IDAI Dorong Imunisasi Masif Antisipasi Lonjakan Kasus Campak
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendorong pelaksanaan imunisasi yang lebih masif dan merata untuk mengantisipasi potensi lonjakan kasus campak. Langkah preventif ini diserukan menyusul prediksi peningkatan kasus campak di Indonesia yang berpotensi menempati peringkat kedua dunia pada 2026. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Satuan Tugas Imunisasi IDAI, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K), dalam Temu Jurnalis Pekan Imunisasi Sedunia di Jakarta pada Kamis (23/4/2026).
Menurut Hartono, tren kasus campak di Indonesia saat ini menunjukkan kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Pada tahun 2024, Indonesia tercatat masuk dalam daftar 10 besar negara dengan kasus campak terbanyak secara global. Jika tidak ada intervensi kuat, posisi Indonesia diperkirakan naik ke peringkat enam dunia pada 2025 dan peringkat kedua pada 2026.
Ancaman Penularan dan Komplikasi Serius
Campak merupakan penyakit menular dengan tingkat penyebaran yang sangat tinggi. Satu orang penderita bahkan dapat menularkan virus tersebut kepada 12 hingga 18 orang lainnya. Penularan ini dapat menjangkau puluhan orang dalam waktu singkat, terutama jika berada di ruang tertutup dengan ventilasi terbatas.
Selain penularannya yang masif, penyakit ini berisiko memicu komplikasi fatal, khususnya pada anak balita. Pneumonia atau radang paru merupakan salah satu komplikasi yang paling sering menyerang penderita campak dan menjadi penyebab utama kematian. Komplikasi berbahaya lainnya adalah radang otak (ensefalitis) yang dapat memicu kejang, penurunan kesadaran, hingga kelumpuhan dan kecacatan permanen.
Faktor Lingkungan dan Pencegahan Kolektif
Rendahnya cakupan imunisasi dan faktor perubahan iklim dinilai turut memperburuk ancaman penyebaran penyakit menular ini. Peningkatan suhu global memungkinkan virus maupun bakteri berkembang lebih cepat, ditambah dengan tingginya mobilitas manusia antarnegara. Fenomena serupa juga terlihat pada perluasan wilayah penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) ke area subtropis akibat perubahan suhu.
Sebagai upaya menekan risiko Kejadian Luar Biasa (KLB), pemerintah bersama tenaga kesehatan terus menggencarkan pemberian imunisasi dasar lengkap. Pembentukan kekebalan kelompok di masyarakat dinilai sangat krusial karena anak yang tidak diimunisasi dapat menjadi sumber penularan bagi sekitarnya.
Hartono juga mengajak seluruh elemen keluarga untuk berperan aktif memastikan anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal. Kolaborasi keluarga inti maupun besar dinilai menjadi kunci untuk mengatasi keraguan terhadap imunisasi sekaligus mencegah peningkatan penyakit seperti campak, polio, difteri, dan tetanus di Indonesia.
Disarikan dari sumber resmi infopublik.id