Kemendikdasmen Dorong Kolaborasi Wujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman
DEPOK — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat upaya mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan berpihak pada murid di seluruh Indonesia. Hal ini ditegaskan dalam webinar yang digelar Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) di Depok pada Selasa (21/4/2026), yang menyoroti pentingnya kolaborasi ekosistem pendidikan untuk ruang belajar yang berkualitas.
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menyatakan bahwa setiap anak Indonesia berhak memperoleh layanan pendidikan bermutu sekaligus menjamin rasa aman dalam proses belajarnya. Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang tumbuh yang secara aktif membangun karakter, nilai, dan kesejahteraan murid secara menyeluruh.
Kebijakan budaya sekolah aman dan nyaman ini mencakup empat dimensi utama. Keempat dimensi tersebut adalah pemenuhan kebutuhan spiritual, perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis dan sosiokultural, serta keamanan dalam ruang digital.
Keterlibatan Lintas Pihak dan Prinsip Inklusif
Staf Khusus Menteri Bidang Pendidikan Inklusif Kemendikdasmen, Rita Pranawati, menjelaskan bahwa kebijakan ini dibangun berdasarkan sembilan prinsip utama. Beberapa di antaranya meliputi pendekatan humanis, non-diskriminatif, inklusif, dan berkelanjutan.
Rita menegaskan, prinsip-prinsip ini wajib diterapkan dalam praktik sehari-hari, bukan sekadar menjadi konsep di atas kertas. Keterlibatan aktif murid juga didorong dalam penyusunan aturan sekolah dan penguatan komunikasi melalui gerakan Rukun Sama Teman.
Pendidikan bermutu untuk semua hanya dapat terwujud dalam lingkungan yang memuliakan martabat kemanusiaan. Oleh karena itu, perwujudan budaya sekolah ini membutuhkan kerja sama agar setiap murid dapat tumbuh dan belajar secara optimal.
Deteksi Dini dan Praktik Langsung di Sekolah
Kepala Puspeka, Rusprita Putri Utami, menyoroti pentingnya langkah deteksi dini terhadap potensi risiko di lingkungan pendidikan. Sekolah diminta untuk mengenali karakteristik murid dan memetakan titik rawan agar masalah dapat dicegah sejak awal.
Selain itu, keteladanan dari guru dan tenaga kependidikan menjadi fondasi utama dalam membangun budaya positif. Warga sekolah didorong untuk mulai dari diri sendiri dalam menciptakan lingkungan yang aman tanpa perlu menunggu situasi yang sempurna.
Sebagai contoh implementasi, Kepala SD Islam Al-Alaq, Zulfa Maulidah, membagikan praktik penerapan budaya aman di sekolahnya. Setiap hari, peserta didik diajak memulai aktivitas dengan kegiatan spiritual, refleksi diri, dan penanaman kepedulian sosial tanpa diskriminasi.
Sekolah tersebut juga menerapkan zona aman, simulasi kebencanaan, aturan teknologi digital, hingga sistem deteksi dini berbasis kedekatan guru dan murid. Melalui pendekatan kolaboratif ini, pemerintah berharap satuan pendidikan mampu mendukung tumbuh kembang anak secara maksimal.
Disarikan dari sumber resmi infopublik.id