Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman Bangun Gerakan Konservasi Air
Sekolah Air Hujan Banyu Bening di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terus membangun gerakan konservasi air berbasis komunitas bersama berbagai elemen masyarakat. Pendiri Komunitas Banyu Bening, Sri Wahyuningsih, menyampaikan gerakan ini lahir dari keresahan atas eksploitasi air tanah dan minimnya kesadaran publik. "Kami ingin masyarakat memiliki lumbung air sendiri sehingga tidak terus bergantung pada air tanah,” ujarnya di Sleman, pada Selasa (12/5/2026).
Sejak berdiri pada 2012 dan diresmikan sebagai sekolah pada 9 September 2019, komunitas ini telah berkembang pesat. Banyu Bening mendapat dukungan dari Yayasan KEHATI, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga kementerian dan lembaga tingkat daerah. Berkat konsistensinya, mereka berhasil meraih KEHATI Award 2024 serta menjadi nominator Penghargaan Kalpataru tingkat nasional pada 2022.
Edukasi Karakter dan Penerapan Lumbung Air
Teknologi penampungan air hujan dan konsep lumbung air ala Banyu Bening kini telah diimplementasikan secara luas di Indonesia. Berbagai daerah yang telah mengadopsi inovasi lingkungan ini meliputi Gunungkidul, Samarinda, Pekalongan, Makassar, Minahasa, Bandung, hingga Surabaya.
Kepala Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Kamaludin, menjelaskan gerakan ini turut menggandeng sekolah, sanggar budaya, dan pesantren. Langkah kolaboratif tersebut bertujuan membangun pendidikan karakter anak di tengah derasnya arus dunia digital. Anak-anak diajarkan membiasakan gaya hidup ramah lingkungan sekaligus melestarikan budaya lokal dan semangat gotong royong.
Selain menjadi pusat edukasi, komunitas ini juga membuka ruang belajar bagi siapa saja yang ingin mengelola air hujan secara komunal. Seluruh kolaborasi antarpemangku kepentingan ini terus dirawat secara rutin melalui acara Kenduri Air Hujan. Kegiatan tersebut diselenggarakan setiap bulan September sekaligus memeringati hari lahir Komunitas Banyu Bening.
Disarikan dari sumber resmi infopublik.id