Kepala BGN Dorong Kampus Bangun SPPG untuk Ekosistem Ekonomi Lokal
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mendorong perguruan tinggi untuk membangun dan mengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara mandiri. Ajakan tersebut disampaikannya dalam Forum U25 Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) yang dihadiri para rektor dari 24 kampus di Makassar pada Selasa (28/4). Kehadiran SPPG ini diharapkan dapat menggerakkan ekosistem gizi dan ekonomi lokal terintegrasi melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Dadan, program MBG mulai menunjukkan efek domino yang meluas ke sektor pendidikan dan ekonomi produktif. Kampus dinilai memiliki peran strategis untuk menjadikan SPPG sebagai pusat pembelajaran berbasis proyek nyata. "Minimal punya satu SPPG dulu, dan kalau bisa pasokannya berasal dari civitas akademika sendiri," ujar Dadan kepada para peserta forum.
Simpul Rantai Pasok Pangan
Lebih lanjut, Dadan menjelaskan bahwa satu unit SPPG bukan sekadar dapur penyedia makanan bergizi bagi masyarakat. Fasilitas ini juga berperan sebagai simpul ekonomi daerah yang membutuhkan dukungan produksi pangan dalam jumlah yang sangat besar.
Untuk memenuhi kebutuhan harian satu unit SPPG, dibutuhkan setidaknya 8 hektare lahan sawah sebagai suplai beras dan sekitar 19 hektare lahan jagung untuk pakan ternak. Selain itu, sektor peternakan juga membutuhkan sekitar 3.700 hingga 4.000 ekor ayam petelur demi memastikan ketersediaan pasokan protein hewani setiap hari.
Laboratorium Hidup Mahasiswa dan UMKM
Kebutuhan pasokan pangan yang besar membuka peluang bagi kampus untuk mengintegrasikan kegiatan akademik dengan praktik lapangan. Mahasiswa dapat dilibatkan secara langsung dalam manajemen pengelolaan pertanian, peternakan, hingga distribusi pangan dari hulu ke hilir.
Dadan juga menekankan bahwa SPPG dapat menjadi laboratorium hidup bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan riset inovasi teknologi dan pengolahan pangan. Integrasi sistem ini sekaligus memungkinkan terwujudnya kolaborasi erat antara pihak kampus, petani, peternak, dan pelaku UMKM lokal.
Program MBG diyakini tidak hanya menciptakan permintaan pasar yang stabil, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas produksi secara nyata di tingkat daerah. "SPPG ini menjadi offtaker terdepan bagi produk-produk lokal, jadi bukan hanya soal memberi makan, tapi menciptakan ekosistem ekonomi berkelanjutan," tegas Dadan.
Disarikan dari sumber resmi www.bgn.go.id