Logo
Home Berita

Harga Plastik Melonjak dan Krisis Sampah, Galon Guna Ulang Jadi Solusi Alternatif

Oleh Redaksi 14 Apr 2026
Harga Plastik Melonjak dan Krisis Sampah, Galon Guna Ulang Jadi Solusi Alternatif
Harga Plastik Melonjak dan Krisis Sampah, Galon Guna Ulang Jadi Solusi Alternatif — infopublik.id
Lonjakan harga plastik dan krisis sampah di Indonesia mendorong masyarakat serta UMKM beralih menggunakan galon guna ulang yang dinilai lebih hemat.

Lonjakan harga bahan baku plastik global hingga 100 persen pada April 2026 serta krisis pengelolaan sampah di Indonesia mendorong masyarakat dan pelaku usaha, termasuk UMKM, untuk mencari alternatif. Kemasan ramah lingkungan, khususnya galon guna ulang, kini menjadi solusi utama di berbagai daerah karena dinilai lebih hemat dan minim limbah.

Kenaikan harga plastik ini dipicu oleh tekanan harga minyak, gangguan rantai pasok, dan ketidakpastian geopolitik. Dampaknya dirasakan langsung oleh industri manufaktur, produsen makanan, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Krisis Sampah Plastik Meningkat

Di sisi lain, pemerintah pusat dan daerah tengah menghadapi masalah volume sampah yang terus meningkat. Pertumbuhan penduduk dan tingginya tingkat konsumsi menjadi faktor utama masalah lingkungan tersebut.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbunan sampah plastik konsisten melonjak. Pada 2019, tercatat ada 9–10 juta ton sampah plastik dan diperkirakan akan mencapai 12,4 juta ton pada 2025.

Artinya, timbunan sampah plastik meningkat sekitar 20–30 persen dalam lima tahun terakhir. Sayangnya, data SIPSN juga menyebutkan bahwa pengelolaan sampah di Indonesia baru mencapai 25 persen, sementara 75 persen sisanya belum terkelola dengan baik.

Galon Guna Ulang Sebagai Alternatif

Di tengah kompleksitas ini, kemasan guna ulang untuk kebutuhan rumah tangga menjadi pilihan karena harganya cenderung stabil. Penggunaan galon isi ulang dinilai lebih hemat dan ramah lingkungan dibandingkan kemasan sekali pakai.

Praktisi Komunikasi dan Dosen Polimedia, Andre Donas, menyebut konsumen tetap memilih galon guna ulang dalam aktivitas sehari-hari. "Konsumen saat ini tidak hanya ingin air minum yang aman, tetapi juga memberikan dampak bagi lingkungan," ujarnya, Senin (13/4/2026).

Tren serupa terlihat dari survei Pusat Riset Konsumen Ganesha (PRKG) di wilayah Jakarta, Bekasi, Depok, dan Tangerang. Peneliti Senior PRKG, Aan Rusdianto, mengungkapkan tingkat pemakaian galon guna ulang di kawasan tersebut mencapai 89,36 persen.

"Sementara hanya 5,32 persen yang masih menggunakan galon sekali pakai. Alasan mereka memakai galon guna ulang karena aman, praktis, tidak menimbulkan sampah tambahan, dan minim keluhan," jelas Aan memaparkan hasil surveinya.

Upaya Pemerintah dan UMKM

Lonjakan harga plastik yang dinilai mencapai 50 hingga 100 persen ini juga membuat para pedagang mencari alternatif kemasan pangan. Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merespons dengan mendampingi pelaku UMKM agar beralih ke kemasan ramah lingkungan.

Langkah pendampingan ini mencakup skema pembelian kolektif langsung ke produsen lokal untuk memotong rantai distribusi. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Yuna Pancawati, juga mendorong pemanfaatan bahan serat alam lokal untuk pengemasan.

"Kami mendorong penggunaan kemasan berbasis kearifan lokal seperti serat mendong, pandan, dan kelapa yang melimpah di DIY sebagai pengganti plastik pelapis atau wadah," pungkas Yuna.

Disarikan dari sumber resmi infopublik.id

Penulis
Redaksi
Jurnalis kami menyajikan berita dengan akurat dan berimbang untuk Anda.
Bagikan:
Link berhasil disalin