional secara optimal.
Peningkatan Target Migas dan Penemuan Sumur Baru
Dari subsektor migas, ketahanan energi didukung oleh pencapaian lifting minyak yang ditargetkan dalam APBN 2025 sebesar 605 ribu barel per hari (bph). Target tersebut bahkan telah ditingkatkan menjadi 610 ribu bph untuk memaksimalkan produksi.
Pemerintah juga terus mendorong optimalisasi produksi melalui pemanfaatan teknologi lanjutan, reaktivasi sumur idle, serta eksplorasi potensi di wilayah Indonesia Timur. Salah satu hasil positifnya adalah penemuan sumber daya gas di sumur eksplorasi Geliga-1, Blok Ganal, lepas pantai Kalimantan Timur.
Sumur yang dioperasikan oleh ENI dan Sinopec itu diperkirakan menyimpan potensi gas sekitar 5 triliun kaki kubik (TCF) serta 300 juta barel kondensat. "Penemuan ini ekuivalen dengan 375 juta barel minyak dan ditargetkan mulai berproduksi pada 2028 hingga 2029," jelas Bahlil.
Strategi Penurunan Impor BBM dan LPG
Selain menggenjot produksi migas, pemerintah berupaya keras menekan impor Bahan Bakar Minyak (BBM). Langkah strategis ini ditempuh melalui pengembangan Biodiesel 50 persen (B50) yang ditargetkan berlaku secara nasional pada 1 Juli 2026.
Kebutuhan BBM jenis solar nasional diproyeksikan mencapai sekitar 40 juta kiloliter pada tahun 2026. Melalui implementasi B40 dan B50, Bahlil menegaskan bahwa Indonesia tidak akan lagi melakukan impor solar terhitung mulai tahun tersebut.
Upaya kemandirian energi juga diterapkan pada sektor Liquefied Petroleum Gas (LPG) dengan mengkaji bahan substitusi seperti Dimethyl Ether (DME) dan Compressed Natural Gas (CNG). Saat ini, CNG telah banyak dimanfaatkan oleh industri perhotelan, restoran, dan sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) menggunakan bahan baku dari dalam negeri.
Disarikan dari sumber resmi www.esdm.go.id