Kementan Tinjau Irigasi Rusak di Sukabumi untuk Antisipasi Kemarau Panjang
Kementerian Pertanian (Kementan) bergerak cepat meninjau saluran irigasi yang rusak di Desa Wangunreja, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada Selasa (5/5/2026). Langkah ini dilakukan untuk mempercepat perbaikan infrastruktur pertanian guna mengantisipasi ancaman musim kemarau panjang yang diprediksi mulai bulan Mei.
Laporan mengenai peninjauan tersebut disampaikan secara resmi di Jakarta pada Rabu (6/5/2026) oleh Kepala Pusat Pelindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) Kementan, Leli Nuryati. Ia menyatakan bahwa kerusakan irigasi akibat bencana longsor pada akhir tahun sebelumnya menyebabkan pendangkalan dan terhambatnya aliran air ke persawahan warga.
"Tujuan kita ke sini adalah mengecek langsung mengenai surat yang disampaikan Kepala Desa Wangunreja. Dilaporkan ada beberapa titik saluran irigasi yang rusak sehingga menyebabkan air irigasi ke sawah tidak lancar," ujar Leli yang juga menjabat sebagai Penanggung Jawab Swasembada Berkelanjutan Kabupaten Sukabumi.
Dampak Kerusakan pada Lahan Pertanian
Berdasarkan laporan Pemerintah Desa Wangunreja, kerusakan saluran irigasi primer berdampak sangat serius terhadap penyusutan luasan lahan sawah produktif. Potensi tanam dari luas baku sawah (LBS) sebesar 322 hektare kini hanya dapat ditanami 128 hektare, yang berarti petani kehilangan lahan operasi mencapai 194 hektare atau sekitar 61,25 persen.
Selain penyusutan lahan, Indeks Pertanaman (IP) padi di desa tersebut juga mengalami penurunan yang signifikan. Sebelum bencana terjadi, petani dapat menanam padi hingga tiga kali setahun (IP 300), namun setelah fasilitas irigasi rusak frekuensi tanam menyusut menjadi dua kali (IP 200).
Leli menegaskan, sesuai arahan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, perbaikan saluran pengairan ini bersifat sangat mendesak. Seluruh jajaran Kementan telah diperintahkan untuk segera berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan demi memastikan ketersediaan air dan keberlangsungan produksi padi unggulan.
Tindak Lanjut dan Rencana Perbaikan Infrastruktur
Kepala Desa Wangunreja, Ganda Permana, mengapresiasi respons cepat Kementan atas usulan perbaikan fasilitas irigasi yang rusak akibat bencana longsor pada 28 Desember 2025 tersebut. Pihaknya kini berharap ada bantuan normalisasi sedimen sepanjang 12 kilometer menggunakan alat berat, serta pengadaan gorong-gorong maupun tanggul penahan tanah.
Sementara itu, Kepala Satuan Unit Pelayanan Cimandiri-Cibareno Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jawa Barat, Dhani Erawan, menyebutkan bahwa penanggulangan sementara telah dijalankan sejak awal 2026. Pihaknya mengerahkan alat berat berkapasitas kecil dan menggunakan plastik geomembran agar air tetap bisa mengairi persawahan, meski debitnya belum maksimal.
"Untuk penanggulangan permanen, kami sudah mengajukan perbaikan melalui Inpres Nomor 2, tetapi titik kerusakan tersebut belum tercakup dalam Desain Teknik Rinci (DED). Kami terus mengupayakan DED mandiri dan menunggu persetujuan anggaran melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum," jelas Dhani.
Kunjungan peninjauan ini diakhiri dengan kesepakatan tindak lanjut yang mencakup pendataan area serta pelaporan alih fungsi lahan kepada Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi. Selain itu, setiap instansi terkait berkomitmen untuk berkoordinasi lebih intensif dalam perencanaan luas dan pola tanam guna menyukseskan program swasembada pangan 2026.
Disarikan dari sumber resmi infopublik.id